Pengemudi Taksi Malang

Mula-mula perkenalkan, saya Hendro. Saya adalah seorang sopir taksi di Surabaya. Kejadian ini saya alami ketika saya bekerja sebagai sopir taksi di saat malam. Malam itu seperti biasa saja saya sedang menikmati segelas kopi di warkop di sekitar daerah Kedurus. Semakin malam, semakin sunyi tapi masih ada beberapa pekerja yang lalu lalang, mungkin mereka pulang kerja.

Setelah lama ngopi sambil merokok, saya punya pikiran kenapa tidak mutar-mutar saja di jalan. Siapa tau dapat penumpang dan tujuan saya adalah di daerah TP (Tunjungan Plaza). Karena biasanya di tempat itu masih banyak penumpang dari para LC (Ladies Club) yang akan mencari tumpangan saat mereka pulang dari diskotik Coyote. Singkat cerita meluncurlah saya ke arah TP dari Kedurus melewati Gunungsari.

Tapi entah kenapa malam itu saya yang biasanya lewat terminal Joyoboyo mendadak berbelok ke arah Ketintang. Dari belokan itulah awal cerita ini terjadi. Saya susuri jalan dengan perlahan-perlahan sambil mendengarkan radio yang acaranya mengaji. Tak lama setelah itu pas di depan kampus UNESA, di samping jalan dekat kuburan yang terletak di di pinggir jalan, saya melihat seorang ibu-ibu yang melambaikan tangan tanda mau menumpang taksi. Waktu itu jam menunjukkan pukul 23.30 malam.

Suasana tidaklah terlalu sepi, karena masih banyak muda-mudi di sekitaran tempat ibu-ibu itu masih nongkrong di Warkop. Lalu ibu itu pun masuk dan saya menanyakan kemana arah tujuannya. Si Ibu menjawab mau ke Rumah Sakit Dr. Soetomo. Awalnya saya tidak curiga, tetapi yang menjadi pertanyaan adalah saat ibu itu masuk, seketika tercium bau-bau harum yang sangat menusuk hidung.

Udara malam itu dingin sekali ditambah AC yang memang sudah dingin. Tiba-tiba ibu itu meminta saya untuk mengecilkan volume radio yang sedang saya dengarkan. Padahal itu sedang siaran mengaji. Akhirnya saya menuruti ibu itu, saya kecilkan dan sayapun mengendarai dengan santai dan fokus. Tiba-tiba saking saya fokus, saya tidak memperhatikan ibu itu. Lalu tiba-tiba ibu itu tertawa terbahak-bahak, alangkah terkejutnya saya, apalagi malam itu jalanan sepi sekali.

Pikiran dan bulu kuduk akhirnya sinkron menjadi satu. Ibu ini orang gila atau apa? Kenapa dia tertawa? Kenapa dia mau ke RS Dr. Soetomo malam-malam begini? Dan yang membuat pikiran ini makin ngawur, adalah teringat ibu ini menyetop taksi saya di depan kuburan. Ditambah lagi waktu ibu itu masuk taksi, tercium bau yang sangat wangi sekali. Apalagi ibu itu juga meminta saya mengecilkan volume siaran radio yang mengaji.

Cuma ada 2 terlintas di pikiran saya. Orang gila atau hantu? Sudah dalam 1/2 perjalanan ibu itu terus tertawa dan sesekali berbicara sendiri. Alamak kemalangan apa lagi ini. Tiba-tiba di saat rasa takut ini sudah semakin menjadi-jadi, tercium bau yang teramat busuk, yang awalnya tadi wangi tiba-tiba menjadi busuk. Masih ibu itu tertawa dan berbicara sendiri sampai sampai beberapa pengendara motor yang sedang melintasi melihat ke arah kursi belakang dan mereka melihat dengan takut di tengah perjalanan.

Saya pun berdoa dalam hati “Ya Allah, jauhkanlah aku dari segala kesusahan dalam menjalani pekerjaan yang halal ini” dalam hatiku berdoa demikian. Pikiran ini sudah sangat berkecamuk dan satu jawaban siapa ibu ini adalah hantu. Dari awal dia menyetop taksi di depan kuburan, bau yang wangi, tiba-tiba tertawa, tidak mau mendengarkan siaran mengaji dan bau busuk yang menyengat. Di dalam perjalanan itu saya tidak berani berkata atau bertanya pada ibu itu.

Keringat ini sudah bercucuran padahal AC dan kaca taksi dalam keadaan dingin dan tertutup. Ditambah lagi bau busuk yang sangat amat menyengat. Singkat cerita di dalam perjalanan yang sedikit lagi sampai di tujuan, saya cuma bisa berharap kapan ini semua berakhir. Akhirnya sampailah saya di tempat tujuan. Ibu itu pun bertanya sambil berkata “Maaf nak, berapa argo taksinya?”. Saya tidak berani menatapnya ke belakang, cuma sambil menunjuk ke arah Argometer.

Ibu itu pun meminta tolong dihidupkan lampu untuk mengambil uang di dalam tasnya. Saat akan menyodorkan uang, ibu itu berkata “Maaf nak ambil saja kembalian nya, itu untuk jasa anak yang bersedia mengantar saya dan maaf lagi nak, soal tadi saya tertawa dan berbicara sendiri itu karena saya sedang ngobrol dengan teman saya yang seorang dokter di rumah sakit ini dengan menggunakan handfree Bluetooth, maka itu saya meminta anak mengecilkan volume radio”.

Perkataan ibu itu tidak serta merta membuat saya puas. Darimana asal bau busuk itu pikirku, di akhir pembicaraan ibu itu, dia mengatakan “Maaf nak saya tadi buang angin, hehe”. Mendengar kata itu saya pun langsung dengan cepat membuka kaca jendela taksi saya dan tertawa terbahak-bahak dibuatnya. Haha akhirnya ibu itu pun keluar dengan sambil tertawa juga. Mungkin dia memberi tip lebih karena sudah bersedia menghirup buang anginnya yang busuk itu. Itulah cerita saya maaf kalau tidak seram. Salam klub kelakar seram, haha.

loading...

Share This: