Permainan Melibatkan Nyawa

Pada sore hari Rajwa temanku tiba-tiba chat untuk mengajak bermain dirumahnya bersama teman-temanku yang lain, dan karena temanku yang lain menyetujuinya, aku pun menjawab chatnya dengan kata “oke”. Saat akan menuju rumah Rajwa, aku melihat seorang perempuan yang sedang melamun, karena aku tak mau jika nantinya terjadi hal tak diinginkan seperti kesurupan, apalagi melihat seorang gadis itu melamun didekat pohon yang besar dan tua itu.

Saat aku dihadapannya, aku melambaikan tangan kearahnya, dan saat dia melihat kearahku aku menanyainya alasan kenapa dia melamun didekat pohon tua itu, dan dia tidak menjawab. Aku tak menyerah untuk menanyakan itu, dan akhirnya dia menjawab karena dia tak punya teman. Aku pun mengajaknya bermain bersama dirumah Rajwa lalu menanyakan namanya, dia mempunyai nama yang bagus menurutku, yaitu Rara.

Saat sesampainya dirumah Rajwa, aku langsung memasuki rumah Rajwa, karena dichat katanya jika sudah sampai dirumahnya langsung masuk saja. Rajwa dan teman-temanku yang lain sedang berkumpul diruang tengah rumah Rajwa, sedang lesehan. Aku pun duduk lesehan berada disebelah Nadin juga Rara, teman-temanku yang tadinya tak menyadari kehadiran Rara, kini mulai memperkenalkan diri masing-masing.

Awalnya kita bermain kartu UNO yang disarankan oleh Vidia tetapi karena permainan itu terasa membosankan dan tidak ada rekomendasi yang pas untuk permainan kali ini, akhirnya kita meminta agar Rara mau memberikan sarannya, dan yang Rara sarankan Truth or Dare. Kita semua sepakat yang akan menanyakan, memutar bolpoin, dan mengajukan tantangan adalah Rara, tetapi kini ia mengajukan lagi jika permainan ini ada Truth tak akan ramai, karena dia baru saja kenal denganku dan teman-temanku, jadi permainan ini hanya berlaku untuk tantangan atau dare saja.

Saat bolpoin diputarkan, benda itu menunjuk kearah Nadin, terlihat wajah bingung dan seringaian yang ditampilkan Rara, tak lama berpikir dia mengajukan agar Nadin menyilet lengannya tepat berada diurat nadinya. Aku dan teman-temanku tertawa karena merasa lucu dengan bercandaan Rara, tapi Rara tak tertawa sama sekali hingga akhirnya kita berasumsi bahwa itu bukanlah candaan.

Nadin menggelengkan kepalanya, dan Rara melotot dan mengeluarkan silet dari saku celananya, entah kenapa Nadin menurut saja dan langsung menyilet pergelangan tangannya. Kulihat kini wajah Nadin pucat dan keunguan. Aku, Rajwa, dan Vidia melihat takut kearah Rara.

loading...

Aku ingin segera bangkit dan berlari, tetapi tak bisa, seperti ada lem perekat pada tubuhku yang duduk menempel dikarpet Rajwa, Rara berkata bahwa permainan ini harus diselesaikan dan dia berkata tak suka jika sesuatu yang dimulai tidak diselesaikan. Rara memutar bolpoinnya, dan benda itu kini menunjuk Vidia, Vidia kini sudah berkeringat dingin menantikan tantangan yang diberikan Rara, Rara menarik rambut Vidia dan diseretnya tubuh yang tidak bergerak sedikitpun, aku tak tahu apa yang terjadi tapi aku mendengar teriakan Vidia yang sangat kencang.

Aku melihat Rara kembali dengan pisau lipat ditangannya, dan dia masukkan pisau itu kedalam celananya. Aku sekarang sudah takut setengah mati, Rara tak peduli dengan raut wajah ketakukan yang ditampilkan olehku dan Rajwa, dia memutar bolpoin lagi dan kini benda itu mengarah pada Rajwa, aku tak tahu kenapa aku tak bisa bersuara entah kini aku sedang ketakukan hingga membuat tenggorokanku kering.

Aku lihat kearah Rajwa dan dia memberiku bahasa isyarat, tetapi aku tak tahu apa maksudnya, tiba-tiba suara Rajwa kini terdengar, dia meminta silet pada Rara dan dengan tanpa takutnya, Rajwa menyilet pergelangan tangannya, seperti yang dilakukan Nadin tadi, ketakutanku semakin menjadi. Kini Rara melihat kearahku dengan senyuman manisnya, lalu dia mendekat kearahku dan memelukku, setelah itu ia membisikan alasannya mengapa dia membunuh nyawa teman-temanku.

Dia berkata bahwa alasannya karena dia tak suka dengan orang yang selalu menindas dan orang yang membuat kekacauan yang berakibat pada mental seseorang. Rara berbisik lagi padaku, dia meminta maaf. Sebelum aku menganggukan kepala, dia sudah terlebih dahulu menancapkan pisau tepat dibagian jantungku, sayup-sayup aku mendengar Rara berkata “ini adalah tantangan untukmu, Illy”.

Lalu aku pun menutup mataku kesakitan. Maaf bila ada kesalahan dalam penulisan cerita dengan judul permainan melibatkan nyawa, karena baru pertama kali membuat cerita sepanjang ini. Terima kasih admin KCH.

KCH

Denaya Ardhelyna

Sekedar kembali mengingatkan. “Jangan pernah baca ini sendirian” :)

All post by:

Denaya Ardhelyna has write 2,704 posts

Please vote Permainan Melibatkan Nyawa
Permainan Melibatkan Nyawa
Rate this post