Pengalaman Seram Saat Naik Travel

Rencananya aku mau pulang pergi saja lagian bandung-jakarta itu tidak terlalu jauh. Hari itu, aku disuruh bosku untuk menemui klien nya di jakarta. Awalnya aku mencari seribu alasan untuk tidak pergi namun karena bosku bilang sudah tidak ada orang lagi yang disuruh selain aku, jadi akhirnya aku yang harus melakukannya.

Dia bilang juga ini tender miliaran rupiah, kalo gagal sangat disayangkan. Aku akhirnya berangkat menggunakan travel pagi dan setelah mengambil beberapa dokumen penting dikantor aku langsung berangkat ke jakarta. Selama perjalanan, entah kenapa aku merasa sangat lelah sekali seperti tidak ada semangat padahal kalo tender ini lolos aku pun pasti dapat bonus.

Tapi seperti tidak ada semangat untuk melakukannya, didalam travel aku menghabiskan waktu sambil tidur dengan harapan ketika aku bangun aku sudah sampai ditujuan. Singkat cerita, aku sampai juga di ibu kota setelah melalui seharian meeting. Ketika selesai, “karena dapat bonusnya kecil kalo tau begitu lebih baik aku suruh saja anak buahku ke jakarta” Gerutuku dalam hati.

Aku keluar dari tempat gedung meeting yang digunakan untuk menemui klien tersebut, cuaca jakarta cukup gelap dan reflek aku melihat jam tanganku yang sudah menunjukan jam 9 malam. Aku merogoh tas dan mencari hape yang sudah seharian aku tidak periksa. Karena dari pagi sampai malam aku sibuk dengan klien itu hingga tidak sempat melihat Hape.

Waktu hampir jam 9:30 malam, tapi aku belum mendapatkan travel juga untuk pergi ke bandung karena semua travel penuh dan aku waiting list. Aku memutar otak dan akhirnya aku menemukan ide, bagaimana kalo aku datangi langsung travelnya. Semua travel yang aku telepon mengatakan kalo mereka hanya melayani penumpang sampai jam 10 malam saja.

Akhirnya dengan pasrah aku mencoba untuk naik ojek ke tempat travel yang paling terdekat sebelum jam 10 malam, lalu ojek itupun setuju dan akhirnya ditengah hujan gerimis aku diantar ojek tersebut menerobos dan dalam hitungan menit. Aku sampai di sebuah travel yang tidak jauh dari tempat aku meeting, nampaknya itu merupakan travel baru dan bukan travel yang terkenal seperti yang biasa aku pakai.

Tapi tidak apalah, “Mas, ke bandung satu orang yah” Seorang pria itu menyambut ucapanku dengan senyumnya lalu dia memberikan harga untuk travelnya dan setelah aku membayar, pemuda itu mengangkat telepon yang entah darimana. Terlihat dia mengangguk seperti orang yang kesal, lalu pria itu bilang sesuatu. “Maaf mba, travelnya akan terlambat yang jam 10:15 dan akan datang 1 jam lagi. Apa mau di cancel aja mba?” tampak gugup pemuda itu dihadapanku, mau marah percuma karena mau bagaimanapun aku tidak bisa kemana-mana lagi.

Aku tidak mengenal jalanan di jakarta, dan didepan bangunan ini hanya ada jalur kereta yang cukup gelap dan panjang. Tapi aku masih bisa melihat satu atau dua kendaraan yang melintas. “Ya sudah gak apa-apa mas, saya tunggu saja.” Hampir 2 jam aku menunggu disitu, akhirnya travel yang sudah ditunggu-tunggu itu datang juga. Terlihat sebuah mobil minibus yang aneh memiliki stiker hijau dan merah, aku langsung berdiri dan berjalan ke arah minibus tersebut.

Supirnya turun dan langsung menghampiriku, lalu mengangkat barang-barangku. Dengan muka yang ketus aku naik ke atas mobil, supir itu pun langsung duduk dikursinya memegang kendali dan menancap gas. Aku langsung heran, karena cuman aku saja yang ada ditravel. “Pak, penumpang yang lain mana? cuman saya aja penumpangnya?” Supir itupun melihatku dan dengan senyumnya yang aneh, supir itupun mengangguk. Aku langsung membalikan mukaku menarik nafas, sambil menyenderkan mukaku dikursi dan mataku terbuka perlahan. Aku merasakan ada yang aneh dengan mobil ini posisinya diam tidak jalan.

Udara dingin masuk lewat pintu depan supir, semuanya gelap dan sangat gelap sekali. Aku melihat keluar jendela, semuanya juga gelap dan hanya cahaya mobil yang lalu lalang. Aku beranjak dari kursi dan mencoba bertanya kepada supir minibus itu. Suara lain dari luar, yang entah dari mana menjawab pertanyaanku.

“Ini neng, ban nya bocor tunggu aja didalam. Maaf yach” tanganku meraba ke atas mencari saklar lampu karena terlalu gelap didalam sini dan badanku tersentak ke sisi kursi tempat duduk lalu jantungku berdetak cepat. Mulutku menganga karena apa yang aku lihat bukanlah halusinaku dan ini nyata sangat nyata. Ketika aku menyalakan lampu, disebelah kursiku terduduk seorang perempuan dengan baju putih kumal dengan rambut panjang.

Wajahnya tertutup dengan rambut panjang yang acak-acakan, aku menarik nafas dan ingin berteriak namun suaraku tidak keluar. Aku beranggapan itu pasti bukan manusia karena kemunculannya yang tiba-tiba dan posisi duduknya yang aneh. Tangannya yang putih pucat dan kuku nya yang berwarna hitam, dan aku kini tidak bisa bergerak.

Perlahan wanita itu menengadahkan kepalanya, aku menyaksikan gerakannya yang kaku dan bukan gerak manusia pada umumnya. Gerakannya lambat dan kaku disertai bunyi gemeretak tulang yang beradu. Astaga, muka nya sudah hampir terlihat dan matanya yang merah membelalak melihat ke arahku sambil mulutnya yang menyeringai disertai cekikikan.

Aku lemas dan perempuan itu kemudian melakukan hal yang aneh, dia memutarkan kepalanya dan aku tidak tau apa yang terjadi lagi. Semuanya tiba-tiba menghitam dan, “Neng, bangun sudah sampai di bandung.” Aku membuka mataku dan terlihat seorang pria paruh baya membangunkanku, sontak aku berteriak kencang. Supir itu langsung kaget dan langsung memegangi tanganku yang tiba-tiba berontak.

Aku berhenti berteriak dan dengan sigap supir itu membantuku turun dan mulai terasa angin dingin kota bandung menusuk badanku. Bapak itupun memberikan air minum, air mataku tiba-tiba mengalir karena aku tidak kuat menahannya. Aku lemas dan sangat lemas, lalu beberapa pegawai muncul dan menghampiriku. Satu orang berlari mengambil taksi dan beberapa menit kemudian, aku sudah berada didalam taksi. Aku coba menarik nafas dan mengatakan tujuan kepada supir itu.

Nampaknya itu adalah hari terburuk yang aku alami, jalan kota bandung tampak basah dan licin lalu suara radio dari taksi itu menenangkanku dan bukan itu saja yang aku dengar, samar-samar astaga kenapa diantara suara yang aku dengar dalam taksi aku masih mendengar suara cekikikan wanita tadi. Apa jangan-jangan, perlahan aku melihat ke arah spion tengah dan astaga perempuan itu ada di bangku belakang taksi.

loading...

Share This: