Pengalaman Seorang Backpacker

Aku sudah tidak tahan lagi, gimana perasaan kamu kalo melihat kondisi teman kamu sendiri dengan kondisi yang sangat menghawatirkan. bukan karena penyakit melainkan melihatnya tidak menjadi diri sendiri. Dia dianggap mengalami gangguan kejiwaan, tapi sebenarnya bukan. Sampai beberapa hari yang lalu temanku ini koma dan sampai sekarang belum sadarkan diri karena kesurupan. Kejadian ini bermula saat aku dan rosma pergi untuk berlibur berdua.

Kami seorang backpacker dari tempat wisata domestik sampai mancanegara sudah pernah kami kunjungi, sampailah kami pada satu desa yang tidak bisa kami sebutkan tempatnya. Desa ini menyimpan satu misteri karena banyak sekali tempat-tempat yang dijadikan pesugihan disana. Ini seperti magnet buat kami, setelah perjalanan yang cukup panjang, cukup jauh dari keramaian. Kami mulai masuk desa ini, beberapa warga mulai melihat kami dari atas sampai bawah. Membuat kami merasa semakin asing, aku memberanikan diri bertanya.

“permisi bu rumah RT nya dimana ya?”. Seorang Ibu yang berumur 50 an menunjukan sebuah rumah berwarna putih, berada tidak jauh dari tempat kami berdiri. Agak sedikit aneh, orang-orang disini mulai melihat kepada temanku rosma. Rosma memiliki paras yang cantik, aku menjadi agak tegang apalagi kami ini wanita. Takutnya malah terjadi apa-apa. Setelah itu aku bertemu pak RT disana, orangnya cukup welcome dan memberi kami tinggal disalah satu rumah.

Alasannya adalah untuk keamanan, jika tinggal di rumah warga lain. Katanya para penghuninya kurang ramah. Kami pun setuju tanpa bertanya apa-apa lagi. Kami diantar oleh pak RT ke salah satu rumah yang berada jauh dari rumah warga lainnya. Satu rumah yang desainnya cukup modern. “Rumah siapa ini pak?” tanyaku kepada pak RT. Bapak ini mulai bercerita, kalo dulu ini rumah milik seorang pengusaha. tapi sudah lama tidak dikunjungi lagi.

Aku sedikit iseng bertanya. “Bukan tempat habis pembunuhankan pak!” pak RT berhenti melangkah dan menatapku lalu tersenyum sambil memberikan kunci rumahnya, tanpa berkata apa-apa dia pun pamit. Aku melihat orang-orang disini semuanya memperhatikan kita, aku agak risih. Kami pun masuk dan langsung mengunci rumah itu, keadaan rumah sangat gelap dan aku pun mencari saklar lampu.

Begitu kunyalakan ruangan tengah pun terlihat, “wah asik sekali” sofa, lukisan, tv dan lain-lain masih ada didalam rumah ini. Rosma langsung naik ke lantai atas dan masuk ke sebuah ruangan, aku pun menyusul naik. Dia masuk ke salah satu kamar, di lihat dari lukisan, tempat tidur dan lukisannya ini adalah kamar kecil seorang perempuan. Rosma berdiri dan melihat ke sekitar sambil senyum-senyum. Rosma mulai memegang benda disekitar sambil mulutnya yang tertutup itu kini terdengar seperti bersenandung.

loading...

Aku lalu menarik rosma keluar dari ruang itu dan membawanya kebawah. Kami berdua duduk di ruang tamu depan tadi, rosma terlihat pucat. Saat aku tanya dia sakit atau tidak, rosma menjawab. “Kepalaku pusing sekali” ucap rosma. Aku pun membawa rosma ke kamar depan, karena itu kamar yang paling dekat dengan kami dan rosma pun tertidur. Aku membiarkannya istirahat sambil membereskan barang-barangku, lalu terdengar sebuah benda jatuh.

“Rosma, kamu ngga kenapa-kenapa kan?” teriak ku pada rosma. Aku sedikit bangkit, dan terdengar lagi suara benda seperti dijatuhkan. Aku pun beranjak menuju ke kamar dan astaga. “Rosma, kamu kenapa?”. Rosma membanting barang-barang yang ada dikamar, dia mengacak benda-benda yang ada sambil bersenandung yang aneh. Aku coba menahannya, tiba-tiba rosma terbanting badan nya lalu rosma pun berbalik dan mukanya terlihat lebih kurus.

Tulang pipinya hampir menyembul, matanya terus melihat ke atas. Dia terus bersenandung, dan astaga ketika ku perhatikan rosma menggigit lidahnya sendiri. “Rosma sadar, istigfar!” ucapku. Aku coba menyadarkannya tapi dia malah balik menggenggam tanganku dengan erat. Aku terdiam, mataku terus menatap matanya. Jelas ini bukan rosma, suaranya sangat berbeda. Aku berusaha melepaskan diri, aku pun berlari dan aku terjatuh seperti menabrak kabel lalu lampu pun mati.

Aku tidak bisa melihat apa-apa bahkan dengan mata terbuka pun aku tetap tidak bisa melihat apa-apa. Aku mencoba meraba, astaga ada yang bergerak seperti ada sesuatu dibelakangku. Aku mencoba berdiri, dan mulai merasa rosma mendekatiku. Aku terus mencoba untuk menjauh sampai aku mengeluarkan handphoneku untuk membantu penerangan. aku mulai melihat ke sekitarku, rosma tidak ada. Aku mulai memutar dan aku bisa melihat suasana berantakan.

Tiba-tiba saja wajah rosma yang pucat itu muncul didepanku, aku langsung berlari keluar membuka pintu dan berlari sekencang-kencangnya hingga sampailah aku dirumah pak RT. Pak RT dan beberapa warga tidak lama kemudian sudah berkumpul di rumah itu. Beberapa diantaranya masuk dan mencoba menyadarkan rosma, akhirnya malam itu pun berlalu. Untuk sementara setelah kejadian itu aku dan rosma yang masih dalam kondisi kesurupan berada didalam rumah pak RT dan seorang kuncen yang sedang berdoa untuk rosma.

Dia kejang-kejang, matanya terus melotot sambil tertawa-tawa tidak jelas. Rosma pun sempat tenang, namun kapan saja bisa kumat sampai sekarang semuanya masih belum jelas. Kata sang kuncen “Rosma dimasuki setan wanita yang bernama indah” yang dulu penah tinggal disana, kata warga sekitar indah dibunuh dan mayatnya dikubur di dalam rumah itu. Indah meninggal ketika sedang mengandung dan akan melahirkan. Benar atau tidak yang pasti temanku sekarang sudah tidak kembali normal.

Share This: