Perahu Kecil di Tengah Malam

Hallo guys, namaku robbyansyah panggil saja robby. Langsung saja ya guys ke cerita dengan judul perahu kecil di tengah malam. Di tahun 20013 lalu di bulan november saya berkunjung ke rumah nenek saya yang berada di sebuah kampung di daerah Sekayu, Sumatera Selatan, sedangkan saya tinggal di kota Palembang. Saya berangkat bersama kedua orang tua, kakak laki-laki, kakak peremuan saya, kami berangkat pagi dan tiba di kampung nenek pada tengah hari sekitar jam 12.15 siang.

Aku pun langsung memberi salam dengan mencium tangan nenek kakekku. Ketika pukul 20.00 kami berkumpul di ruang keluarga dan bercerita tentang masa kecil ayahku, bercerita tentang aku dan kakak-kakakku sewaktu kecil. Sampai kami pun bercerita tentang hantu. Karena aku takut mendengar cerita kakek aku pun pura-pura tidur, eh malah ketiduran beneran di pangkuan ibuku.

Sekitar pukul 01.30 aku pun terbangun dan aku tersadar sudah berada di kamar bersama kakak laki-lakiku. Aku terbangun karena ingin buang air kecil. Tapi aku takut untuk buang air kecil sendirian, apa lagi setelah aku memikirkan cerita kakek tadi. Karena terlalu lama berpikir akhirnya aku pun sudah gak tahan pengen buang air kecil dan aku beranikan diri pergi sendiri menuju anak sungai yang ada di belakang rumah kakekku.

Maklum di kampung kakekku belum ada kamar mandinya. Setelah aku sampai di sungai dan berdiri di tepian sungai aku mellihat ada perahu kecil yang sedang di duduki seorang lelaki yang memakai topi caping yang seperti biasa di pakai petani. Dalam hatiku pun penasaran, sambil buang air kecil aku berpikir siapa orang duduk di perahu kecil itu tengah malam begini?

Setelah aku selesai buang air kecil aku pun tidak langsung masuk rumah. Batinku masih penasaran dengan sesosok pria yang duduk diam di atas perahu kecil tersebut. Rasa penasaranku pun semakin menjadi-jadi, kuberanikan diri untuk mendekati perahu yang letaknya di tepi sungai, sehingga aku hanya berjalan sekitar 5 meter ke depan saja untuk melihat siapakah itu.

Jarakku semakin dekat dengan perahu kecil itu, semakin dekat, dan sekarang tinggal satu langkah saja menuju orang yang duduk di perahu itu. Keadaan yang gelap semakin membuat suasana menjadi mencekam. Maklumlah di kampung ini listrik masih belum ada, hanya ada obor yang di pasang di dekat tepian sungai. Sekali lagi ku beranikan diri memanggil orang itu dan dengan menepuk pundaknya dan berkata “pak….!!”.

Belum selesai bicara, pria itu menoleh ke arahku dan betapa terkejutnya aku. Mukanya hancur penuh darah dengan mata yang menonjol keluar serta bibirnya yang robek hingga ke telinga. Seketika mulutku berat banget mau teriak kayak di jahit dan kakiku pun sama beratnya mau lari gak bisa. Sehingga sekitar satu menit lebih aku tatap muka sama makhluk itu.

loading...

Dan setelah itu aku gak ingat apa-apa. Keesokan harinya aku bangun sudah di rumah. Kata kakek, aku pingsan di tepi sungai. Kakek baru menemukan aku ketika kakek mau ambil wudhu di sungai untuk shalat subuh. Aku pun menceritakan kejadian semalam kepada semua keluargaku.

Kakek hanya senyum kecil dan bilang “dia itu pak hamid yang rumahnya di seberang sungai ini yang rumahnya di rampok dan pak hamid di bunuh perampok tersebut. Pak hamid adalah orang paling kaya di kampung kakek. Mungkin pak hamid ingin berkenalan denganmu ujar kakek sambil tertawa ringan. Tamat/selesai, maaf ya kalau gak seseram cerita kalian para senior.

loading...