Pintu Perlintasan Kereta Api

Hai sobat KCH, ketemu lagi dengan saya. Sebelumnya saya sangat berterima kasih kepada reader KCH yang telah baca cerita saya dan sampai ada yang meminta saya untuk memberi tahu dia jikalau saya post lagi cerita via facebook. Ok sobat, kali ini saya membawa cerita dari kakak sepupu saya yang tinggal di pinggir rel kereta api (maksudnya rumahnya ada di pinggir rel kereta api).

Sudah hal lumrah jika rel kereta api terkadang banyak hal mistisnya dikarenakan banyak sekali kejadian direl kereta api seperti orang yang tersambar kereta, mobil yang tertabrak kereta maupun ada orang yang sengaja meregangkan nyawanya sendiri (bunuh diri maksudnya, naudzubillahimindzalik). Ok lanjut ke cerita, kakak sepupu saya ini bernama farid (saya biasa memanggil beliau, A Farid).

Nah ceritanya a farid ini sangat rajin shalat berjamaah dimasjid terutama dan yang paling ciri khas darinya, dia selalu memakai sarung saat shalat. Saat itu dia telah selesai mengerjakan shalat isya dan terdengar olehnya suara dentuman musik dangdut dari kampung sebelah yang mengadakan hajatan pernikahan. Karena dia seorang fanatik lagu dangdut, yang tadinya mau bergegas pulang ke rumah jadi berubah haluan mengarah ke arah datangnya suara musik dangdut.

Akhirnya tibalah dia dihajatan yang ada musik dangdutnya itu. Dengan sarung diselempangkan melintang dari bahu kanan kepinggul sebelah kiri, dia kemudian berjoget ikuti irama dangdut dengan tidak memperdulikan orang sekitar yang memperhatikan dia. Setelah cukup lama dia berjoget dan lelah, kemudian dia pulang. Saat itu jam menunjukan pukul 23.30 malam. Dia menyusuri jalan pulang nan sepi, sesekali dia juga mendengar suara serigala dari bukit yang saling bersahutan. Sebelum sampai rumah, dia pasti melewati pintu perlintasan kereta api. Saat melintas, terdengar suara dari pintu perlintasan kereta api itu.

“Kang. Kang. Sini!” terlihat olehnya seorang cewek memakai baju daster putih, wajahnya bersih (ah pokoknya cantik). A farid ini awalnya celingak-celinguk, mana tahu cewek itu memanggil selain dia (takutnya dia ge-er ada cewek cantik manggilnya *haha) karena dia rasa memang dia yang dipanggil, dia menunjuk dirinya sendiri dan cewek itu pun mengiyakannya. Dengan langkah tegap dan sambil memegang kerah baju polo shirtnya dia akan melangkah mau menghampiri cewek itu.

Baru 2 langkah, alam sadarnya tergugah. “Ngapain cewek cantik berdiri dipintu perlintasan kereta api? Kata bapak saya (*cie kayak ucapan tisna di sitkom tukang ojek pengkolan *haha) kalau ada cewek manggil dimalam hari, pastikan dulu kakinya napak gak ke bumi?” gumam a farid dalam hati. Kemudian a farid itu memperhatikan saksama cewek itu dari rambut rambut hingga ke bawah.

Saat melihat kakinya “masya Allah! Kaki cewek itu. Kakinya tidak ada!” gumamnya dalam hati. Lalu cewek itu berubah, yang tadinya cantik menjadi menyeramkan wajahnya, rambutnya kusut, baju daster yang tadinya bersih berubah jadi kotor dan cewek itu kemudian terbang mendekati a farid. Tanpa pikir panjang, a farid dengan sarung yang diselempangkan lari sekencang-kencangnya sambil berteriak, “kuntilanak!”.

Kuntilanak itu masih mengejarnya sambil tertawa “*hihi, hihi” sekarang yang ada dipikiran a farid gimana lari sekencang-kencangnya untuk sampai di rumah. Sesampainya didepan rumah, a farid menabrakkan diri ke pintu rumah dan pintu rumah pun terbuka karena memang belum dikunci oleh bapaknya a farid. A farid sambil teriak-teriak di ruang tamu memanggil bapak dan ibunya”bapak, ibu. Tolong ada kunti ngejar!”.

loading...

Tiba-tiba “*sret” sarung yang dipakai a farid seperti ada yang menarik dari belakang. Seketika itu a farid terdiam dengan sarung yang menegang karena ada yang menarik dari belakang. Kemudian a farid berlutut sambil memohon ke kunti yang menarik sarungnya. “Teh kunti, tolong atuh jangan ganggu saya. Saya salah apa sama teteh kunti, tolong lepaskan saya”. Karena mendengar ribut-ribut tadi, bapak dan ibu a farid keluar dari kamar (karena kamar orang tuanya dibelakang rumah, jadi butuh waktu untuk menghampiri a farid). Melihat kedatangan orang tuanya, a farid cukup tenang dan menangis seraya memohon ke bapaknya untuk bilang ke kunti yang menarik sarungnya agar melepaskan dia.

“Pak bilangin ke kunti itu untuk lepaskan sarung aa, aa janji gak pulang larut malam lagi”.
Melihat tingkah anaknya, bapaknya ini menahan tawa kemudian sembari bilang.
“Benar ya janji gak pulang malam lagi?” tanya bapaknya.
“Iya benar pak” jawab a farid memelas.

Kemudian bapaknya bilang, “kunti lepaskan!” sembari melepaskan ujung sarung yang menyangkut di gagang pintu (gagang pintu? Iya, gagang pintu. Ternyata sarung itu menyangkut digagang pintu! Bukanya ditarik kunti *haha). Melihat kenyataan yang terjadi, merah padamlah muka a farid menahan malu diselingi tawa dari orang tuanya. Semenjak kejadian itu, a farid tidak pernah pulang malam lagi.

Demikianlah cerita nyata dan lucu dari saya, pesan moral di cerita ini yaitu: jangan suka pulang larut malam kalau tidak ada keperluan yang penting, jangan pulang larut malam tanpa ijin dari orang tua dan satu hal lagi, jangan memakai sarung diselempang nanti kejadian yang ini bakal terulang *haha.

Ok sobat, kejadian ini benar adanya dan terjadi menimpa kakak sepupu saya ini tahun 2008. Dan yang ingin berteman dengan saya, silahkan add facebook saya. Terima kasih kepada admin dan yang suka dengan cerita saya. Salam dari saya untuk reader KCH dan ingat, jangan pernah baca ini sendirian! *Hihi.
Fb: Miftah Rizqi Maulana

loading...