Perjalanan ke Ujung Genteng yang Menyeramkan

Hai ketemu lagi dengan saya kurnia, sebelumnya saya pernah berbagi cerita tentang rumah saya yang angker, dan sekarang saya mau berbagi cerita pengalaman nyata saya juga, langsung saja ya. Waktu itu saya merencanakan liburan dengan teman-teman saya erwan, rio, elsa dan kurnia saya sendiri. Kami rencana waktu itu akan pergi ke pantai Sawarna, pas hari yang di tentukan pas berangkat kita malah memutuskan ke pantai Ujung Genteng saja *hehe dan memang katanya, pantainya lebih cakep juga.

Kami pun dari Jakarta perjalanan siang pakai mobil, sampai jam 8 malam kita baru tiba di Pelabuhan Ratu kami pun istirahat disana sambil nyari makan juga dan ngopi. Menurut saya pantai pelabuhan ratu sih kurang bagus ombaknya gede, pasirnya banyak sampah juga tapi lumayan buat istirahat sebentar berhubung ngantuk kita coba istirahat tidur sebentar di dalam mobil.

Gak terasa kita tertidur sebentar, tapi sekitar jam 1 malam kita terbangun dan gak bisa tidur lagi. Akhirnya kita berunding mau ke pantai Sawarna atau pantai Ujung Genteng. Akhirnya kita memutuskan ke pantai sawarna dulu nih, kita pun jalan sekitar jam 1 malam, tapi pas di tengah-tengah jalan kita *parno sama keadaan jalan yang sepi pokoknya seram, takut ada begal, rampok.

Akhirnya teman saya yang perempuan meminta putar balik saja, dan akhirnya saya putar balik. Temanku bilang “jadi kita kemana?”, saya jawab “apa mau ke pantai ujung genteng?”. Tapi mereka pada bilang terserah, dan akhirnya kita menuju ke pantai ujung genteng, saat di pertengahan menuju ke sana pokoknya sudah jauh dari pantai pelabuhan ratu dan gak mungkin kalau harus putar balik lagi.

Di perjalanan ke pantai ujung genteng lebih seram lagi, melewati beberapa hutan pohon karet paling kita melintasi perkampungan itu gak banyak rumah warga, paling cuma 10 rumah saja dalam 1 kampung itu dan melewati hutan lagi. Sedangkan mobil yang melintas hanya mobil kami saja, kita diperjalanan melewati hutan, kami ketakutan sama dedemit iya, sama rampok pun iya.

Dan di salah satu hutan, benar deh kita ketemu itu sama dedemit, di perjalanan di pinggir jalan ada kuntilanak gede banget badannya, rambutnya panjang, tapi kita tetap berdoa dan melewatinya karena kalau terlalu *parno dan gak fokus nyawa kita taruhannya, ngeri kita oleng jatuh ke jurang juga, bukan hanya itu. Kita dengar suara orang menangis, ketawa, teriak di hutan, dan parahnya lagi masa pohon goyang-goyang sendiri pas kita melintas, teman saya yang perempuan pada mau menangis melihat kejadian itu, tapi saya yakinkan mereka agar berdoa, agar perjalan kita lancar dan selamat.

Akhirnya jam 4 subuh kita sampai di perkampungan. kita memutuskan untuk shalat dulu, kebetulan ada warung yang jual gorengan dekat masjid. Lumayan kita bisa isi perut, soalnya cape juga lapar terlalu tegang sama suasana yang habis lihat hantu. Sesudah selesai dan makan gorengan alias kenyang, kami memutuskan jalan lagi, tapi pas kita jalan ke mobil, ada orang yang menyapa kita, dan katanya ” lain kali kalau mau ke pantai sini dari pagi saja, soalnya perjalanan kalau malam sering terjadi kecelakaan dan jalanannya belok-belok, sempit, melewati hutan dan jangan banyak melamun”.

loading...

Saya pun sudah menyadari itu karena selama di perjalanan saya sedikit panik, bisa *berabe kalau sampai bengong, akhirnya saya jalan kembali jam 5 subuh. Baru saja melewati kampung yang barusan sudah ketemu pocong saja di pinggir jalan, lagi lihatin mobil kita. Sontak kita kaget banget, wajahnya serem hancur.

Kita kebut saja sambil baca doa terus, dan sampailah kita di pantai ujung genteng, pantainya bagus bening seperti pantai di lombok *hehe. Buat kalian yang mau ke pantai sawarna atau pantai ujung genteng saya sarankan berangkat dari pagi, pertama agar jauh dari kejahatan, kedua agar selamat pas perjalanan dan jangan lupa bawa teman yang pintar berdoa juga, *hehe.

KCH

Kurnia

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

Kurnia has write 2,684 posts