Perlawanan Sengit Hantu Nenek Tua

Assalamualaikum wr, wb. Apa kabar kakak admin KCH dan semua kakak sahabat KCH? Masih ingat enggak sama Lala? Penulis cerita yang cantik dan rajin menabung ibadah untuk bekal di akhirat nanti. Maaf ya sebelumnya kalau senyum aku yang manis serta tangan aku yang lembut ini akan mengiringi sepucuk mata pena yang beralun-alun merangkai kata tulisan berisikan kenangan kisah yang aku alami pada hari minggu tanggal 26 november 2017. Berhubung kondisi anggaran dana saku waktu itu lagi memperihatinkan. Malam itu aku hanya mengajak om keriting untuk sekedar jalan-jalan.

Om: kemana memang La?
Aku: kita ke taman kodok yuk, sudah lama banget om kita gak kesana.
Om: *yupz.

Setelah melaksanakan shalat maghrib berdua di rumah kami pun berangkat menuju sebuah taman. Di atas kendaraan bermotor beroda dua yang melaju kencang. Pipiku tersandar tepat di tengah pundaknya dan tanganku memeluknya dengan sangat erat.

Aku: pelan saja om bawa motornya.
Om: oke.

loading...

Setelah sampai di taman aku melihat sudah ada beberapa pasangan anak muda juga yang lagi berduaan. Di taman itu aku dan om keriting hanya duduk di sebuah pembatas jalan. Duduk berdua menghadap ke sebuah patung kodok yang berada di tengah taman. Tidak jauh dari tempat kami duduk aku melihat ada satu pohon bunga. Bunganya berwarna merah muda dan terlihat sangat indah banget. Tanpa sengaja ternyata aku dan om keriting melihat ke arah yang sama.

Om: kamu tunggu disini ya La.
Aku: oke.

Om keriting langsung berdiri dan berjalan menghampiri pohon bunga itu. Aku pikir pasti dia mau memetik bunga itu. Tidak lama setelah sampai di pohon bunga itu dia pun kembali. Aku tidak tahu apakah dia sudah memetik bunga itu atau belum karena dia menghalangi pandanganku ke arah pohon bunga itu. Yang jelas sih dia menyembunyikan tangannya kebelakang.

Om: ini La buat kamu.

Ucapnya sambil senyum lalu mengarahkan tangan yang dia sembunyikan tadi. Tidak lama dia sedikit berlari dari aku karena aku mengejarnya.

Aku: jahat banget sih.
Om: *hehe.

Aku merasa sangat kesal karena saat dia membuka tangan aku hanya melihat daun kering di telapak tangannya. Sambil memasang wajah marah aku kembali duduk. Tidak lama setelah itu om keriting kembali duduk di samping aku.

Aku: kenapa om gak petik bunga itu sih? (Ucapku sambil cemberut).
Om: maaf La, tadinya om mau petik bunga itu buat kamu, tapi setelah sampai om memilih hanya mengambil daun yang sudah terjatuh saja, karena om sangat gak tega buat memetik bunga itu La, om takut pohon itu merasa sedih karena bunganya om petik, lagian pasti nanti ada yang lebih membutuhkan bunga itu La.

Aku: siapa ?
Om: nanti besok saat mentari terbit pasti ada lebah yang mencari bunga itu lalu hinggap di bunga itu.

Tiba-tiba saja perasaan marahku jadi hilang. Yang ada aku jadi sangat merasa senang dan bahagia. Entah apa dan kenapa dengan perlahan aku mulai mendekatkan wajahku ke wajahnya. Saat aku ingin menyentuh lembut bibirnya tiba-tiba saja dia menahan bibirku dengan jarinya.

Om: sudah isya La, kita ke masjid dulu yuk.

Seketika dengan perlahan aku mulai kembali menjauhkan wajahku dari wajahnya. Aku langsung memegang tangannya lalu aku menyandarkan pipiku di bahunya.

Aku: shalatnya nanti saja om di rumah, aku masih ingin disini.
Om: iya La, gak apa-apa.

Sekarang aku mengerti kenapa dia hanya memberikan aku sebuah daun. Hubungan yang kami jalin ini seperti sebuah pohon yang berdaun rimbun. Hanya sebatas daun karena pada akhirnya nanti hubungan ini tidak akan indah seperti bunga yang mekar itu. “*Ting, ting, ting” suara kuku panjang yang di ketukan ke pagar besi, to be continue perlawanan sengit hantu nenek tua bagian 2.

Keriting

Keriting

Lala & keriting .
Terimakasih sudah baca tulisan sederhana kami.
meski tidak seram aku harap bisa menghantui yang lagi sendiri dan terlarut sepi.
(^•^)
wassalam wr wb

All post by:

Keriting has write 28 posts

Please vote Perlawanan Sengit Hantu Nenek Tua
Perlawanan Sengit Hantu Nenek Tua
4.3 (86.67%) 3 votes