Perkenalan Yang Tak Pernah Terlupakan

Ini kisah nyata di tahun 2005. Singkat cerita, orang tua ku baru selesai bangun rumah baru, lokasinya berada tepat di belakang rumah yang lama yang di hubungkan dengan sebuah pintu. Area rumah baru orang tua dulunya rumah buyut ku. Setelah lama banget kosong karena kakek buyut ku meninggal, rumah itu di kenal spooky oleh warga di sekitar rumah (cerita tentang rumah kakek buyut ku akan ku ceritakan lain waktu).

Jadi walau belum 100% selesai, tapi tiap malam aku selalu main gitar di lantai atas, sambil di temani tape/radio (buat ngulik lagu). Kejadiannya entah di malam keberapa, lupa. Tapi malam itu awalnya seperti malam-malam sebelumnya. Aku naik ke atas (sendirian, karena memang rumah belum selesai dan orang tua ada di rumah lama) lalu hidupin tape dan genjrang-genjreng bak satria bergitar, hehe.

Oh iya, rumahku ini di pinggir jalan raya, tiap saat banyak truk lewat dan lantai atas itu terdiri dari 3 ruangan. Di tengah ruang duduk, di kanan dan kiri itu kamar dan di depan ruang duduk itu balkon. Saat serius ngulik lagu, mendadak samar-samar tercium bau busuk, saat itu berbarengan dengan truk yang lewat. Aku sih berfikir positif aja, mungkin ada bangkai tikus di atas plafon terus kena angin karena ada truk lewat.

Namun lama kelamaan baunya seperti persis di depan muka, iseng-iseng ku baca ayat kursi (anak band juga hafal ayat kursi donk). Pas ayat kursi selesai ku baca, sekejap bau bangkai berubah jadi bau wewangian bunga (entah bunga apa gak paham). Dalam hati “sial amat, baru jam 8 malam dah kayak gini!”. Tengkuk dan pipi rasanya tuh kaku. Masih di posisi duduk di lantai sambil pegang gitar, aku mikir keras “mau gimana ini, di rumah sendirian, ibu di rumah depan”.

loading...

Kalau di pikir-pikir rada konyol juga, di saat seperti itu aku masih juga mikir gimana caranya turun? “apa aku lari ke balkon terus terjun? ah, bisa mati deh, atau turun tangga? tapi kalau saat turun terus yang punya nongol gimana?” akhirnya aku matiin tape pelan-pelan, habis itu letakin gitar pokoknya semua serba pelan, dalam hati biar tuh yang punya bau wangi ngira aku gak takut, padahal. Terus turun tangga pun juga slow, saat sudah nyampe di bawah aku lari sekencang-kencangnya sampai pintu aku tabrak.

#itu kisah nyata, apa yang di ucapkan di dalam cerita ini 100% mirip seperti aslinya. Perkenalan yang tak pernah terlupakan.

Share This: