Percakapan Dengan Pedagang Cilok Goreng

Ini cerita sebenarnya sudah setahun yang lalu diceritakan oleh seorang pedagang cilok goreng (cireng) yang sering mangkal didekat rumah. Awalnya sih karena iseng saja ngobrol-ngobrol sambil mencoba cilok goreng buatannya, kalau cocok kan bisa langganan beli disana gak jauh-jauh harus nyari. Eh ya, aku menyebutnya cilok goreng tapi entah apa nama sebenarnya dari masakan ini, habisnya digerobak jualannya gak ada namanya sih *hehe.

Cilok goreng ini adalah cilok yang ditusuk seperti sate kemudian dilumuri oleh telur mentah yang sudah dikasih garam sama masako terus digoreng dah baru kemudian ditiriskan dan dijual, ditempat pembaca KCH namanya apa ya? Kirim jawabannya ke grup facebook KCH ya (bercanda). OK lanjut kecerita, awal perkenalan aku menanyakan namanya siapa, tinggal dimana, aslinya dari mana (karena logat bicaranya berbeda dengan lingkungan sekitar), sudah berapa lama berjualan, modalnya berapa, untungnya berapa, kenapa tusuknya pakai bambu bukan lidi biar lebih hemat, belajar dari mana jualan beginian, jualan dari jam berapa sampai jam berapa, sudah menikah atau belum, anaknya berapa kalau sudah nikah, terus istrinya cantik atau tidak *haha (pertanyaan yang ini cuma gak nyata), nah ini yang terakhir suka duka dia saat berjualan cilok goreng dan apakah ada tidak kejadian-kejadian aneh saat berjualan.

Akhirnya dia dengan tersenyum menjawab semua pertanyaanku secara beruntun (sebenarnya dialognya gak kayak gini juga kali tapi untuk mempersingkat waktu dalam mengetik biar tangan gak pegal aku buat seperti itu saja, boleh kan). Nama aku Yudi (bukan nama sebenarnya *hihi), tinggal dikampung sebelah, aku aslinya dari Lombok Timur dan baru setahun ini tinggal di Mataram semenjak menikah, jualan baru satu tahun tapi masuk komplek ini baru hari ini.

Modal ada sih tapi gak banyak jadi sebaiknya gak disebutin (katanya malu), untungnya ada lah bisa buat biaya hidup sehari-hari, pakai bambu biar lebih bersih kelihatannya karena kalau pakai lidi kelihatan kotor dan hitam, belajar dari lihat-lihat orang lain jualan terus coba-coba buat dirumah dan akhirnya jualan deh, jualannya mulai jam 4 sore sampai gak tentu kadang jam 8 malam bahkan sampai jam 11 malam juga pernah tergantung kapan ciloknya habis.

(Masalah nikah atau belum sudah ada dijawaban diatas), belum punya anak tapi akan karena istri sedang hamil, (pertanyaan ini abaikan), kalau orang jualan itu suka dukanya sebenarnya gak banyak sih asal dijalanin saja dengan tekun dan ikhlas (benar nih ngomongnya), sukanya itu kalau jualan habis dan dukanya itu kalau jualannya gak habis (nah lho).

Masalah kejadian aneh saat jualan sih ada beberapa tapi ini kejadian tidak berhubungan dengan pembeli hantu atau pernah ngelihat setan saat jualan tetapi lebih kepersaingan usaha antar pedagang cilok goreng dan sejenisnya. Dahulu waktu awal-awal mulai jualan cilok gorengnya laku terjual bahkan belum sampai 3 jam selalu sudah habis. Hal ini menimbulkan iri hati dari pedagang yang lainnya sampai dia pernah difitnah pakai daging anjinglah, pakai telur busuklah pokoknya macam-macam dah tapi syukurnya para pembelinya tidak menghiraukan mungkin karena jujur saja dalam berjualan.

Sampai pada suatu hari setiap mulai berjualan badan akan gatal-gatal tidak tertahankan, tapi walaupun begitu tetap berjualan sampai setelah beberapa hari ketemu pembeli yang tahu masalah saya kemudian dia menyuruh menaburkan garam yang sudah dia doakan disekitar rumah, dan ajaibnya keesokan harinya setelah garam ditaburkan badan sudah berhenti gatal-gatal.

Kemudian kejadian lainnya saat berjualan selama beberapa hari tidak ada satupun orang yang mau membeli cilok goreng saya, katanya disekitar gerobak ada bau busuk, tapi anehnya saya tidak mencium bau apapun dan sampai pada akhirnya ada seorang nenek memberikan saya segelas air kemudian menyuruh menyiramkannya kegerobak saya dan kembali ajaibnya bau busuk hilang seketika.

loading...

Setelah itu cilok goreng saya diserbu pembeli dan segera habis terjual. Kejadian terakhir adalah hampir selama seminggu minyak goreng gak bisa panas walaupun nyala kompornya sudah diputar penuh tapi tetap saja gak mau panas, anehnya saat dipakai masak dirumah bisa panas tetapi setiap dipakai berjualan minyak goreng gak bisa panas. Waktu itu saya hampir putus asa karena jelas saja gak bisa buat cilok gorengnya.

Sampai suatu hari saat saya sedang melamun dipinggir jalan seorang ustad mendekati saya dan bertanya kenapa saya melamun. Saya pun menceritakan kesulitan yang saya alami. Mendengar cerita saya itu pak ustad cuma manggut-manggut, kemudian beliau meminta sedikit garam yang saya bawa dan mendoakannya. Setelah itu beliau menyuruh saya memanaskan minyak goreng yang ada diwajan dan setelah beberapa lama dia melempar garam itu kedalam wajan dan ajaib minyak goreng kembali panas ditandai dengan suara garam yang terkena minyak goreng.

Pak ustad pun berpesan agar saya selalu bersabar dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dan saya pun mengiyakan nasihat pak ustad tadi dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Semenjak kejadian itu akhirnya saya memutuskan berhenti berjualan didaerah itu dan pindah kesini. Begitulah hasil obrolan saya bersama si penjual cilok goreng, semoga bermanfaat bagi pembaca KCH dan tidak lupa saya katakan kalau cilok gorengnya memang enak, mau? Sekian.

Yandi Lalu

Yandi Lalu

Facebook – Yandi Lalu »

Instagram – @yandilalu

All post by:

Yandi Lalu has write 87 posts

Please vote Percakapan Dengan Pedagang Cilok Goreng
Percakapan Dengan Pedagang Cilok Goreng
1 (20%) 1 vote