Pulang Kampung

Singkat cerita saja, saat itu ayahku ingin pulang ke kampung halaman untuk melihat nenekku. Tidak seperti biasanya tiba-tiba ayah ingin pulang kampung, biasanya kami dan keluarga mudik saat liburan atau hari lebaran saja tapi tiba-tiba ayah ingin pulang kampung sendiri. Sempat di tanya ibuku namun ayah bilang kangen kampung katanya.

Tidak lama pun ayah beres-beres pakaian aku pun menawarkan diri untuk menemani ayah pulang kampung halamannya akhirnya ayahku membolehkan aku ikut. Tak lama kemudian aku dan ayah bergegas pergi membawa mobil karena kampung ayah cukup jauh dari kota tempat kami tinggal. Untuk pulang kampung pun bisa menempuh waktu 8 jam untuk sampai karena jalan menuju kampung sedikit rusak dan belum di aspal.

Singkat cerita saat di jalan seperti biasa kami ngobrol-ngobrol tak terasa waktu sudah jam 6 sore menjelang maghrib kami pun meneruskan perjalanan. Aku dan ayah lupa pesan dari ibu jika mendengar adzan maghrib di jalan hendaknya berhenti dulu dan sempatkan shalat di masjid terdekat. Saat di perjalanan memasuki kampung ayah tak lama rintik hujan turun tapi tidak deras, di jalan pun keadaan sudah sepi kiri kanan jalan hanya ada tanaman kebun sawit dan hutan pohon-pohon besar.

Lampu jalan pun tidak ada karena daerahnya masih terpencil. Saat di jalan tiba-tiba ayah melihat seorang pria sedang berjalan kaki di pinggir kebun sawit, ayah menjalankan mobilnya pelan lalu berhenti dia bicara padaku “sepertinya ayah kenal orang itu”. Lalu ayah turun dari mobil, aku tetap di mobil dan aku lihat ayah sedikit berbincang dengan orang itu tak lama di peluknya pria tersebut.

Kembali ayah berjalan ke mobil bersama pria itu dan masuk ke dalam mobil, “ini om rudi sahabat ayah dari kecil sudah lama ayah tidak bertemu dengannya sejak menikah dengan ibumu” kata ayah padaku mengenalkan pria itu. Ternyata namanya rudi sahabat ayahku yang sudah lama tidak bertemu karena om rudi juga merantau keluar kota. Sempat ayah bertanya kepada om rudi yang duduk di kursi belakang “gimana kabar keluarga mu di rumah rud? Kenapa kamu pulang kampung tidak bawa kendaraan terus kok bisa jalan kaki lah?” tanya ayah.

Tapi om rudi pun hanya membalas dengan senyum saja. Aku sedikit ngeri dan takut melihat sahabat ayah itu sebab baju yang di pakainya tidak basah sedangkan di jalan turun hujan gerimis tidak ada rumah sekali pun hanya hamparan kebun sawit dan hutan di sepanjang jalan memasuki kampung.

loading...

Tak lama waktu berselang kami pun sampai di kampung dan ayah menghantarkan om rudi ke rumahnya dahulu, “terima kasih ya, nanti jangan lupa mampir kesini” kata om rudi kepada kami. “pasti rud nanti aku kesini lagi, ke rumahmu” jawab ayah. Kami pun kembali melanjutkan perjalanan ke rumah nenekku.

Singkat cerita lagi. Saat sampai di rumah nenek, ayah berkata pada nenek “bu, tadi aku bertemu rudi saat di jalan kebun sawit, ya aku tebengi dia sampai rumahnya” tiba tiba nenek kaget dan menjawab “astaga nak, apa benar orang yang kamu tebengi itu rudi?”.

“Iya benar lah bu, walaupun sudah lama tidak ketemu aku masih ingat wajahnya” balas ayah. Nenek pun menjelaskan bahwa sebenarnya om rudi sudah meninggal karena kecelakaan tepatnya 3 hari yang lalu dan jenazahnya di kubur di kampung dan malam ini pun yasinan wafatnya om rudi yang ke 3 hari. Dengan rasa masih tidak percaya ayah pun terkejut luar biasa dan sedih. Lalu siapa pria yang bertemu dengan kami di jalan tadi? Demikian cerita dari saya maaf jika tidak seram, tapi coba anda bayangkan jika mengalami hal seperti ini.

KCH

Rio raditya

Sekedar kembali mengingatkan. “Jangan pernah baca ini sendirian” :)

All post by:

Rio raditya has write 2,704 posts

Please vote Pulang Kampung
Pulang Kampung
Rate this post