Pertemanan Manusia Setengah Hewan

Pagi ini aku mempersiapkan barang-barangku, untuk pindah sekolah dan rumah karena aku akan ikut dengan ayahku, ibuku sudah tidak ada karena kecelakaan. Kini aku benci kepada ayahku, aku hanya berbicara yang penting-penting saja dengan ayahku. Aku mulai memasukan barang-barangku kedalam mobil dan masuk di mobil, aku memainkan ponselku saat di mobil, aku dan ayahku tak berbicara sepatah katapun.

2 jam perjalanan kami pun sampai, aku turun dari mobilku. Terlihat rumah dengan ukiran kayu sederhana didepan pintu rumah yang tak begitu luas tapi simple. Aku sangat suka dengan rumah ini, aku masuk kedalam rumah dan terlihat barang-barang yang masih terbungkus oleh plastik. Ayahku menunjukan kamarku, aku menuju kedalam kamarku, terlihat kamarku sangat bagus dengan wallpaper bunga dan berwarna biru.

Kasurku pun ada variasi bunganya, aku menjatuhkan tubuhku diatas kasur, merasakan rumah baruku. Di sini sangat nyaman hingga aku tertidur, saat bangun matahari sudah berganti malam. Aku beranjak dari kasurku dan menuju kekamar mandi. Aku ambil handukku dari tasku dan menuju kamar mandi. Setelah mandi aku menuju kearah meja makan, apa ada makanan disana! Terlihat sepiring nasi dan lauk kesukaanku dan secarik surat.

“Ini makananmu nak, ayah ada perlu dulu” kata ayahku dikertas yang ditinggalnya diatas meja. Seperti biasa ayahku selalu sibuk sama pekerjaannya, aku pun memakan makanan malamku dan setelah makan aku memainkan ponselku didalam kamar. Aku membuka akun facebookku, berkomentar dengan teman-temanku. Keesokan paginya, aku harus berangkat sekolah sendiri karena ayahku kemarin telah mendaftarkanku di sekolah desa ini.

loading...

Aku menaiki sepedaku dengan santai menuju sekolah, semua warga desa melihat kearahku yang lagi menaiki sepeda. Maklum saja karena aku warga baru disini, mungkin mereka bertanya-tanya anak siapa ini? Sesampainya di sekolah, aku mencari kelasku sendiri. Aku mulai memperkenalkan diriku disekolah dengan singkat karena aku tipe cewek yang tidak terlalu banyak ngomong.

“Namaku putri dari manado salam kenal” ucapku.
“Kamu duduk disana ya” ucap guruku.

Aku pun duduk sambil menaruh tasku dan mengikuti pelajaran, setelah pelajaran selesai aku pulang menggunakan sepedaku. Sesampainya dirumah, aku melihat gudang besar dan aku mencoba kesana, terlihat banyak jerami disini. Aku membuka pintu kayu yang sedikit sudah rapuh. Aku melihat laki-laki seusiaku tidur diatas jerami, dia seperti gelandangan. Pakaiannya yang lusuh dan robek dibagian kaki, rambutnya yang gondrong berantakan sekali.

Aku mencoba membangunkannya. “Hey, hey kamu bangun, kok kamu tidur disini?” ucapku menyengol tubuhnya. Dia terbangun, dia melihatku dengan tatapan tajamnya, dia mendengkur seperti kucing yang akan memangsa tikus. Aku takut dan segera mundur kebelakang, dia mendekatiku lalu dia menyerangku. Aku terjatuh, dia ada diatas tubuhku. Aku bertiak tapi tak seorang mendengarku, dia memegang tanganku mengambil makanan yang ada ditangan kananku.

Aku berdiri dan kebingungan, dia seperti tidak makan selama 1 bulan, cara makan anak laki-laki itu seperti hewan, langsung menggigit dengan cepat, makanan itu habis begitu cepat dan dia melihatku lagi. Aku pun menyuruhnya, untuk ikut denganku tapi dia tidak bisa bicara, mungkin dia bisu tapi pendengarannya masih bagus, aku masih bisa berkomunikasi dengannya. Aku akan bilang ayah untuk ijin dia tinggal bersama dirumah.

“Sini masuk” ucapku lewat pintu belakang.
“Dia hanya mengangguk dan melihat sekitar rumah.

Aku menyuruhnya duduk, tapi dia tidak menjawabku sama sekali. “Apa mungkin dia memang bisu” (gumamku). Dia duduk di meja, aku mengambilkannya nasi dan lauk, aku menaruhnya diatas meja. Dia langsung secepat kilat melahap makanannya bagaikan harimau. Aku hanya bisa melongok melihatnya.

“Siapa itu putri?” tanya ayahku yang tiba-tiba pulang dari kantor.
“Ini yah aku menemukan laki-laki ini dibelakang gudang, kasihan dia ayah” ucapku.
“Kita harus lapor kepada polisi, dia anak siapa” ucap ayahku.
“Biarlah dia tinggal disini ayah, kasihan dia tak punya orang tua” pintaku.

“Tapi kita harus lapor dulu ke RT, atau pun polisi” ucap ayahku.
“Baiklah, boleh minta tolong ayah?” pintaku.
“Apa itu sayang?” tanya ayahku.

“Tolong bersihkan dia, ayah aku kan perempuan, soalnya dia tidak bisa bicara, cara perilakunya seperti hewan ayah, tolong ya”. Bersambung di pertemanan manusia setengah hewan part 2.

Gugun

Gugun

nama:gugun tinggi:165cm berat:50kg hoby:membaca,dan menulis karanganjangan lupa baca ceritaku ya hanya di kch jangan pernah baca ini sendirianaku suka buat cerita horor yg sedikit di bumbui pertemana dan horor yg sadis seperti mutilasiok salam knl semuafacebook: Nak gugun email:[email protected]

All post by:

Gugun has write 39 posts