Pengunjung Kedai

Aku adalah mahasiswa Psikologi di salah satu Universitas di Taman Sari. Sambil kuliah aku mencari uang tambahan dengan berjualan makanan disekitar kampus. Awalnya hanya modal kecil-kecilan sampai ternyata usahaku itu laku keras. Sekarang aku bisa membuka kedai sendiri, yang tidak jauh dari kampusku. Malam itu kedaiku ramai dikunjungi oleh mahasiswa yang mencari hiburan malam. Sampai akhirnya aku harus menutup kedaiku agak larut, sekitar jam 11 malam.

Namun karena banyak orang yang berkunjung malam itu, membuatku sedikit lama di kedai untuk mencuci piring di dapur sampai-sampai aku lupa menutup kedai. Dan pintu kedai masih kubiarkan terbuka, Kedaiku itu terdiri dari dua lantai kebawah, karena posisinya dekat ke sungai maka lantai yang dibawah aku jadikan dapur umum.

Dan lantai diatas sebagai restoran nya yang menghadap langsung ke jalan taman sari bawah hampir menuju arah wastu kencana. Di depan kedaiku terdapat jalan kecil yang dipagari blok tempat orang untuk berjalan. Serta sebuah pohon tinggi besar yang kalo siang membuat kedaiku terlihat sejuk. Namun ternyata itu juga yang menjadi perhatian mahluk lain yang ada disekitar jalan taman sari.

Setelah aku selesai mencuci piring, aku tidak langsung menutup kedai. Aku duduk di mesin kasir dan menghitung pendapatanku hari itu. Sebenarnya aku tidak sendirian dalam mengelola bisnis ini, aku dibantu sahabatku iwan. Tapi malam itu iwan terpaksa pulang duluan, karena keluarganya mengadakan syukuran dirumahnya. Akhirnya sisa aku sendiri dan ketika aku sedang menghitung uang entah kenapa aku merasakan sesuatu yang tidak enak hati.

Sesekali aku menatap ke arah jalan besar didepan kedaiku, sudah sangat sepi. Semakin malam aku merasa semakin was-was. Aku bangun dari kursi kasir dan segera membereskan kursi-kursi yang tertata diluar. Tiba-tiba saja aku mendengar suara orang seperti masuk kedalam kedaiku. Suaranya sangat halus, reflek aku melihat ke sekitar. Tapi tidak ada siapa-siapa, mungkin itu hanya halusinasiku saja. Aku mulai memasukan meja dan kursi lalu, kejadian aneh itu terulang lagi.

“Permisi”…

Sampai terengar bunyi gaduh dari dalam dapur, yang berada dilantai bawah. Aku segera mendekati tangga menuju bawah, aku intip tapi tidak ada yang berubah sampai.

“Mas, permisi.. masih buka?”…

Seorang perempuan muda berdiri didepanku, Perempuan itu cukup cantik. Berpakaian putih pendek seperti baju tidur, aku melihatnya dan melemparkan senyum. Aku bilang kalo sebenarnya kedai ini akan tutup tapi karena kasihan padanya, mungkin dia lapar. Aku pun mempersilahkan dia duduk, aku membawakan menu makan untuknya tapi belum sampai menu itu ketangannya.

Wanita itu langsung menolaknya, tanpa basa basi dan hanya menggerakan tangan. Aku pun bertanya lagi apa yang akan dia pesan dan wanita itu hanya menjawab.

“Nasi”…

Aku pun terheran, mau pesan nasi aja. Kembali wanita itu tidak menjawab, sekarang malah terlihat semakin menunduk seakan tidak mau memperlihatkan wajahnya kepadaku. Lantas aku bertanya, mau pesan nasi nya sama apa. Telor atau, ‘wanita itu mengangguk sangat pelan’ dan menjawab.

“Apa aja”…

Aku mengerutkan kening, dan menuju ke dapur untuk mempersiapkan pesanannya. ‘Jam segini, ada perempuan pesan nasi aja’ ujarku dalam hati. Aku pikir itu hanya orang gila, tapi aku perlu untuk membuktikannya. Setelah beberapa menit, hidangan makanan pun selesai lalu kembali ke atas dan melihat perempuan itu masih terduduk disana.

Aku pun memberikannya kepada perempuan itu, sepiring nasi dan juga telur. Ketika aku tinggalkan dia memakan makanan itu, astaga perempuan itu memakan nasi dan telurnya itu dengan sangat lahap namun tanpa menggunakan sendok atau garpu. Perempuan itu memakan telurnya menggunakan tangan dan menggenggam nasinya langsung kedalam mulutnya.

Aku duduk di meja kasir sambil memperhatikan perempuan itu, tidak lama makanan pun habis. Kemudian dia berdiri, langsung melangkah keluar. Aku spontan berdiri, maksudku dia belum bayar makanan yang dia pesan dan aku coba menghentikannya. “Neng, maaf belum bayar nasi sama telurnya.” ucapku, namun perempuan itu seakan tidak mendengarku.

Dia berjalan tenang mengarah keluar lalu dia melihat kiri dan kanan jalan. “Yah pergi dah tuh perempuan, bisa rugi kalo seperti ini,” sambil berucap kesal. Lalu aku pun membiarkan dia pergi, dan segera membereskan piring bekas makan perempuan itu lalu menutup kedai. Sesekali aku melirik, perempuan itu masih berdiri didepan kedai. Aku segera menutup kedaiku dan membiarkan sebuah celah kecil agar aku bisa mengintip dari sela-sela roling door itu karena aku penasaran siapa perempuan itu.

Ketika aku mengintip perempuan itu masih berdiri dan perlahan dia mulai bergerak menuju sebuah pohon didepannya. Tangannya memegang kulit pohon itu dan mulai merabanya, dan kali ini perempuan itu mulai memeluk pohon yang cukup besar itu. Sambil kedua tangannya seakan meraba sesuatu, dan perempuan itu terlihat semakin memberikan tenaga dikedua tangannya lalu.

Astaga, perempuan itu mulai memanjat pohon didepan kedaiku itu. Kedua tangannya mulai memanjat ke atas pohon itu. Merangkak dan terus merangkak, menaiki pohon itu. Belum sampai puncak, perempuan itu kini berpindah ke sebuah dahan yang cukup keras. Kini perempuan itu terduduk di dahan itu dan aku bisa melihat kaki nya yang terjulur kebawah, dia menggoyangkan kakinya dan aku mulai mendengar suara cekikikannya.

Perempuan itu terus cekikikan sambil mengangkat kakinya maju mundur seperti orang yang lagi di atas ayunan. Aku diam terpaku, badanku tidak bisa digerakan. Tiba-tiba dia mengarahkan pandangannya kepadaku, Seakan dia tau kalo aku sedang mengintipnya dan pelan-pelan wanita itu mulai berdiri di atas dahan pohon dengan wajah tersenyum sambil tertawa cekikikan.

Dan wanita itu meloncat dari pohon lalu menghilang, aku mengumpulkan semua tenaga dan langsung berlari ke dapur. Aku duduk jongkok dibawah tangga, aku takut setengah mati lalu aku coba membaca doa yang aku bisa. Aku terus membaca doa sambil menenangkan diriku, aku mulai mengatur nafasku. Kini aku masih terdiam dibawah tangga sampai.

loading...

“hihihi”…

Terdengar suara yang cukup mengganggu, aku memejamkan mataku. Aku tidak berani melihat asal dari suara itu. Suaranya semakin jelas terdengar mendekatiku, semakin mendekatiku. Ada sebuah tangan dingin yang memegang pipi ku, tangan itu kini mulai mengelus-elus pundak dan kini aku merasakan sebuah hawa dingin tepat berada didepan wajahku.

Aku sudah tidak tahan lagi dan ingin segera keluar dari kedai. Aku memberanikan diri membuka mataku dan sesosok wajah muncul dari arah sela-sela tangga tepat didepan wajahku. Dengan senyum menyeringai kepadaku, tangannya terus memegang pipiku sambil terus tertawa cekikikan. hingga aku akhirnya tidak sadarkan diri. Singkat cerita esok harinya, aku bertemu dengan iwan. Aku menceritakan kepadanya tentang kejadian semalam.

Iwan hanya tersenyum dan berkata, bahwa dia juga pernah melihatnya dan konon menurut iwan, perempuan itu adalah penunggu yang berada didepan kampus. Aku tidak bisa menjawab apa apa dan iwan bilang, perempuan itu sering mengunjungi dia ketika jaga sendiri. Mungkin karena itu, beberapa warung jajanan di jalan ini tidak pernah buka sampai larut malam karena perempuan itu sering muncul dan perempuan itu bukanlah manusia melainkan sosok mahluk halus penunggu taman depan kampus itu.

Share This: