Pesan Seorang Teman

Pada suatu musim panas empat sahabat pergi ke pantai. Mereka adalah dua pria dan dua wanita. Hyde dan Karen adalah sepasang kekasih, dan Sofia adalah kekasih dari Taku. Keempat sahabat ini sudah mengenal satu sama lain sejak lama sekali dan tinggal di blok apartemen yang sama. Taku, Sofia, dan Karen berangkat dalam satu mobil. Hyde menunggangi motornya dan berkendara sendiri.

Ketika tiba saatnya untuk pulang ke rumah, Taku berkata, “Apakah sebaiknya kita melakukan balapan dan melihat siapa yang sampai ke rumah lebih dulu?” Hyde setuju, dan motornya dan mobil Taku mulai membalap. Mobil itu lebih dulu tiba. Taku dan Sofia kegirangan mereka telah menang. Tapi Karen, yang merupakan kekasih Hyde, tidak terlalu senang. Dia tahu bahwa Hyde merupakan pengendara yang cekatan, dan yakin bahwa dia akan memenangkan balapan ini. Tapi apa yang terjadi, Hyde masih tidak menampakan batang hidungnya.

Dia tidak pernah kembali ke rumah hari itu. Esok paginya Taku dan Sofia pergi ke kamar Karen untuk mengabarkan berita menyedihkan. “Well… Saya sungguh tidak tahu bagaimana mengatakan ini.” Taku memulai, “Saya mendapatkan sebuah telepon dari polisi pagi-pagi sekali yang memberitahukan bahwa Hyde telah mengalami kecelakaan. Dia memacu motornya ketika dia menabrak sebuah tiang pembatas rel kereta. Dia meninggal seketika”.

loading...

Ini adalah kabar buruk bagi bagi Karen, yang sungguh mencintai kekasihnya, tapi Taku dan Sofia memiliki sebuah kabar lagi yang lebih mengejutkan. “Saya mengatakan tadi bahwa kami mendapat telepon dari polisi. Tapi sekarang, jangan marah dulu segera setelah panggilan itu kami mendapat seorang yang mengunjungi kami”.

“Seorang pengunjung?”
“Ya. Dan ketika saya menanyakan siapa itu, tamu itu menjawab.” Taku berhenti disana.

Karen bisa melihat pasangan itu kini gemetaran, Taku membuka mulutnya lagi. “Orang itu berkata bahwa dia adalah Hyde”. Karen tidak yakin apa yang barusan dia dengar itu benar. Dia hanya memandangi kedua sahabatnya itu tidak percaya.

“Kami pikir itu seperti lelucon yang buruk, dan saya baru saja hendak membuka pintu untuk menyadarkan orang itu. Tapi kemudian saya menyadarinya, bagaimana orang itu bisa tahu apa yang terjadi pada Hyde, ketika kami yang pertama menerima kabar itu? Tak seorang pun mungkin melakukan itu. Saya pikir begitu, dan kemudian saya merasa benar-benar ketakutan. Saya tidak membuka pintu itu. Untungnya, setelah menunggu beberapa menit dia akhirnya pergi”.

Sofia dan Taku memperingati Karen untuk tidak membuka pintu ketika kejadian yang sama terjadi padanya. Mereka yakin bahwa orang itu adalah arwah Hyde yang datang kepada mereka, dan karena kecelakaan itu terjadi begitu tiba-tiba Hyde mungkin tak menyadari kematiannya. Jika Karen membuka pintu, kata mereka, dia mungkin akan berusaha menarikmu bersamanya menuju ke dunia lain.

Setelah Taku dan Sofia meninggalkannya, Karen menghabiskan sisa harinya dengan menangis sendirian dalam kamarnya, mengenang setiap saat-saat indah yang dia bagi bersama dengan Hyde. Lalu malam akhirnya tiba. Karen terbangun oleh ketukan keras pintunya. “Itu dia!” Karen berusaha tetap tenang dan mengacuhkan ketukan itu, tapi itu tidak mau berhenti. “Hey!” suara Hyde. “Ini aku! Buka!”.

Karen pergi ke sudut kamarnya dan menutup kedua telinganya. Namun setelah beberapa saat, dengan semua kenangan manis yang masih segar di ingatannya, dia tidak dapat menahan dirinya lagi. “Kumohon! Buka pintunya! Ini aku!” ketukan itu makin keras dan keras. Karen berjalan mendekati pintunya perlahan-lahan. Dari balik tirainya, dia bisa melihat garis bayangan Hyde. Dia berdiri disana tepat di hadapannya, hanya pintu yang memisahkan mereka. Karen hampir saja membukanya, namun dia ingat peringatan kedua sahabatnya.

Hyde sudah mati. Dia harus mengerti hal ini. Gemetar dan berurai airmata, dia menyahut dengan suara beratnya, “Hyd, kumohon kamu sudah mati” Ketukan itu makin bertambah keras. Karen pikir bahwa setidaknya dia bisa membantunya mengetahui kenyataan yang sebenarnya dan meninggalkan dunia ini dengan tenang. Mengerahkan seluruh keberaniannya, dia akhirnya mendorong pintu itu terbuka.

“Hyd, kamu sudah mati!”.
“Tidak! Kamu yang mati!”.

Saat itu, Karen kehilangan kesadarannya. Ketika kemudian dia membuka kembali matanya, dia menemukan dirinya tengah terbaring diatas ranjang rumah sakit. Dengan takjubnya, Hyde, yang dia kira telah mati, sedang berdiri di sampingnya. Dia menangis terharu. Karen tidak tahu apa yang terjadi. Hyde mulai menjelaskan, “Setelah saya melakukan balapan itu dan tiba di rumah, saya menunggu kalian bertiga tapi kalian tidak pernah kembali” dia mengatakan itu dengan terisak-isak.

“jadi saya melaju kembali menyusuri jalan yang tadi kutempuh, dan menemukan mobilmu, tertabrak dan hancur berkeping-keping Taku dan Sofia, yang berada di kursi depan, tewas karena itu. Kamu keluar dengan beberapa luka-luka, tapi entah bagaimana kamu sudah kehilangan kesadaran saat itu”. Seketika semua ingatan dan kenyataan mulai melintas di pikirannya, ketika itu pula Karen mulai mengerti apa yang terjadi dan kemudian mengeluarkan keringat dingin, wajahnya pucat.

Dia menyadari bahwa Taku dan Sofia, yang tewas seketika, telah masuk ke dalam pikirannya dan, melalui mimpinya, berusaha memancingnya keluar dari dunia ini. Jika Karen melakukan apa yang mereka minta dan tidak membuka pintu itu, dia mungkin juga akan mati di dunia nyata.

Share This: