Pulang Kerja Bertemu Kuntilanak

Assalamualaikum readers, Weni lagi nih nongol, semoga tidak bosan yah. Ini cerita ke-2 ku, sebelum membaca aku ingatkan “Jangan Baca Ini Sendirian”, mungkin ada yang ikut ngintip, hihihi. Baiklah, ini merupakan cerita orang lain yang diceritakan kembali kepadaku, oke check it out!!

Namaku Maria Rohana, panggil saja Hana. Aku adalah ibu 2 anak, masing-masing anak dari pernikahan yang berbeda, aku pernah gagal berumah tangga, maka dari itu aku bilang 2 anak ku dari pernikahan yang berbeda. Di pernikahan pertama hidup ku bisa dibilang sangat berkecukupan, suami ku memiliki sebuah bengkel, dan ia adalah anak dari keluarga terpandang, kami memiliki seorang anak perempuan sebut saja Ratih. Tapi pernikahan itu tak berlangsung lama, sebelum kami berpisah aku memutuskan kembali ke kampung halaman ku di Jawa Timur, karena memang suami ku orang Sumatra.

Setelah kami resmi bercerai, aku menikah lagi dengan seorang duda tanpa anak, sebut saja Anto. Dari pernikahan ini kami dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Ramdhan. Suami ku yang sekarang juga berasal dari keluarga yang cukup terpandang di daerahnya yaitu Lamongan, bahkan dia seorang lulusan S1 hukum. Namun karena sifatnya yang terlalu memilah dan memilih pekerjaan, perekonomian kami sangat tidak teratur.

Bahkan aku harus kerja dari pagi hingga malam seperti saat aku masih menjanda dulu, untuk memenuhi kebutuhan dapur dan sekedar uang jajan anak ke-2 ku, karena anak pertama diasuh oleh bude ku. Malam itu hari rabu, sekitar pukul 18.30, hujan rintik mengguyur wilayah tempat tinggal ku. Aku pulang lebih cepat karena sedang ada pemadaman listrik. Aku bekerja disebuah toko agen. Aku bekerja mulai dari jam 7 pagi, pulang jam 12 siang, dan kembali bekerja pada jam 4 sore dan kembali pulang jam 9 malam.

Malam itu aku pulang pada pukul 18.30, seperti yang aku bilang, karena pemadaman listrik menyebabkan toko sepi dan kami dipulangkan. Aku pulang mengendarai sepedah motor ayah ku. Awalnya semua baik-baik saja, sampai aku melalui jalan sepi yang kanan kiri diapit oleh persawahan dan tanpa penerangan jalan. Saat aku melewati sebuah pohon yang orang jawa bilang pohon juwet, entah mengapa rasanya kepala ini ingin mendongak dan melihat keatas. Namun apa yang terjadi saat hal itu ku lakukan sungguh tak terduga.

loading...

Tepat diatas kepala ku, aku melihat sesosok wanita berbaju putih dan berambut panjang sedang melayang, aku tak sempat memperhatikan wajahnya. Aku sangat terkejut dan merasa ketakutan yang luar biasa. Tanpa pikir panjang, aku langsung memacu motor ku dengan kecepatan tinggi dan membaca ayat kursi. Aku tak perduli bahkan jika aku harus celaka sekalipun. Aku merasa lega saat aku sampai di perkampungan warga, dan melanjutkan perjalanan pulang. Inilah pengalaman seorang ibu yang harus banting tulang demi keluarga. Sekian, demikian cerita ku kali ini, semoga cukup membuat sahabat semua terhibur. Waasalamu’alaikum wr.wb.

Share This: