Pengalaman Saat di Tasikmalaya Part 3

Cerita sebelumnya pengalaman saat di Tasikmalaya part 2. *Argh akal sehat macam apa ini, mungkin butuh waktu untuk percaya. Tibalah kami di rumah uwa, ku cari-cari uwa rum di dalam rumah, tapi tidak ketemu. Alhasil hanya ada anak-anak uwa dan cucunya. Teh yani adalah anak ke 2 uwa, aku bertanya padanya dimana uwa rum dan suaminya. Ternyata mereka ada di sawah sedang memupuk padi organik (di tasik mayoritas beras organik/memakai pupuk alami). Karena rasa penasaranku yang membara akhirnya aku bertanya saja pada teh yani dan anaknya yang jahil ini.

Aku: “teh tahu gak, tikungan di atas sana? Apa benar tikungan itu angker?”
Teh yani: “ah kata saha (ah kata siapa)”.
(Anaknya teh yani yang usil bernama iwan pun ikutan nimbrung).
Iwan: “ah, emak mah nteu nyaho (ah, ibu tidak tahu). Iya teh dwi, disana bukan cuma angker, tapi banyak pengganggunya. Baru kemarin 3 hari sebelum teteh kesini ada mobil tabrakan dengan mobil, untung tidak ada korban jiwa”.

loading...

Teh yani: “aih kamu mah, cerita segala, biar mereka betah disini malah diceritain yang seram-seram, dasar borokokok”
Iwan: “*hehe, tetehnya kan nanya, jadi ya di jawab atuh mak”.
Aku: “sudah, gak apa-apa teh, lagian saya kan penasaran, oh iya tadi waktu saya dan lainnya jalan-jalan ke atas, nah disana ada rumah kosong, apa itu rumah teteh ya?”

Teh yani: “iya neng, rumahnya di biarkan kosong sudah setahun, karena keluarga teteh pindah di rumah adik di suruh nempatin”.
Aku: “oh, jadi sudah kosong, terus yang tempati rumah teteh siapa? Tadi waktu lewat depan rumah ada suara benda jatuh”.
Teh yani: “aih tidak ada siapa-siapa atuh neng, malah tidak ada barang satu pun disana yang tertinggal, mungkin salah dengar kali”.
Aku: “enggak kok teh, malahan kami dengar semua dan langsung lari”.

Lalu teh yani dan iwan terdiam, kemudian teh yani pamitan untuk ke atas karena belum bersih-bersih rumah. Iwan pun mengajak ngobrol lain untuk tidak membahasnya. Sore pun tiba, semua sudah pada kumpul di rumah, ada yang di ruang tamu dan di belakang. Aku di belakang bersama teh yani beserta uwa dan iwan. Kemudian aku mulai ingin BAB.

Aku: “uwa, tempat buang air besarnya dimana ya?”.
Uwa: “oh di sana neng, di empang”.
Aku: “apa! Di empang yang ada ikan nilanya itu?”.
(Iwan pun cengengesan dan uwa beserta teh yani juga).
Iwan: “kalau disini jarang ada toilet teh, adanya empang, dan MCK.

(Aku hanya bengong sambil bergumam).
Aku: “busyet, jadi ikan yang kemarin aku makan itu?”.
(Iwan pun malah tertawa keras, dan uwa hanya tersenyum).
Teh yani: “tapi enak kan? Dan gak kenapa-kenapa kan? Malah sehat itu bervitamin”.

Ah, tidak habis pikir ternyata yang ku makan kemarin adalah nila empang yang makan sisa kotoran manusia, *hii. Tanpa pikir panjang karena kebelet aku menghampiri empang yang dekat dengan bangunan mushola kecil itu. Belum selesai malah keponakan dan adik ipar menghampiri, sontak aku marah-marah supaya jangan mengintip karena banyak lubang dari penutup MCKnya.

Singkat cerita, maghrib pun tiba, aku masih di luar rumah belakang dan memandangi bangunan mushola kecil itu. Tiba-tiba ada seorang laki-laki paruh baya memakai baju gamis hitam panjang sampai kaki. Dia melihat dan menatapku dari jauh, ku kira itu tetangga uwa yang akan shalat di mushola itu. Setelah adzan dan selesai waktu shalat, tiba-tiba aku melihat adik iparku dari mushola itu bersama suami uwa memakai baju gamis putih semua. Karena aku tidak melihat orang yang tadi akhirnya aku bertanya padanya.

Aku: “lho kamu shalat disana cuma berdua sama uwa? Lha terus orang yang memakai gamis hitam kemana?”.
Adik ipar: “ah gak ada siapa-siapa, cuma aku dan uwa saja tuh”.
(Sontak aku terkejut, dan istri adik iparku yang duduk di sampingku berkata).
Istri ipar: “itu mah sudah biasa, aku juga pernah di lihatin, mungkin dia ingin kenalan sama kamu mba, *hehe”.
Istri ipar: “dulu memang ada tetangga uwa yang sering shalat disitu, tapi karena tidak pulang-pulang dan di cari oleh keluarganya ternyata dia sudah meninggal dalam keadaan sujud di mushola kecil itu”.

Aku pun hanya terdiam, dan setelah itu aku keluar duduk di teras melihat kunang-kunang yang tidak ada di tempat tinggalku. Aku melihat ada orang sedang berjalan di area empang seperti 2 bayangan. Karena malas menanggapi akhirnya aku masuk dan menonton televisi. Esoknya kami pergi ke acara pesta pernikahan di desa lain, karena ada karyawan abah yang anaknya sedang menikah. Saya terkesan dengan adat disana banyak makanan yang di pajang hingga acara akad nikah (jadi cuma *ngiler melihat saja ya, *hehe), tapi kami di suguhi makanan lain yang tak kalah enak.

Padahal baru 2 jam kami di tempat itu, tapi perjalanan ke rumah uwa hingga 3/4 jam jadi malam sampainya. Karena ayu (adik ipar yang sudah gadis) merengek ingin pulang karena kangen sama ibu. Jadi terpaksa kami pulang jam 11 malam setelah 3 jam di rumah uwa. Karena mendadak sehingga uwa menangis sejadi-jadinya, entah menangis karena apa.

Setelah berpamitan dan menghibur uwa kami berangkat. Sampai di Bandung jam 3 pagi karena macet 1 jam dan berhenti membeli peyeum dan ubi lembu/madu jam 4 subuh. Inilah pengalaman saat di Tasikmalaya, walaupun sebentar tapi itu adalah pengalaman pertama dan mungkin terakhir kali, sekian.