Pocong Keliling [Bukan Film]

Liburan Akhir Semester Tahun lalu, saya di ajak keluarga saya pergi menjenguk nenek di kampung, kebetulan desa nenek saya terletak di pegunungan, suasananya sejuk banget, pokoknya fresh banget. Akan tetapi, saat malam tiba keadaan berubah total, desa yang pada siang hari sangat ramai di penuhi aktivitas penduduk, namun di malam hari keadaan berubah menjadi sangat sepi.

Siang itu, saya dan keluarga saya (ibu, ayah, adik dan kakak) berangkat dari rumah sekitar jam 13.00 WIB setelah menunaikan ibadah sholat dzuhur, karena takut di hadang kemacetan kami berangkat dengan sedikit tergesa gesa, namun apa daya, kemacetan memang sudah menghadang di jalan raya. Lama sekali perjalanan kami saat di mobil, alhasil, makanan ringan yang kami bawa (terbilang dalam jumlah yang cukup banyak) habis dimakan oleh saya dan kakak saya.

Setelah 8 Jam perjalanan, akhirnya kami sampai juga di tempat tujuan yaitu desa nenek saya pada pukul 21.15 WIB (malam hari), desa nenek saya terlihat sangat sepi, seperti desa mati, hanya ada satu warung kopi di ujung perempatan jalan yang masih buka. Ayah saya menghentikan mobil dan bertanya “maaf mas, numpang tanya, jalan cempaka indah dimana ya?” Lalu seorang pria menjawab “dari sini lurus, lalu belok kiri, di sana ada pertigaan, lalu mas belok kiri lewat gerbang pemakaman, lurus terus, belok kanan, nah disitu” Jelasnya.

“Oh, makasih mas” Ucap ayah saya , “mas berani amat lewat kampung ini malam hari!” ucap seorang pria yang mengenakan kaos berwarna kuning “lho, memangnya kenapa?” tanya ayahku penasaran “warga kampung ini, kalo habis maghrib gak ada yang berani keluar rumah, soalnya mereka takut ada pocong gentayangan yang suka nakutin warga” ungkapnya. “Oh, pantesan ini desa, kayak desa mati” Ucap ayah saya sambil tertawa.

“ya sudah saya mau pamit dulu ya” tambah ayah saya “iya, hati hati, kalo bisa setelah sampai langsung masuk rumah, jangan lama lama di luar” ucap seorang pria paruh baya. Saat melewati pemakaman, Ada sebuah rasa aneh yang melanda hati saya, saya menengok ke arah pemakaman dari dalam mobil, dan ternyata, “ASTAGHFIRULLAH” entah apa yang saya lihat, yang jelas saat itu saya melihat sesosok pocong dengan muka hancur.

loading...

Karena kaget saya langsung menutup mata. Tak lama kemudian tibalah saya di rumah nenek saya, karena takut, saya sekeluarga segera masuk ke dalam rumah, lalu nenek saya menyuruh saya dan kakak saya untuk tidur di kamar depan. Tanpa basa-basi lagi, saya segera pergi tidur dengan kakak saya Boy (nama samaran), akan tetapi baru 20 menit saya tidur tiba tiba saya terbangun oleh suara ketukan keras di pintu depan rumah, (kebetulan Kan kamar yang saya tempati itu bersebelahan dengan pintu masuk).

Saya keluar kamar untuk membukakan pintu, akan tetapi nenek saya melarang saya, saya bertanya kepada nenek saya kenapa saya tidak boleh membuka pintu, lalu nenek saya menjawab “setiap malam pocong itu selalu keliling kampung, mengetuk pintu rumah warga, ia minta di bukakan tali pocongnya, kejadian ini terjadi pada 6 bulan lalu, ketika seorang gadis mati karena dibunuh oleh seseorang yang menginginkan benda pusaka milik gadis tersebut. Karena kesal sang ayah bersikeras untuk tidak membukakan tali kain kafan agar sang anak mencari orang yang membunuhnya (kayak di film ya)” Ungkap nenek.

Setelah mendengar cerita nenek, saya kembali tidur, akan tetapi tiba tiba ada seseorang yang mengetuk jendela kamar saya, kakak saya pun terbangun, akhirnya saya dan kakak saya mengintip lewat ventilasi udara, dan ternyata Pocong Keliling!!! dibalik semuanya.

Share This: