Pengalamanku di Pesantren

Hai sahabat KCH. Nama saya Anisa. Ini pengalamanku saat masih di pesantren di daerah Jawa Tengah. Langsung saja. Waktu itu malam jumat kliwon, biasanya di pesantren selalu diadakan pembacaan yasin bersama. Setelah membaca yasin bersama lalu selepas shalat isya berjamaah para santri langsung siap-siap untuk kegiatan Jam’iyahan yang memang sudah menjadi kegiatan rutinan malam jum’at.

Kegiatan itu diadakan di ruang yayasan di lantai atas yang berada di depan asrama dan Dalem (rumah Kyai) yang biasa di pakai untuk shalat berjamaah. Oh iya pesantrenku ini berada di belakang sekolah Madrasah Aliyah (MA), jadi yayasan berada di samping MA, yang terhubung ke belakang dengan asrama dan Dalem. Di pesantren putri ini ada 2 toilet, yang 1 berada di dalam asrama, memiliki 4 bilik khusus untuk buang hajat dan berwudhu.

Dan yang 1 nya lagi berada di sebelah wetan (timur) asrama yang memiliki 11 bilik khusus untuk mandi dan mencuci baju. Untuk toilet wetan di pisah oleh kebun yang juga berfungsi menjadi tempat menjemur pakaian. Ada 2 kolam yang airnya berwarna hijau, lumutan tak terawat karena memang sudah menjadi tempat pembuangan kotoran dari toilet wetan. Dan jika sudah malam, kebun itu sangat menyeramkan karena gelap, hanya ada 1 lampu bohlam disamping bilik no. 1.

Kembali ke cerita. Setelah selesai jam’iyahan, sekitar jam setengah 11, para santri bergegas turun ke asrama untuk tidur atau nderes (bagi penghafal Qur’an). Lalu saat jam setengah 12 malam setelah nderes, aku dan 2 pengurus santri kembali naik ke yayasan untuk mengambil bantal yang di tinggalkan di kamar khusus pengurus. Sebenarnya yayasan ini memiliki 4 ruangan dan 1 toilet. Ruang pertama untuk mengaji para anak anak desa, ruang kedua untuk sholat berjamaah, ruang ketiga untuk belajar dan nderes, ruang keempat adalah ruang pribadi Kyai.

Dulu memang tak ada kamar di yayasan, tapi lalu toilet di rombak dan di jadikan kamar tidur khusus pengurus santri. Tapi belum ada yang berani menempati kamar itu jika malam. Mungkin karena bekas toilet kali ya. Kembali ke cerita. Saat kami sampai di yayasan, kami langsung masuk ke kamar, kami mendengar suara kipas angin yang digantung di atas menyala. Kami bertiga langsung saling pandang, lalu mba nunik (nama disamarkan) bicara “perasaan kipas angin sudah aku matikan, sebelum turun ke bawah sehabis jam’iyahan”.

Lalu kami keluar sambil memeluk bantal masing-masing. Saat mba nunik berjalan untuk mematikan kipas angin, dia heran karena saklar kipas angin dalam posisi off. “Kok kipasnya bisa nyala? Padahal tombolnya off”, aku sendiri heran melihat mba sumi (nama disamarkan) diam saja sambil memandang kipas angin yang berputar. Aku dan mba nunik sudah sangat merinding, lalu tiba-tiba mba sumi langsung berlari keluar.

Aku dan mba nunik kaget sekali dan refleks ikut lari dengan jantung yang rasanya hampir copot karena kaget. Bulu kuduk sudah berdiri semua. Sampai di asrama mba sumi bicara “jangan lagi kesana lewat tengah malam tanpa uluk salam”. Saat aku bertanya kenapa? Dan apa yang dia lihat? Tapi mba sumi tak mau menceritakannya. Katanya “nanti kamu malah takut kalau mau kemana-mana sendiri”. Aku pun tak ingin mendesak, walau penasaran. Akhirnya kami pun tidur.

Jam 04:15 subuh, aku dibangunkan oleh sepupuku rina (nama disamarkan) yang juga pesantren bareng denganku, untuk bersiap-siap shalat subuh berjamaah. Lalu aku bergegas untuk mengambil sabun cuci muka, sikat gigi dan odol. Sampai di toilet yang di dalam ternyata antriannya sangat panjang dan gak ada waktu untuk mengantri, jika tak ingin terlambat jamaah dan kena denda. Akhirnya rina mengajakku untuk berwudhu di toilet wetan, sebenernya aku ngeri, tapi dari pada telat jamaah akhirnya aku mengiyakan.

Aku mengajak beberapa temanku, tapi gak ada yang mau, katanya takut, serem. Akhirnya aku pergi berdua dengan rina. Memberanikan diri. Saat memasuki ke area kebun, aku langsung merasa bulu kudukku berdiri, suasananya juga jadi dingin, mencekam, sunyi. Hanya terdengar bunyi *tik, tik, tik, seperti ada sesuatu kecil yang jatuh dari atas pohon duren, jengkol, pete, dan nangka yang berjajar di sebelah kananku.

Suara *tik, tik, tik, itu semakin kerap terdengar, seperti sedang menyambut kedatangan kami berdua. Aku sudah merasa sangat tidak enak, hawa dingin menyergap, tapi aku tetap beranikan diri. Sampai di toilet aku langsung mencuci tangan dan membasuh muka, saat aku mencuci muka, aku mendengar suara air. Seperti ada orang yang sedang cebok (maaf jika tidak sopan) suara itu berasal dari bilik toilet no. 11 yang memang jarang di pakai karena posisinya dipojok paling ujung dan memang agak menyeramkan.

loading...

Dan aku melirik rina yang sedang memandangku dengan tatapan bertanya. Tapi aku tak menghiraukannya. Lalu saat aku akan mengambil sikat gigi dan odol, suara air itu terdengar semakin keras. Aku langsung bersikap waspada. Lalu aku yang tadinya akan mengambil sikat gigi dan odol, langsung merengkuh semua yang aku bawa termasuk sabun cuci muka, sikat gigi serta odol milik rina, dan langsung lari secepat mungkin. Dan rina yang kaget mengikutiku sambil teriak “mba tungguin”.

Aku tak menghiraukan teriakan rina, juga tak peduli dengan tanah licin dan becek habis hujan semalam yang bisa saja membuatku terjatuh. Saat aku tak sengaja melirik ke sebelah kananku, di sana di bawah pohon nangka di pinggir kolam kotor, aku seperti melihat bayangan putih transparan. Aku langsung saja menerjang pintu belakang yang langsung terhubung ke dapur dan toilet dalam.

Dengan tubuh tersungkur karena menerjang paksa pintu serta wajah pucat, napas ngos-ngosan dan ditambah di tindih badan rina yang juga terjatuh tersandung kakiku yang walaupun badanya kecil tapi ternyata berat sekali, aku langsung pingsan. Sejak saat itu aku tak berani lagi ke toilet wetan jika hari masih gelap. Sekian dulu ya. Maaf jika terlalu panjang dan tidak menyeramkan.

KCH

anisa

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

anisa has write 2,660 posts