Perpustakaan Daerah

Praktek kerja lapangan itulah yang waktu itu aku sedang lakukan dan sebuah perpustakaan daerah adalah tempat aku menyelesaikan PKL ku. Namaku Gina, aku adalah mahasiswi tingkat akhir. Lantai semen yang dingin memantulkan udara dingin dari air conditioner yang membuat udara 2 kali lipat dinginnya. Aku segera menaruh barangku di pojok meja ruang baca itu. Aku menata meja dengan taplak putih yang terlihat sudah pucat dengan warnanya. Lemari tinggi yang tertata rapih penuh buku bersampul dengan buku bacaan anak-anak.

Aku pun membereskan beberapa kursi yang tidak beraturan bekas pengunjung yang datang ke perpustakaan daerah kemarin sore. Aku sadar ini adalah tanggung jawabku sebagai seorang yang sedang mengerjakan tugas PKL untuk nilai yang bagus dan bisa membantu skripsi ku, aku akan lakukan apa saja. Namun, ketika aku sedang membereskan ruangan baca anak-anak itu mata ku tidak sengaja menangkap hal yang aneh di ruangan yang lain.

Ruang baca sejarah, yaitu ruangan yang berada tepat berseberangan dengan ruang baca anak. Hanya terhalang oleh kaca besar yang tembus pandang. Disana tanpa sengaja aku melihat sebuah tumpukan buku yang usang tertumpuk rapih di sebuah meja belajar pojok ruang baca sejarah. Seperti ada seseorang yang sudah membaca buku itu dan dibagian lain banyak buku yang berserakan seperti jatuh dari lemari tempat buku itu berasal.

Aku mengerutkan kening, “Tumben Bu Ani selaku penanggung jawab ruang buku sejarah tidak membereskan buku-buku itu, padahal Bu Ani ini orangnya rapih sekali” ucapku dalam hati. Satu hal yang tidak mungkin Bu Ani adalah membiarkannya berantakan. Aku berjalan pelan menuju ruangan buku sejarah itu dan pintu ruangan tersebut tidak terkunci. Ini sangat aneh, pagi itu aku cukup penasaran. Sekali lagi, Bu Ani bukan orang yang teledor bahkan dia tidak akan membiarkan karyawan lain masuk ke ruangannya.

Aku ingat waktu awal pertama PKL di perpustakaan daerah ini, aku masuk ke ruangan Bu Ani yang berada di ruangan buku sejarah. Awalnya aku hanya ingin tau buku-buku apa saja yang ada di ruangan itu. Tapi ketika aku masuk dan mau mengambil buku, Bu Ani melarangku. Dia bilang buku-buku diruangan ini hanya untuk pembaca yang mengerti dan tau tentang sejarah. Bukan untuk orang yang hanya iseng sepertiku. Pertamanya aku kesal, namun akhirnya aku mengetahui dari karyawan lain kalau di ruangan buku sejarah itu terdapat banyak arsip dan dokumen penting.

Itu sebabnya hanya orang tertentu saja yang bisa masuk. Bahkan pembaca umum pun tidak diperbolehkan masuk tanpa ijin khusus. Karena itu akhirnya aku mengurungkan niatku dan kembali menarik gagang pintu itu. Tiba-tiba sebuah tangan yang dingin menggenggam tanganku, Aku sangat terkejut karena tangannya dingin sekali. Tangan putih dan pucat dengan bagian keriput ditangannya. Tangan seorang wanita menahanku, perlahan aku mengangkat wajahku dan perempuan itu berambut panjang.

“Bu Ani, maaf bu. Aku kira Ibu belum datang. Barusan pintunya terbuka, jadi saya tutup” sedikit tergagap aku menjelaskan hal itu pada Bu Ani, yang berdiri dengan matanya yang melotot. Bu Ani mendorongku dengan tangannya dan lagi-lagi dia memperingatkanku. “Saya sudah bilang untuk jauhi ruangan saya atau kamu akan tau akibatnya”. Aku mengangguk ketakutan karena Bu Ani tampak marah. Beliau pun menutup pintu dan masuk lalu membereskan buku-buku yang berceceran itu.

Seharian aku tidak enak perasaan, Aku merasa bersalah. Aku anak PKL tapi aku membuat ulah di perpustakaan daerah ini, terkadang aku menatap Bu Ani yang sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya. Dia terkadang membalas tatapanku dengan tatapan yang sinis. Sore hari pun tiba. Aku membereskan buku yang berceceran di lantai dan meja. Beberapa anak berpakaian putih biru masih asik mencari dan membaca buku.

Hingga terdengar suara perempuan di pengeras suara memberikan pengumuman. Kalau perpustakaan daerah ini akan segera tutup. Anak-anak itu mulai berdatangan kepadaku, dan aku pun mulai disibukan dengan catatan peminjaman buku. hampir kurang dari satu jam aku melayani anak-anak itu, sekarang hanya ada aku di ruangan ini. Aku menengadahkan kepalaku untuk mencari Bu Ani, tapi ruangan buku sejarah itu sangat sepi. Tidak ada siapa-siapa dan satu persatu lampu lorong mulai mati.

loading...

Lampu ruangan sastra, lampu ruangan ensiklopedia, dan lampu ruangan lain. Aku segera membereskan ruanganku dan keluar dari ruangan buku anak lalu menguncinya. Lampu ruangan buku sejarah masih menyala, aku melangkah perlahan ke ruangan buku yang tidak semua orang bisa masuk kesana dan pintunya tidak terkunci. “Bu Ani.. Bu Ani” tidak ada jawaban dari ruangan itu.

Aku coba untuk masuk kedalam ruangan itu, tapi aku teringat perkataan Bu Ani. “Saya sudah bilang untuk jauhi ruangan saya atau kamu akan tau akibatnya”. Aku tersentak karena tiba-tiba ada sesuatu melintas di kepalaku. Aku memicingkan mataku, aku melihat seorang perempuan muda sedang berdiri membelakangiku. didepan rak buku, aku agak keheranan. tanpa berpikir panjang aku langsung masuk, aku seperti lupa akan kata-kata Bu Ani.

Wanita itu seakan menghipnotisku untuk masuk ke ruangan. “Maaf Mbak, Perpustakaan nya sudah mau tutup. Kalau Mbak mau pinjam besok aja” Suaraku menggema diruangan itu. Dan perempuan yang tadinya ingin mengambil buku itu mengurungkan niatnya. Tapi perempuan itu tetap berdiri didepan kayu lemari besar. Tampaknya di mencari buku yang lain, aku terus memicingkan mataku sambil berjalan menghampirinya.

“Maaf Mbak, Perpustakaan nya sudah mau tutup. Kalau Mbak mau pinjam besok aja, terus penjaga ruangannya Bu Ani sudah pulang” Ucapku pada perempuan itu. Lalu perempuan itu terdiam. Aku pun sama. Dan selintas aku memperhatikan dia. Perempuan dengan gaun yang indah dan rambut hitam panjang itu. Perempuan itu tidak mempunyai muka. Aku berlari ke arah luar dan pintu ruangan ini terkunci. Perempuan tanpa muka itu menghampiriku sepertinya dia marah.

Kakinya melayang tidak menyentuh tanah. Aku terus berusaha membuka pintu itu dan tanpa aku sadari diluar jendela sudah berdiri Bu Ani yang sedang memandangiku. Diam seperti tidak bergeming, dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, dan seketika hantu perempuan tanpa muka itu bergerak mundur lalu menghilang ditengah lemari besar yang dipenuhi buku usang. Dan dengan mudah Bu Ani membuka pintu, Bu Ani membawaku keluar ruangan dan mendudukanku di kursi taman. Dia mulai menjelaskan semuanya, kali ini Bu Ani tidak marah. Malah dengan tenang dia menjelaskan.

“Apa saya bilang, kamu harus hati-hati tidak semua diruangan ini dapat dimasuki. Perpustakaan daerah ini merupakan perpustakaan yang sudah tua, dia itu namanya Elizabeth. Dia suka membaca buku, Ibu juga waktu pertama sama seperti kamu. Namun Elizabeth tidak mengganggu, dia hanya ingin membaca buku jadi jangan ulangi sekali lagi. jika saya tidak ditempat, kamu jangan berani sekali-kali masuk ke dalam ruang buku sejarah”.

Sejak saat itu aku mulai bersahabat dengan Bu Ani, ternyata Bu Ani tidak seperti yang aku kira. Beliau hanya tidak ingin ada orang lain yang tau tentang penunggu di perpustakaan itu. Walau ketika aku hendak pulang, aku masih sering melihat Elizabeth terbang melayang di antara rak buku sejarah dan aku sudah terbiasa dengan hal itu. Sampai akhirnya PKL ku beres dan aku lulus kuliah, sekarang aku bekerja di perpustakaan daerah itu. tepatnya sebagai pengganti Bu Ani penjaga ruangan buku sejarah.

loading...