Penghuni Pulau Poddang-poddang Caddi

Perkenalkan, saya adalah seorang mahasiswi semester akhir di sebuah sekolah tinggi di kota Makassar, Sulawesi Selatan. Cerita ini tentang penghuni pulau poddang-poddang caddi, berawal saat saya masih semester 3. Singkat cerita waktu itu saya dan teman-teman kampus “nge-trip” ke sebuah pulau di daerah Sulawesi Selatan, kami berangkat dari rumah masing-masing menuju pelabuhan Paotere’ untuk kemudian berangkat menuju pulau tersebut.

loading...

Jam tangan menunjukan pukul 2 siang. Kamipun berangkat menuju pulau tersebut. Singkat saja, kami tiba di pulau tersebut pukul 5 sore. Satu persatu kami turun dari kapal motor menuju pantai pulau tersebut yang memang sangat indah dan menawan. Beberapa dari kami sibuk foto-foto, hehe. Nggak afdol dong kalau menemukan tempat bagus nggak foto, beberapa dari kamipun sibuk memasang tenda. Lalu saya sibuk berjalan mengelilingi pulau tersebut. Pulau ini, berukuran kecil dan tak ada pemukiman warga dan sebagainya.

Lalu beberapa saat hujan pun turun, saya kembali ke tenda dan bersiap untuk menyiapkan makanan bersama teman saya. Hujan pun terus mengguyur tenda kami. “Ah! Kita salah pilih tanggal untuk berlibur” pekikku dalam hati. Tak hanya itu, anginpun datang dengan segala jurus hampir menerbangkan tenda-tenda yang sudah susah payah kami bangun. Setelah selesai menyiapkan makanan, kami semua beranggotakan 17 orang dengan 4 perempuan tak tanggung-tanggung melahap semua makanan sampai habis.

Maklum kelaparan, selesai makan ada yang merokok, ada yang mandi-mandi di laut, ada yang tebar pesona, ada yang tidur. Tidak terasa hari mulai malam, kami duduk bersama sambil bersenda gurau, ditemani api unggun. Beberapa teman cowok sibuk sendiri di tenda. Ada yang memang pacaran, jadi yah pas banget momentnya dingin-dingin pacaran di pantai. Singkat saja, saya bersama beberapa teman saya Ulfa, Aidil, Sadam, Ikhsan, dan Chris sedang duduk di depan api sambil bercanda, dari kejauhan saya melihat teman saya sedang asyik pacaran.

Dalam hati saya bergumam ” puas-puasin nih malam” lalu teman saya yang bernama ulfa ini merasa kedinginan dan gelisah. Lalu dia di ajak salah satu teman cowok saya yang bernama Aidil untuk berjalan-jalan menuju teman kami yang sedang pacaran tersebut. Lalu yang tersisa cuma kami beberapa orang di depan api unggun tersebut. Disini keanehan yang saya rasakan mulai terjadi. Saya merasa ada yang sedang menyaksikan kami dari kejauhan. Lalu saya mengajak teman-teman saya tadi untuk menyusul Ulfa dan Aidil.

Karena kebetulan Ulfa ini memang sedang naksir sama Aidil, timbulah niat saya untuk menggoda mereka. Saya berjalan di pesisir pantai menuju mereka sesekali melompat menari kegirangan karena malam itu penuh bintang, sejuk dan tenang. Saya sampai kegirangan overload. Setibanya saya di depan mereka, saya langsung mengeluarkan ponsel saya dan bermaksud ingin mengabadikan moment orang-orang yang sedang double date ini. Saat saya membuka aplikasi kamera, ponsel saya tiba-tiba menangkap sebuah sosok pocong di dalam ponsel saya.

Saya lalu berteriak histeris melihat sosok pocong berukuran 3×4 di layar ponsel saya. Sontak saya langsung menghapus foto tersebut, karena takut ponsel saya rusak atau apalah. Dari kejauhan tampak sesosok wanita berambut panjang acak-acakan berbaju putih sedang duduk di atas pohon lalu tertawa menyeringai seolah mengejek ketakutan saya. Salah satu teman saya lalu berkata “Vika, itu pocong sudah dari ngejar kamu. Saat kamu melompat dia ikut dari belakang”.

Antara percaya dan tidak saya lalu berteriak mengundang teman yang lain datang menghampiri kami yang ingin tahu apa yang terjadi. Kami semuapun kembali ke tempat api unggung untuk berkumpul dan bermaksud mencairkan suasana. Setelah penampakan pocong di ponsel saya, dan penampakan kuntilanak di pohon. Mata saya mulai bekerja menemukan sosok-sosok lain pulau ini. Ada sosok berukuran kecil berkepala botak bermuka tua dan bermata rongga sedang asyik bermain mengelilingi tenda-tenda kami.

Sadar akan itu, mereka mulai menatapku dengan tajam sambil tertawa khas anak kecil. Seluruh bulu kudukku merinding kepalaku menjadi berat. Lalu tiba-tiba teman saya yang bernama ulfa ini jadi diam dan berubah, pandangan matanya mulai aneh, liar dan cepat melirik kanan kiri. Saya mulai menemukan kejanggalan. “Ya Allah! Dia kerasukan”. Gumamku dalam hati. Salah satu teman saya menegur dia bermaksud untuk bercanda, agar suasana kembali normal. Lalu si ulfa ini tambah menjadi-jadi.

“Diamko semua, jangan ribut panas, panas, diamko nah, diam diamko, jangko ribut, jangko ribut” (Dialek Makassar artinya jangan ribut, diam kalian semua) hantu yang merasuki ulfa ini menegur kami untuk jangan ribut. Lalu beberapa dari kami pun ada yang sadar kalau dia kerasukan, dan ada yang masih bingung atas perubahan sikapnya yang menjadi-jadi. Kami semua terdiam dan panik harus berbuat apa. Si hantu yang memasuki tubuh ulfa ini tambah menjadi-jadi dia berteriak histeris sambil menangis dan mengeluarkan kata-kata yang sama sekali saya tidak tahu menahu artinya. Mungkin bahasa daerah.

Beberapa dari kami mencoba membantu membaca ayat kursi sambil memegang tasbih, ada yang membaca doa makan, dan saya yang memegang tubuh teman saya yang kerasukan ini. Sambil berteriak histeris dia berkata”panas, panas” saya yang sudah mulai lupa bacaan ayat kursi mencoba memutar otak untuk mengingatnya kembali. Lalu dari kejauhan sosok-sosok aneh lain bermunculan. “malam ini makin seram aja” pekikku.

Upaya kami untuk mengeluarkan makhluk astral dari dalam tubuhnya pun membuahkan hasil meskipun memakan waktu hampir sejam. Si ulfa lalu terjatuh pingsan, lalu beberapa saat dia terbangun dan berkata “Vika, kenapa saya disini? bukannya tadi saya masih duduk disana sama Aidil?”. Ya Allah, berarti dia sudah kerasukan sejak tadi masih duduk disana. Lalu kami pun bergegas ke tenda untuk istirahat dan keesokan paginya kami pulang.

KCH

Davikah

Sekedar kembali mengingatkan. “Jangan pernah baca ini sendirian” :)

All post by:

Davikah has write 2,703 posts

Please vote Penghuni Pulau Poddang-poddang Caddi
Penghuni Pulau Poddang-poddang Caddi
Rate this post