Pertemuanku Dengan Datuk Harimau Putih

Suatu hari aku sedang asyik duduk santai di kursi ruang tamu rumahku, gak tahu kenapa tiba-tiba badanku mendadak gemetaran dan sepertinya ada aliran listrik yang menjalar di telapak tanganku. Lalu aku pun membatin seperti ada tamu yang akan datang, dengan segera aku membaca doa-doa didalam hati. Perasaanku kembali merasakan seperti ada kekuatan besar yang akan datang menghampiriku, jangan sampai aku mengalami kerasukan. Belum hilang rasa panikku tiba-tiba aku di kejutkan oleh datangnya seekor harimau putih yang cukup besar di depan pintu rumahku.

Saking besarnya sampai-sampai harimau putih itu tidak dapat masuk kedalam pintu rumahku. Tubuhku menjadi serasa berat dan tidak dapat aku gerakkan sama sekali, lalu harimau putih itu bicara kepadaku.

“Naiklah ke punggungku (Tali Perak)” ucap harimau putih itu kepadaku.
“Apa, Tali Perak? Kenapa harimau itu memanggilku dengan sebutan Tali Perak?” ucapku dalam hati.

loading...

Aku menjadi heran dan mulutku serasa terkunci untuk bertanya, saat itu kembali kurasakan kekuatan aneh mendorongku untuk segera naik di punggung harimau putih yang sangat besar itu, di ruang tamu kulihat tubuhku masih asyik duduk santai di kursi. Tanpa di pandu, harimau putih itu pun melompat keluar dari rumahku, lalu membawa aku pergi jauh sekali, di dalam perjalanan sosok harimau itu memperkenalkan dirinya padaku. Bahwa nama beliau adalah “Datuk Harimau Putih”.

Antara sadar dan tidak sadar, harimau putih itu membawa aku melewati gunung-gunung dan hutan belantara. Waktu serasa begitu cepat sekali saat itu, tiba-tiba aku sudah berada di desa tempat dimana ayahku di lahirkan. Dengan secepat kilat harimau itu berlari melesat membawa aku pergi, tiba-tiba aku dan harimau putih itu sudah berada di depan mulut gua, aku perhatikan suasana gua itu tak asing lagi bagiku.

Karena waktu dulu aku sering singgah ke gua tersebut. Nama gua itu “Gua Putri” atau dengan sebutan “Gua Si Pait Lideh”. Di dalam gua tersebut ada sebuah mata air, yang mana tak akan pernah kering airnya, dan aku melihat sangat jelas ada sebuah batu berwarna putih yang menyilaukan, lalu Datuk harimau putih kembali bicara kepadaku.

“Ambilah batu itu, itu sudah menjadi hak milik kamu” ucap Datuk harimau putih kepadaku.

Aku hanya diam membisu, dan tidak ada niat untuk memiliki batu yang berwarna putih itu. Lalu aku memberanikan diri bicara kepada Datuk harimau putih.

“Insya Allah Datuk, kalau aku pulang ke desa nanti aku akan ambil batu itu” balasku kepada Datuk harimau putih.

Belum hilang rasa penasaranku, aku melihat sesosok perempuan cantik memakai baju berwarna putih sedang duduk bersila bersama tujuh harimau lainnya. Selang beberapa lama kemudian mereka semua menghilang dalam sekejap bak di telan bumi. Datuk harimau itu kembali bicara kepadaku.

“Mari kita pergi, perjalananmu belum selesai” ucap Datuk harimau putih.

Aku pun segera naik ke atas punggung Datuk. Entah mau kemana Datuk tersebut akan membawaku, aku hanya bisa pasrah saja waktu itu. Kami melewati gunung-gunung dan hutan, waktu itu aku melihat sebuah pasar, aku amati banyak sekali orang-orang yang berkerumun di pasar tersebut, yang membuatku merasa heran dan penasaran, pakaian yang mereka pakai sangatlah aneh, dan aku tidak tahu mereka itu siapa.

Datuk harimau putih segera melanjutkan perjalanan bersamaku, dan akhirnya Datuk membawa aku ke dasar lautan samudera. Sesampainya di bawah samudara, aku melihat ada dua sosok perempuan yang sangat cantik sekali. Salah satu perempuan itu sudah tua tetapi masih kelihatan cantik sekali, perempuan itu memakai baju berwarna ungu, dan perempuan yang satunya lagi, masih terlihat muda memakai baju berwarna putih.

Entah apa yang di bicarakan Datuk dengan kedua perempuan itu. Kulihat kedua perempuan tersebut itu hanya senyum-senyum melihatku, aku coba menguping dan aku perjelas pendengaranku, tetap saja aku tidak mengerti bahasa yang mereka pakai.

Tiba-tiba kedua perempuan itu menghampiriku, perempuan yang terlihat lebih muda itu memegang pergelangan tangan kiriku dan memakaikan sebuah gelang berwarna perak dan berkepala ular kepadaku. Perempuan yang terlihat lebih tua segera mendekati aku juga, dan memberikan aku bokor berwarna emas di bawah kakiku, lalu dia berkata, “perjalananmu masih panjang”. Tamat.

Salim

Salim

“,…Daku menuliskan kisah dari dimensi lain tanpa pena serta tanpa lampu”.

Hal yang aku senangi ialah tertawa, juga menghindar dari keramaian. Aku begitu bahagia bersembunyi di tempatku yang gelap, karena orang lain tidak dapat melihatku, dan aku sangat mudah melihatmu di tempat yang terang.

Terima kasih yang sudah membaca ceritaku !!

FB : Sa Lim.

All post by:

Salim has write 31 posts

Please vote Pertemuanku Dengan Datuk Harimau Putih
Pertemuanku Dengan Datuk Harimau Putih
3.1 (62.86%) 7 votes