Pengalaman Nyata Saat Acara Hajatan

Assalamualaikum reader dan author KCH. Selamat hari raya idul fitri, dwi mohon maaf lahir dan batin untuk semua penghuni KCH tanpa terkecuali. Buat kAk jhon terima kasih sudah publish cerita dwi yang mungkin ada yang menunggu atau bosan, *hehe.

Cerita kali ini, dwi terinspirasi dari ceritanya adymas art yang baru semalam Aku baca. Sorry ya all, baru sempat masuk baca KCH, karena urusan dan kesibukan. Cerita ady yang berjudul “air yang mendidih tapi kok masih terasa dingin” telah mengingatkanku kejadian serupa. Yaitu dimana ketika ibuku sedang memasak nasi dibeberapa acara hajatan. Jika ada warga atau saudara yang hajatan, ibuku selalu di undang/membantu masak dibagian khusus, yaitu adang/memasak nasi.

Itu sebabnya profesi ibuku sangat diminati para empunya hajat dimanapun berada, tidak jarang ibuku mengalami keganjilan atau hal aneh ketika menjalani pekerjaannya ditempat empunya hajat. Bahkan dwi juga pernah ikut menyaksikan gejala aneh ketika ikut membantu ibu waktu ada hajatan ditempat saudara.

loading...

Nah, apa kalian tahu? Jika ada yang punya hajat, di desa dwi sudah punya aturannya. Dari pada acara kagak lancar seperti dicerita adymas art, malah jadi bahan omongan (ya tahu sendirilah mulut harimau/gosip, *hehe). Untuk itu, disetiap yang punya hajat diberitahu oleh ibuku dan tentunya oleh dukun/paranormal setempat yang sengaja diundang oleh empunya hajat.

Jika menjelang acara hari H, atau 2 hari sebelum acara hari H. Si empunya hajat wajib memberi komar/komaran (isinya berupa beras seikhlasnya empunya hajat, jenis sambelan/rempah-rempah, telur, aneka sayur mayur, rokok, bunga 3-7 rupa dan sejumlah uang seikhlasnya empunya hajat). Nah komaran itu dibawa kerumah tukang adang/masak nasi dengan wadah baskom.

Jika tidak melakukan itu alias yang punya hajat pelit, maka yang terjadi adalah seperti dicerita adymas art. Nasinya tidak akan matang walaupun hari sudah siang. Pernah dwi melihatnya dan bukan rekayasa. Waktu itu dwi bantuin ibu karena dihajatan tempat bude. Dan akan memasak buat kirim nasi/punjungan kepada warga undangan. Namun sudah hampir jam 9 pagi belum juga masak tuh nasi.

Jadi semakin kesal ibuku dibuatnya, lalu meminta bude untuk mengundang mbah T/paranormal buat ngasih doa. Akhirnya datanglah mbah T, lalu dia segera menuju tempat ibuku memasak. Tidak berpikir lama mbah T membaca mantra dan menyiramkan sesuatu ditungku api. Lalu berkata “sudah, sudah pergi semua, yang jagain tungku” kata mbah T. Sontak kami yang berada disitu terkejut. Dan aku juga tersinggung, karena aku juga jagain tungku, *hehe.

Tapi setelah dijelaskan mbah T bahwa yang jagain tungku ibuku itu adalah makhluk tak kasat mata, yang kerjaannya menjahili ketika hajatan, barulah dwi lega, *hehe. Kata mbah T yang jagain kali ini adalah seorang anak kecil, tepat disampingku/depan tungku dan satunya lagi adalah miss kunti yang berada didepanku/belakang tungku. Lalu ibu diberi garam sisa oleh mbah T untuk menaburi sekeliling tungkunya.

Dan plastiknya dibakar, supaya meraka takut terkena cipratan garam yang terbakar. Begitupun aku, aku juga pergi saat ibu memasukan plastik garam ke tungku, *hehe. Dan setelah itu barulah tidak berapa lama nasi pun matang. Dan mbah T memberi garam, uang dan nasihat kepada ibuku, supaya menaburkan garam ke atap terpal/genting empunya hajat, jika mbah T sudah pulang dan kondisi mendung. Itu juga guna untuk pawang hujan/nyarang.

Namun pengalaman ibuku bukan cuma itu saja, masih banyak diacara hajatan lain, ya karena sudah pekerjaan jadi ibu sudah terbiasa, dan jika ada cerita ibu selalu bilang padaku. Jadi dwi tahu tentang begituan, *hehe. Demikianlah cerita dari dwi hari ini. Percaya atau tidak itu terserah anda para pembaca. Karena begitulah adanya. Ok sekian dan terima kasih, wassalam.

Dwy Dwi Dandwi

Dwy Dwi Dandwi

Jangan baca ini sendirian ya... :D by: penulis amburadul horor dari lampung tengah.

All post by:

Dwy Dwi Dandwi has write 118 posts

loading...