Penghuni Gaib di Rumah Baruku

Kejadian ini berawal pada tahun 2007 saat rumahku hancur akibat gempa. Aku tinggal bersama nenek, paman dan adikku karena orang tuaku bekerja di kota. Keluargaku memang masih percaya dengan mitos bahwa membangun rumah harus memakai ritual. Kebetulan kakekku adalah orang yang tahu tentang hal-hal tersebut.

Sebelum mendirikan rumah, kakek mengadakan ritual memindahkan makhluk-makhluk gaib yang ada di rumah baruku yang akan di bangun. Saat melakukan ritual kakek seperti berbicara dengan seseorang dan menyebutkan sebuah perjanjian. Setelah beberapa saat kakek seolah menyetujui perjanjian tersebut yang aku sendiri tidak tau isi dari perjanjian.

Beberapa hari setelah ritual di lakukan paman pun membangun rumah. Rumah itu di rancang memiliki satu ruang tamu, satu kamar utama disebelah ruang tamu dan dua kamar di samping ruang keluarga, satu kamar mandi dan dapur. Hari pertama pembangunan semua berjalan lancar, hingga hampir satu bulan pengerjaan rumahku sudah hampir sempurna.

loading...

Tinggal pintu dan jendela saja yang belum terpasang, saat pemasangan jendela dan pintu pun semua berjalan lancar. Sampailah pada pengerjaan kamar paling pojok dan terlihat lebih luas di banding kamar-kamar lainnya. Saat pemasangan pintu di kamar itu tiba-tiba tukang bangunannya menjerit. Aku dan orang-orang yang tadinya sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing langsung menghampiri dan bertanya apa yang terjadi.

Aku terkejut dan berteriak ketika melihat darah berceceran dimana-mana. Ternyata paku untuk memasang pintu kamarku terbang mengenai mata kanannya. Paman langsung membawa orang itu ke rumah sakit karena ada goresan sepanjang 5 inci di matanya. Setelah kejadian itu, paman memutuskan untuk memasang pintu dan jendela tanpa bantuan tukang lagi.

Setelah rumah rapi aku langsung memilih kamar paling pojok yang terlihat lebih luas di banding kamar yang lain. Adek dan nenek memilih di kamar tengah lalu paman di kamar utama. Di kamarku ada sebuah lemari, meja rias dan sedikit tempat untuk sholat yang kebetulan ada di samping ranjang tidurku. Minggu pertama semua terlihat baik-baik saja.

Memasuki minggu ke dua aku sering merasa ada yang memperhatikanku ketika aku sedang melakukan aktivitas didalam kamarku. Pada minggu ketiga kejadian aneh mulai menggangguku. Saat itu tepatnya malam selasa, aku, nenek dan adik asik nonton tv seperti biasa. Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu, awalnya aku acuh dan mengabaikan-nya karena aku pikir pamanku lagi iseng.

Lama-lama ketukan pintu makin keras, aku pun segera membuka pintu. Tapi saat aku buka tidak ada siapa pun dan itu terjadi tiga kali. Untuk ke empat kalinya pintu rumahku di ketuk, karena kesal aku pun marah-marah “siapa sih yang iseng malam-malam begini”. Nenek kemudian berkata “jangan di buka, biarkan saja” Aku pun menuruti kata-kata nenek. Namun anehnya setelah nenek bicara seperti itu pintu tak lagi di ketuk .

Malam semakin larut nenek dan adik sudah terlelap. Paman baru saja menelfon pulang malam karena ada acara bersama temannya. Setelah menerima telepon paman aku pun bergegas mengunci pintu dan jendela. Saat itu jam menunjukkan pukul 21:33, aku mengambil air wudhu kemudian sholat isya dan selesai sholat aku bergegas tidur karena mata mengantuk. Beberapa menit kemudian aku pun tertidur terlelap menghadap tembok kamar.

Saat tengah malam mungkin sekitar jam 1 atau jam 2 malam, Aku terjaga ketika ada hembusan angin seolah sengaja di tiupkan di telingaku dan leher. Aku berpikir jendela kamarku belum aku tutup. Aku membalikkan badan berniat bangun untuk menutup jendela. Belum sempat bangun dari tempat tidurku aku terkejut sekaligus ketakutan melihat pocong berdiri tepat di tempat aku sholat.

Aku ingin berteriak tapi suaraku terasa seperti hilang entah kemana. Aku pun menarik selimut sambil komat-kamit membaca doa sebisaku. Waktu terasa berjalan sangat lama hingga jam menunjukkan pukul 6 pagi aku baru berani keluar kamar. Aku langsung menghampiri nenek yang sedang memasak dan menceritakan kejadian semalam.

“Nek semalam aku lihat pocong di tempat sholat”.
“masa iya, Paman kali lagi iseng. Nenek seolah tidak percaya, aku pun mengajak nenek ke kamar dan mempraktikan kejadian semalam”.
“jadi semalam kamu baca doa gara-gara takut. Nenek dengar kamu saat baca-baca doa tapi nenek kira kamu lagi ngaji”.
“Ngaji apanya, orang pocongnya di tempat sholat”.

Pagi berikutnya kejadian aneh menimpa adik, namanya priska. Dia berteriak-teriak dari dalam kamarku “nek, kak kebakaran. Atap kamar kakak kebakaran”. Mendengar teriakan adikku, aku berlari lalu menghampiri.
“ada apa sih? Pagi-pagi teriak”.
“Tadi ada api di atap rumah. Adik lihat dari kaca ada kayu atap yang kebakar”.

Aku pun memeriksa namun tidak ada tanda-tanda sesuatu yang terbakar. Paman yang dari tadi memperhatikan kami langsung pergi ke rumah kakek yang berjarak sekitar 1 km dari rumahku. Tidak berapa lama kakek dan paman datang. Kakek kemudian menuju ke dalam kamarku.

Setelah keluar kamar kakek menceritakan bahwa memang dulu sebelum di jadikan rumah di situ ada sebuah pohon tua dan penghuninya tidak mau di pindah karena sudah puluhan tahun tinggal di situ. Ketika pohon itu di tebang dan di jadikan rumah, dia tetap tidak mau pindah justru saat dia menampakkan diri katanya dia ingin berteman denganku.

Paman yang takut keponakannya kenapa-kenapa, memilih untuk membuat kamar baru. Akhirnya mulai saat itu kamarku di jadikan gudang dan aku pindah ke kamar yang baru. Hingga detik ini kamar itu masih ada tapi aku tidak pernah berani ke kamar itu lagi.

KCH

Mikayla

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

Mikayla has write 2,694 posts