Pengalaman Saat di Tasikmalaya Part 2

Hai reader kembali lagi nih, si dwi yang imut alias amit-amit akan melanjutkan cerita pengalaman saat di Tasikmalaya. Langsung kita ke TKP. Uwa dan anak perempuannya yang paling besar menyiapkan hidangan sore yang enak berasal dari empang yaitu ikan nila dan tidak lupa daging menthok/itik (sejenis bebek).

Semua orang yang berada disitu pada melahapnya terkecuali dwi, karena dwi bersih-bersih badan dulu karena risih (katanya kalau kesorean mandi airnya akan dingin sedingin es). Singkat cerita, setelah menyantap semuanya, maghrib pun tiba. Suami, dan para adik ipar beserta sopir akan pergi ke atas (maksudnya samping rumah uwa kan gunung dan banyak rumah di atas sana, *hehe).

Mereka akan berkunjung ke kiyai yang punya pondok pesantren di atas sana dekat masjid utama (katanya). Jadi hanya aku, fadly, istri adik ipar beserta 2 anaknya dan adik ipar perempuan paling kecil yang ditinggal di rumah uwa. “Bosan deh kayaknya di tinggal di pedesaan terpencil yang sepi ini malam-malam” pikirku. Eh ternyata perkiraanku salah, setelah mereka pergi dan aku keluar untuk duduk di teras rumah.

Ternyata tetangga uwa yang rumahnya berseberangan dengan sawah samping rumah uwa berkisar 100 meter sedang menancapkan sesuatu di tengah sawah. Itu sebuah kain putih yang di gunakan untuk melihat gambar layar tancap. Ku tanya pada anak uwa yang duduk di kursi sebelahku “ada apaan itu kok di pasang disana, apa menyambut kedatanganku ya?” (Bercanda pede, *hehe).

Lalu uwa rum datang dari balik pintu sambil menyahut. “Itu mah biasa, setiap setahun sekali pasti anaknya tetangga yang kerja di kota itu ngadain pertunjukan layar tancap, neng” kata uwa rum. “Oh, jadi anaknya dari kota sedang mudik ya” kataku. Malam itu terang bulan, dan suara layar tancap nyaring di telinga beserta suara-suara alam, disana film favorit orang tasik adalah film Rhoma irama.

Karena dwi bosan dan mengantuk karena belum ramai, akhirnya dwi masuk dan bergabung dengan adik ipar dan lainnya yang di dalam. Tapi sayang, setelah masuk malah tidak mengantuk, akhirnya nonton televisi sambil dengarin lagu rhoma yang terdengar dari layar tancap. Pas suami dan lainnya pulang katanya di luar dan di jalan arah mau masuk ke rumah banyak pemuda dan orang-orang menonton (katanya).

Karena penasaran dwi keluar untuk sekedar mengecek. Dan ternyata memang benar “disini sudah biasa, kalau ada hiburan, yang rumahnya jauh pada datang demi lihat hiburan beginian, tidak peduli jalan yang susah, kalau tempat kita ya malah sepi, tambah malam tambah sepi, beda kalau disini” kata istri adik iparku. Aku pun hanya menggelengkan kepala lalu tidur lagi.

Keesokan paginya, aku penasaran dengan surau/mushola kecil yang berada di tengah sawah dekat empang dan berjarak berkisar 50 meter dari rumah uwa. Ternyata dalam surau itu bersih dan masih di gunakan. Akhirnya aku, fadly dan keponakan beserta adik ipar yang paling kecil bermain di empang (ah melanjutkan masa kecil yang kurang bahagia, *hehe).

Setelah itu di ajak ipar naik gunung dengan jalan setapak yang kecil dan licin karena dari tanah. Banyak pohon manggis disana sini dan sampailah di atas yang banyak rumahnya. Tapi ada 1 rumah panggung yang kosong sengaja di tinggal empunya. Keponakanku yang berusia 10 tahun ini terkenal aktif dan pemberani, jadi dia mendekati rumah kosong yang seram itu.

Karena tidak ingin terjadi apa-apa, ku panggil dia dan memarahinya bahwa “tidak sopan mengintip-ngintip rumah orang” kataku. Lalu terdengar suara jatuh dari dalam rumah kosong itu, kami semua yang mendengarnya langsung lari menuju rumah warga yang lain.sambil membahas rumah itu. Lalu kami melanjutkan perjalanan menuju arah pulang. Karena aku tidak mau lewat jalan setapak tadi akhirnya kami lewat jalan memutar dan melewati jalan utama yang terkenal curam dan banyak kendaraan yang kecelakaan disana.

Jalannya sih terlihat mulus walau pun dari tanah dan batu kerikil kecil. Tapi di tepi ada jurang dan rimbunan pohon bambu. Dan di pertigaan jalan ini posisi berkelok tajam. Pemandangan tertutup oleh pohon dan gunung. Aku pun mengamati tempat itu, tiba-tiba istri adik iparku menepuk bahuku untuk tidak melamun di area sini, karena tepat aku berdiri ini sering terjadi tabrakan maut, katanya.

Aku pun tersadar dan kemudian berhenti di pinggir jalan yang ada warungnya untuk membeli minum (maklum kehausan karena jalan naik turun, *hehe). Ini warung cuma satu-satunya di daerah sini dan satunya lagi berada di dekat rumah uwa yang semalam bikin acara layar tancap. Jadi tidak ada lagi tempat mencari bahan makanan lain selain 2 warung yang jauh ini (busyet dah *miris amat).

Pas kami mau melanjutkan berjalan pulang, adik ipar cerita lagi “dulu di bambu ini ada sebuah tangan yang tertinggal dari korban kecelakaan, karena posisinya malam jadi pas ketemu 3 hari berikutnya karena tidak ketemu selama di cari-cari” katanya lagi.

Aku hanya mendengarkannya seolah tak percaya. Tapi ketika melihat jurang itu aku mulai sedikit percaya. “Dan demi mengetahui kebenarannya nanti aku akan bertanya pada uwa saja” pikirku. Bersambung ke pengalaman saat di Tasikmalaya part 3.

loading...
Dwy Dwi Dandwi

Dwy dwi dandwi

Jangan baca ini sendirian ya... :D by: penulis amburadul horor dari lampung tengah.

All post by:

Dwy dwi dandwi has write 118 posts