Pengantin di Rumah Baru

Cerita ini berdasarkan kisah nyata dari yang dialami oleh ibuku. Singkat cerita, ibuku adalah anak ke empat dari delapan bersaudara. Ayah ibuku (kakek ku) adalah seorang kepala terminal. Ketika ibuku memasuki usia remaja, kakek ku membeli sebuah rumah yang jaraknya lumayan jauh dari rumah sebelumnya. Bahkan jalan untuk kerumah pun belum ada. Hingga akhirnya kakek saya pun membuka jalan tepat disamping rumah.

Singkat cerita, karena rumah baru ini belum akan dijadikan tempat tinggal tetap, keluarga ibu saya pun jarang menginjakkan kaki disana. Hanya pada libur sekolah baru rumah itu di kunjungi. Rumah baru ibu saya ini cukup luas. Ada kolam ikan, parkiran yang luas, banyak pepohonan yang tumbuh. Bahkan pohon cemara pun ada disana.

Suatu hari ketika ibu saya menginap dirumah barunya, saat itu sedang adzan magrib. Tapi suara burung celepuk pun tetap terdengar. Maklum saja karena daerah rumahnya dulu masih sepi penduduk. Karena iseng, suara burung celepuk yang terus menerus berbunyi pun akhirnya diikuti oleh ibu saya. Karena keisengannya ini pun, nenek saya akhirnya memarahi ibu saya. “Suara burung seperti itu jangan diikuti. Pamali”. Bukannya berhenti, ibu saya malah terus-terusan mengikuti suara burung itu.

Akhirnya malam pun tiba. Ibu saya tidur dengan saudara-saudaranya. Awalnya ibu saya tidur dengan nyenyak hingga tiba-tiba ibu saya terbangun karena udara dingin menyeruak. Setengah sadar, ibu saya membuka matanya secara perlahan-lahan. Perasaan aneh belum datang saat itu. Karena ibu saya masih belum sadar sepenuhnya saat itu. Tapi sesuatu membuatnya sadar.

Tirai tepat berada disamping ranjangnya. Entah angin berasal dari mana, tiba-tiba tirai itu mulai bergerak-gerak. Tirai pun mulai terbuka secara perlahan. Sedikit terbuka, lalu tertutup lagi. Terbuka lagi, lalu tertutup lagi. Sampai akhirnya tirai itu terbuka lebih lebar , sesuatu muncul dari tengah tirai bersamaan dengan terbukanya tirai itu. Karena kaget, ibu saya pun akhirnya mendapatkan kesadarannya penuh. Bulu kuduk ibu saya mulai merinding.

loading...

Dengan posisi masih tiduran, ibu saya melihat pengantin yang keluar dari tengah-tengah tirai yang terbuka. Pengantin itu seperti menggunakan gaun pengantin belanda zaman dahulu. Ibu saya meneliti dari bawah. Gaun itu sangat panjang karena kaki si pengantin itu sampai tak terlihat alias tertutup gaun. Gaun itu sangat bagus. Tapi semakin di teliti ke atas, semakin membuat bulu kuduk ibu saya merinding.

Tepat di daerah dada gaun itu, mulai ada bercak merah yang semakin lama semakin jelas. Itu adalah darah! Pengantin itu pun semakin bergerak seperti melayang maju ke ibu saya. Ketika ibu saya melihat ke atas, ternyata kepala pengantin itu tidak ada! Darah mulai keluar semakin banyak. Ibu saya tidak bisa bergerak, tubuhnya lemas. Mulutnya pun seperti terkunci. Ia tak bisa berbicara.

Pengantin itu semakin mendekat. Dilafalkan ayat-ayat suci Al-Qur’an didalam hatinya. Tiba-tiba ia bisa berteriak. Dan akhirnya membangunkan seisi rumah. Semua orang terbangun dan menghampirinya. Ibu saya hanya bisa menangis karena masih sangat ketakutan. Keesokan harinya, kakek saya meminta kakaknya datang. Kakaknya adalah orang pintar. Di hampirilah ibu saya dan diceritakan tentang kejadian yang ibu saya alami tadi malam. Akhirnya, hantu pengantin itu dipindahkan ke pohon kelapa. Letaknya tidak terlalu jauh. Sekitar 10-15meter dari rumah.

Bertahun-tahun berlalu, rumah saya pun dibangun di dekat rumah kakek saya. Bibi saya pun sama. Rumah kami berdekatan. Sayangnya, rumah bibi saya dibangun di tanah kosong yang ditumbuhi pohon kelapa itu. Karena risih, pohon kelapa itu pun di tebang. Sahabat KCH tau? Yang menebang pohon itu sakit setelahnya! Rumahnya ditebang, lantas dimana ia sekarang?.

Pernah suatu hari, asisten rumah tangga tante saya melihat si pengantin ada di lantai 2 rumah saya. Ia kira itu asisten rumah tangga saya, tapi asisten rumah tangga saya sudah pulang dari satu jam sebelumnya. Lalu, siapa itu?.

Jangan lupa follow aku di IG @shaskiazahra
Terimakasih sudah membaca, salam Seram.

Share This: