Pengalaman Menjaga Bayi

Pengalaman menjaga bayi ini membuat aku menjadi tidak mau berada dirumah ketika sendirian. Ini kisahnya, sudah sejak dari aku duduk di bangku sekolah menengah, aku tinggal dirumah kakak karena dekat dengan sekolah. Sekarang aku sudah lulus SMA, namun aku belum melanjutkan sekolah karena satu dan banyak hal sampai akhirnya aku memutuskan untuk menetap dulu, mungkin sambil mencari pekerjaan.

Karena aku juga tidak selalu ingin menyusahkan kakak. Dia juga telah mempunyai seorang bayi kecil yang namanya gian. Gian baru berumur 1 setengah tahun, kalau dilihat sih lagi lucu-lucunya. Hari-hari kosong aku isi bermain bersama gian hingga sampailah pada hari itu dimana kakak harus pergi ke rumah sakit karena ibu dan istrinya masuk UGD. Aku pun ditugaskan untuk menjaga gian dirumah kakak ini.

Awalnya aku menolak karena takut berada dirumah malam-malam begini, apalagi ini malam jumat. Tapi aku malah dimarahi dan akhirnya sekitar jam 9 malam, kakak pergi dan aku pun terpaksa menjaga rumah ini. Sekarang aku hanya berdua dengan gian, malam itu jam menunjukan pukul 9:30 malam. Gian saat itu menangis, sehingga aku harus menggendongnya terus. Selama aku tinggal disini, baru sekarang aku berada dirumah sendirian.

Aku memang seorang penakut dan selalu berpikiran hal-hal aneh. Belum lagi cerita-cerita yang kerap terdengar mengenai rumah ini, aku pun berjalan-jalan diruang tengah rumah ini dekat dengan pintu keluar. Susu gian habis, membuatku harus membuatkannya susu lagi. Dari ruang tengah menuju ke dapur dengan segala keberanianku sampailah aku didapur dan mulai membuatkan susu sampai. Terdengar suara pintu terbuka.

Sontak dengan nada kencang dan penasaran aku berteriak “kak, sudah pulang kak?” namun tidak ada jawaban. Aku pun segera membuatkan susu, tangan kiri menggendong gian dan tangan kanan sibuk membuat susu, tiba-tiba astaga aku mendengar lagi suara pintu terbuka, “ka, sudah pulang ka?” kembali lagi tidak ada jawaban.

Susu pun selesai aku buat, gian memulai meminum susu. aku pun berjalan keluar dapur sambil melihat kiri dan kanan untuk memastikan tidak ada apa-apa. Tiba-tiba terdengar suara boneka mainan keponakanku ini yang berasal dari lantai 2. Aku masih mengira itu kakak, aku pun naik ke lantai 2 dan aku melihat. Pintu kamar keponakanku itu tertutup dengan kunci yang masih menggantung diluar pintu.

Saat aku membuka pintu, “masih terkunci” dari dalam kamar masih terdengar suara boneka mainan itu. Aku pun membuka kunci pintu itu dan seketika suara boneka itu pun mati. Aku melihat sebuah boneka perempuan yang berada di rak mainan, aku coba gerakan boneka ini tapi tidak bersuara. Aku pun menyimpan kembali boneka itu di rak mainan, aku coba menyelipkannya namun karena terlalu memaksa akhirnya mainan gian jadi jatuh semua.

Aku memasukan gian kedalam buaian tempat tidurnya dan mulai membereskan mainannya. Lalu gian tertawa ketika melihatku membereskan mainannya. Tapi ternyata, gian tidak melihat atau tertawa kearah ku. Gian menertawakan sesuatu yang berada dibelakangku. Jari gian terlihat menunjuk sesuatu dibelakangku, gian masih saja tertawa seperti sedang berinteraksi.

Sambil melihat gian yang tertawa aku bertanya “dede gian, ada siapa disitu. Ada siapa dibelakang om?”. Gian menatap lalu telunjuknya menunjuk sesuatu dibelakangku, perlahan aku memberanikan diri untuk melihat kebelakang. Tapi tidak ada siapa-siapa, jantungku mulai berdegup aku mulai merasa seluruh tubuhku menjadi dingin dan wajahku serasa pucat. Aku pun terus membereskan mainan yang berserakan, ketika aku mengambil sebuah mainan, tangan ini seperti tangan anak kecil.

loading...

Tangan itu sekarang mulai bergerak-gerak dan terlepas dari genggamanku. Kini tangan itu terasa menyentuh pipiku, jelas terasa tangannya dingin sekali. Tangan itu menarik wajahku untuk menghadap kedepan sampai aku melihat sebuah sosok yang menyeramkan. Sesosok anak kecil dengan lubang hitam tanpa kedua bola mata dan kedua tangannya itu memegang pipiku.

Anak kecil itu terlihat hitam dan dia seperti tersenyum kepadaku seakan berkata sesuatu. Saat terdengar jelas dia berkata “main yuk”. Aku langsung keluar kamar kebawah dan sampai akhirnya berada dihalaman depan rumah. Jantungku bergetar kencang, samar-samar terdengar suara tangisan bayi sepertinya gian menangis dari lantai atas. Karena ketakutan aku pun sampai lupa membawa gian.

Hingga akhirnya kakak datang, begitu sampai kakak langsung memarahi aku karena meninggalkan bayi yang masih kecil sendirian diatas. Aku pun mencoba menjelaskan kepada kakak kalau tadi aku bertemu hantu anak kecil. Namun kakak terkesan tidak percaya dan kembali menyalahkanku, sampai akhirnya gian pun tenang dan mulai tertidur.

Aku duduk diruang tengah, lalu kakak datang dan meminta maaf dan bercerita bahwa memang hantu anak kecil itu sering terlihat muncul sekitar sini dan suka mengajak main apalagi dengan bayi yang masih kecil. Belum jelas siapa dan kenapa anak itu meninggal, yang pasti sampai detik ini aku tidak berani lagi berada dirumah sendirian.

KCH

KCH

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

KCH has write 2,681 posts

loading...