Pohon Pisang di Tengah Kuburan

Assalamualaikum. Halo sahabat KCH, nama saya reita aditya, saya asal Malang. Saya akan bercerita tentang pengalaman saya pribadi. 4 tahun yang lalu bapak saya meninggal dunia, tepatnya di hari selasa kliwon. Menurut orang jawa, orang yang meninggal di hari itu (selasa kliwon) kuburan harus di jaga. Karena banyak sekali orang-orang tidak bertanggung jawab mencari tali pocong untuk di jadikan penambah ilmu hitam.

Disetiap malam saya dan teman sering menengok kuburan bapak saya. Kuburan di desa saya tidak ada pohon pisang. Makam bapak saya tepat di tengah-tengah kuburan. Saat itu hari ke 5 setelah bapak saya meninggal dunia, tepat saat itu musim hujan, setelah hujan turun saya dan teman saya sepakat untuk menunggu hujan reda. Di hari-hari sebelumnya saya sering melihat orang yang ke makam bapak saya, bukan untuk ziarah melainkan mereka mencari nomor togel.

Saat hujan reda, saya dan teman memutuskan berangkat. Jam menunjukan pukul 11 malam, bukan hal aneh lagi, sesampai kita di kuburan, ada 5 orang yang sedang duduk di samping kuburan bapak saya. Seketika orang-orang itu melihat saya, mereka lari. Saat sudah sampai di kuburan bapak saya, saya mencabut beberapa dupa yang masih menyala di samping batu nisan, dan saya matikan.

Tiba-tiba teman saya bilang.
Teman: Dit sejak kapan ada pohon pisang di situ?.
Saya: Aku juga baru tau kalo di situ ada pohon pisang, kemarin tidak ada kok, atau mungkin tadi orang-orang desa sengaja menanamnya!.
Teman: Aku tadi siang lewat sini, gak ada pohon pisang ini, dan pohon pisang ini tampak aneh.

Dasarnya teman saya sedikit penakut, saya mengambil sisa-sisa batang dupa tersebut dan teman saya yang masih terpaku menatap pohon pisang itu. Setelah selesai mengambil batang dupa, saya mengajak teman saya untuk pulang.

Saya: Ayo pulang.
Teman: Sudah beres? aku masih penasaran sama itu pohon pisang! jam berapa sekarang?.
Saya: Sudah beres, sekarang jam 11.50 malam.
Teman: Ayo kita cek pohon itu.

Karena saya sedikit punya perasaan tidak enak, di telinga saya ada yang berbisik, (Dit adit. Cepat pulang, pohon pisang itu hantu pocong, cepat pulang nak, jangan lama-lama di sini). Dasarnya saya bukan penakut. Tapi suara berbisik itu seperti suara almarhum bapak saya.

Saya: Ayo pulang, pohon pisang itu pocong.
Teman: Kalo ada pocong, aku buka bungkusnya aku makan, ya mudah-mudahan si pocong rasa melon. (Dia anggap itu pocong permen cup a cup).
Saya: Jika muncul baru tau rasa.
Teman: Haha.

Pada arah pulang, beberapa langkah ada suara orang mengeram, “hemm” saya berbicara jangan ganggu kami.
Teman saya ketakutan dan mukanya mulai pucat. Saat teman saya menengok ke belakang, tiba-tiba pohon pisang itu tidak ada pada tempatnya.

Teman: Heh dit, kamu bilang aneh-aneh di sini, sekarang pohon pisang itu tidak ada di tempatnya.
Saya: masih mending aku bilang itu pocong, kamu malah lebih parah lagi.
Teman: Aku gak takut walaupun ada pocong, toh jika pocong muncul, aku akan ngadu ke kamu buat makan itu pocong. (Sambil tertawa).

Saat langkah demi langkah, penampakan pun terjadi di depan kita. Saat itu juga teman saya lemas dan terjatuh. Saya sempat menggendong teman, namun di saat itu juga muncul suara wanita. Bukan wanita biasa melainkan “kuntilanak” ketawa bahagia. Teman saya tidak pingsan, dia hanya lemas tidak berdaya. Tapi dia masih sangat-sangat sadar.

loading...

Penampakan pocong tersebut masih ada, dan saya bilang “saya tidak akan takut sama kamu” saya hanya takut kepada allah dan orang tua saya, seketika itu juga pocong itu menghilang. Tapi si kunti masih tertawa dan menangis di arah pohon tepat di belakang saya. Tujuan saya hanya sampai depan kuburan untuk menenangkan teman saya. Saat sampai depan kuburan, bukan tenang yang di dapat teman saya. Dia histeris karena melihat sosok pocong itu tadi.

Si pocong mengatakan “siapa yang akan memakan saya” lalu menghilang. Seketika itu saya pun telfon ke rumah untuk minta di jemput. Sekian cerita dari saya, mohon maaf kali ada salah-salah pengetikan. Maklum dari hp, masih banyak cerita-cerita saya. Mungkin lain kali saya bisa share lagi. Terima kasih buat KCH dan para pembaca, assalamualaikum.

Share This: