Pengalaman Saat di Tasikmalaya

Assalamualaikum pembaca KCH. Dan selamat bersantai ria sambil melototin ponsel atau laptop kalian. Awas jangan serius-serius nanti jatuh itu jidat, *hehe. Dwi kembali lagi parkir di beranda KCH, di tulisan yang ke 65 ini adalah kisah nyata dwi waktu mengunjungi rumah uwa (panggilan bude/pakde dalam bahasa sunda) di daerah Tasikmalaya.

Saat itu adalah hari raya idul fitri tahun 2011 silam, saya sekeluarga kecil beserta adik-adik ipar pergi ke derah tasik hari lebaran ke 2. Rumah yang akan kami kunjungi adalah rumah adik mertua laki (almarhum). Karena kami baru saja mengalami duka atas kematian ayah/mertuaku yang di cerita KCH berjudul “misteri si kaya dan pebisnis biasa“. Sehingga ibu mertua tidak ikut, dan sendirian di rumah.

Karena anak-anaknya tidak ada yang mau mengalah untuk tinggal menemaninya (alias suka mbolang/pergi), akhirnya kami menitipkan ibu pada saudara dekat rumah. Singkat cerita, karena dwi baru pertama kali ke daerah Tasik jadi agak penasaran dengan keadaan disana. Apalagi ketika mendengar cerita dari istri adik iparku yang sering berkunjung ke tanah jawa ini.

Singkat cerita, sampailah kami di daerah tasik, kota yang bersih nan indah dan berhawa dingin dengan padat penduduk. Ku kira sih sudah sampai di rumah uwa, oh ternyata masih lanjut lagi perjalanannya (*wew, gila). Melewati gunung, naik turun berkelok tajam pemandangan hutan gunung sawah ladang asyik, *hehe. Giliran masuk ke desa uwa yang terpencil, *alamak luar biasa andrenalinnya. Padahal ini termasuk jalan lintas utama (katanya).

Karena kondisi sedang musim penghujan jadi ini jalan selain ramai kendaraan roda 2 yang akan ke kota akibat lebaran, banyak yang kejebak lumpur dan kecelakaan. Dwi mulai panik, apalagi kondisi jalan licin dan menurun sangat curam, ku hanya bisa baca doa reader sambil melihat kendaraan motor yang lagi nyungsep di lumpur beserta penumpangnya yang tidak apa-apa.

Kata adik ipar yang duduk di sebelahku berkata “ini belum apa-apa, masih ada jalan yang lebih curam dan dalam lagi yang menyebabkan kendaraan mobil saling tabrakan karena posisinya berkelok” katanya. Sontak dwi melotot (bukan karena kesurupan reader, tapi karena syok sekaligus penasaran ya, *hehe). Pas sudah sampai yang di maksud, ya benar saja, selain kondisi turun dan berkelok karena tertutup gunung dan sebelah jalan ada rimbunan pohon bambu yang menutupi jalan selanjutnya, juga ada simpangan jalan lain.

Jika tidak hati-hati atau ngebut akan bertabrakan dengan kendaraan lain yang posisi berlainan arah. Lagi-lagi Dwi hanya bisa berdoa sambil melihat kanan kiri berharap cepat sampai. Dan alhamdulillah sudah sampai di rumah uwa. *Eits tapi belum bisa masuk reader, rumah uwa masih berada di tengah-tengah lahan yang luas, di kiri ada gunung dan kanan ada sawah dari ujung jalan hingga ujung belakang rumah uwa.

loading...

Jadi posisinya seperti terpencil, namun tidak terpencil karena ada jalan kecil yang menuju ke belakang ada rumah lagi, tapi jauh. Dan hanya kendaraan motor saja yang bisa lewat kalau bagi yang handal menyetir (kalau dwi mungkin sudah nyungsep di lumpur sawah depan rumah uwa, *hehe). Setelah turun dari mobil, kami disambut oleh pemuda yang bawa golok (*widih seram amat ya). Setelah melihat salah satu dari kami ada yang kenal (karena anak uwa yang tinggal di lampung juga ada yang ikut) jadi itu pemuda langsung ramah reader, *hehe.

Pas lagi repot bawa barang seperti orang mudik, akhirnya jalan kaki menuju rumah uwa, dengan keadaan terpeleset hampir nyungsep dan kaki kotor, ku hiraukan demi cepat istirahat di rumah uwa yang asri ini. Ku pandangi kanan kiri dan aku melihat ada sebuah bangunan di tengah sawah milik uwa berbentuk seperti mushola kecil dan dekat empang (kolam ikan ala desa).

Setelah cuci kaki dan masuk rumah kami disambut oleh uwak beserta anak-anaknya. Karena lelah aku pun tiduran di ruang tamu sekaligus ruang televisi. Tak peduli ada tamu yang datang, toh belum kenal ini, jadi belum ada dosa kan kalau mau lebaran, *hehe. Setelah pada pulang itu tamu, kami menghibur uwa rum (adik kandung abah) yang sedang menangis karena sudah di beri kabar atas meninggalnya abah dari anaknya.

5 hari kami menginap sekaligus berlibur ria di rumah uwa. Jadi banyak pengalaman mistis, seru dan lain-lain. Karena ini baru permulaan jadi ceritanya belum horor ya reader, maaf jika bosan membacanya *hehe. Nanti di lanjut lagi ceritanya di pengalaman saat di Tasikmalaya part 2.

Dwy Dwi Dandwi

Dwy dwi dandwi

Jangan baca ini sendirian ya… :D
by:
penulis amburadul horor dari lampung tengah.

All post by:

Dwy dwi dandwi has write 118 posts

Please vote Pengalaman Saat di Tasikmalaya
Pengalaman Saat di Tasikmalaya
Rate this post