Peternakan Ayam Potong Angker

Hallo reader KCH apa kabar semua? Ini ceritaku yang ke-3. Dari cerita yang pertama sampai yang ke-3 ini adalah nyata semua, yang dialami oleh aku sendiri dan orang-orang terdekatku. Kali ini adalah cerita yang aku alami sendiri, waktu aku sudah berumur 16 tahun tentang peternakan ayam potong angker.

Selesai tamat sekolah SMP aku ingin melanjutkan lagi ke jenjang SMA tapi sayang banget orang tuaku termasuk golongan tak mampu. Akhirnya aku tunda dulu untuk masuk SMA dan cari pekerjaan. Pertama aku kerja di Surabaya di sebuah cafe 24 jam tapi cuma seminggu karena ada masalah dengan karyawan lain. Sebulan di rumah aku di tawari kerjaan tetanggaku yang punya anak yang sudah menetap di Ponorogo. Tepatnya kerja di sebuah peternakan ayam potong. Karena yang berhubungan dengan unggas itu memang kesukaanku, ku sanggupi untuk kerja disana.

Singkat cerita aku sudah berada di Ponorogo tepatnya di Sampung, Carang Rejo. Peternakannya besar sekali karena gabung dengan penggilingan padi serta gudang tapi entah gudang untuk apa, dan di bagi dua area. Awal datang aku sudah merasa nyaman sekali meski lokasinya sangat menyeramkan yang jauh dari perkampungan.

loading...

Seminggu aku bekerja mulai ada sesuatu yang ganjil tiap tunggu ditempat peternakan ayam seperti ada yang memperhatikan, aku merasa ada sesuatu yang ingin mengajak berinteraksi. Puncaknya, malam itu aku berdua menunggu bersama mas Parwi (nama sebenarnya). Di saat kami tidur terlelap, aku bermimpi ada semacam fatamorgana yang membentuk anak kecil botak. Dalam mimpiku anak tersebut menggelitik tanganku, aku pun membalasnya.

Tiba-tiba dia memegang tanganku dengan kuat dan seolah ingin menariku ke kolam. Sekedar di ketahui kandang peternakan ayam potong ini di area dua ada kolam yang rencananya akan di isi ikan lele tapi tidak jadi padahal airnya sudah hampir penuh secara alami. Dan yang buat aku terkejut dan terbangun dari tidurku adalah tangan anak itu dingin banget lebih dingin dari es batu. Hingga aku terbangun dari tidur. Di buat aku terkejut kedua kalinya dalam keadaan terlentang dan mata sudah terbuka, aku lihat ada tangan yang besar mencengkram kedua tangan dan kakiku seolah olah ingin mengangkatku.

Aku berusaha meronta, makin aku meronta cengkeramannya makin kuat dan rasanya aku sudah tidak punya tenaga. Di saat aku lemas cengkeramannya terasa longgar, dalam hati aku berusaha tenang dan pura-pura lemas. Di saat cengkeraman lebih longgar memdadak aku meronta kuat. Alhasil aku bisa lepas dari cengkeraman itu tangan dan aku lihat ada sesuatu yang lompat keluar dari pondok tempat tidur untuk menunggu ayam. Ku kejar keluar tapi tidak ada apa-apa. Cuma ayam yang tiba-tiba berisik tak karuan. Aku pun kembali tidur, ku lihat mas Parwi masih lelap dalam tidurnya.

Menjelang pagi, badanku terasa berat kayak gak enak badan. Aku pikir aku akan sakit, selesai memberi makan dan kasih susu para ayam aku mandi. Buka baju, ku lihat badanku lebam-lebam kalau di sentuh terasa sakit. Ku ceritakan kejadian malam itu ke mas Parwi dia malah meledek aku. Katanya si mbah penunggu ingin kenalan maklum anak baru. Tapi bagiku ini sudah kelewatan.

Hari-hari berikutnya setiap aku sendirian seperti ada yang memanggil aku. Kadang seperti suara mas Parwi, kadang suara teman sekerjaku. Pokoknya suara orang yang aku kenal. Dan yang lebih parah meniru suara bapakku. Padahal ini tempat kerjaku jauh dari tanah kelahiranku. Mana mungkin ada bapak. Selama seminggu aku mendapat panggilan panggilan yang tak tahu sumbernya. Seminggu berikutnya seperti ada yang mengikuti aku dari belakang mencoba mencelakaiku.

Pernah sehabis memberi makan ayam. Karena posisi kandang di buat tingkat, aku turun tangga kandang tiba-tiba ada yang mendorong dari belakang, untung aku cepat-cepat berpegangan besi yang di pinggir tangga. Aku jadinya terpelanting dan menggantung di tangga memakai satu tangan. Di lain hari waktu naik tangga bawa makanan ke tempat peternakan ayam, kakiku di tarik dari bawah. Aku terjatuh dan makanan ayamnya tumpah semua. Saat mandi pakai air langsung dari kran tiba-tiba listrik mati. Begitu aku cek meterannya tak ada masalah. Padahal listrik di kampung kanan kiri tak ada yang mati.

Aku tidak kuat merasa di ganggu terus seperti itu, kenapa yang di ganggu cuma aku saja yang lainnya tidak. Akhirnya bos besar minta bantuan orang pintar. Kata orang pintar penunggu tempat itu tidak suka denganku. Karena kehadiranku disitu dunianya guncang. Anak kecil yang dalam mimpiku itu adalah anak manusia yang di culik penghuni situ beberapa tahun yang lalu dan aku yang bisa membebaskannya. Entah bagaimana caranya, tapi aku sendiri tak tahu.

Di suruh orang pintar tersebut menunjuk kira-kira tempat mana yang aku rasakan anak itu berada. Aku merasa dia di bawah pohon mangga yang di rambati sayur kecipir. Meski tidak tampak tapi aku bisa merasakan keadaan anak itu. Leher, kedua tangan dan kakinya terbelenggu besi hitam yang saling di kaitkan dengan rantai yang di hubungkan ke tiang besi, di atasnya hanya ada payung yang sudah usang. Aku menangis saat itu. Tega sekali makhluk jahanam disitu.

Juga buat aku jadi takut. Takut aku mengalami hal yang sama dengan anak itu. Orang pintar itu meyakinkan aku. Tidak boleh takut karena kalau aku takut dia akan menggangguku terus. Tapi kalau aku berani dia tak akan bisa mencelakaiku. Dia juga bilang secara kasat mata aku memang cacat. Di dunia manusia mungkin aku lemah tapi di alam gaib mereka tak bisa menyentuhku. Itulah sebabnya sejak kedatanganku disana membuat dunia mereka guncang.

Setelah kejadian-kejadian yang aku alami. Aku jadi terbiasa seperti makananku sehari-hari. Kadang aku ke bawah pohon mangga dimana anak kecil di rantai, berbicara sendiri. Aku bisa merasakan kalau dia menangis, aku pun betah berlama-lama disitu menemaninya. Tapi ada hawa yang jahat juga disitu mungkin yang menculik anak itu.

Sebulan bekerja disitu, karena menjelang puasa aku ingin pulang kampung. Karena aku merasa tak bisa puasa kerja berat. Terlebih harus bangun tengah malam untuk buat makan sahur. Kalau mau beli di warung letaknya jauh. Singkat cerita seminggu aku di kampung dapat kabar dari tempatku bekerja.

Penghuni gaibnya marah dengan merobohkan pagar tembok yang tingginya 2,5 meter tebalnya 30 cm dan memakan korban 5 orang warga kampung semuanya mati di tempat. Karena kejadian tersebut orang tuaku tak mengijinkan aku balik lagi karena takut aku jadi korban berikutnya.

Cerita ini kisah nyata yang aku alami, alhamdulillah aku masih diberikan keselamatan sampai sekarang. Mengenai anak kecil tadi sampai sekarang aku belum bisa menolong. Keadaannya gimana juga aku tak tahu. Waktu itu aku memang tidak berusaha menolong dia, karena aku terlalu takut. Sekian dan terima kasih sudah membaca peternakan ayam potong angker ini.

Bbm: D2FAED86
Line id: genjhus
Wa: 081990882842
Ig: @toby_kurniawan02

Toby

All post by:

Toby has write 5 posts