Pulau Angker Nusakambangan

Kisah angker Pulau Nusakambangan selalu mewarnai lokasi ekesekusi para terpidana mati. Pulau di wilayah Cilacap, Jawa Tengah, Tengah, ini dikenal sebagai tempat eksekusi mati, sekaligus lokasi Lembaga Pemasyarakatan (LP) dengan tingkat keamanan tinggi di Indonesia. Pulau angker ini bisa dicapai dengan kapal feri, menyeberang sekitar 20 menit dari Pelabuhan Sodong, menuju Pelabuhan Wijayapura. Terpisah selat yang dalam, Nusakambangan yang angker dikurung belantara hutan tropis yang menjadi habitat binatang buas, seperti harimau dan ular.

Tak berlebihan membandingkan Nusakambangan dengan Alcatraz, pulau penjara dengan tingkat keamanan maksimal di Teluk San Francisco, Amerika Serikat, yang ditutup tahun 1963. Tak hanya sebagai tempat “pengasingan” para terpidana kelas kakap, Nusakambangan yang terkenal angker ini juga menyimpan segudang misteri.

Berikut ini beberapa kisah angker yang ada di pulau Nusakambangan:

Kijang Emas

Kisah angker pertama terjadi pada malam menjelang eksekusi terpidana mati kasus teroris bom Bali, seorang sipir, Ageng, mendapat tugas piket jaga. Di tengah gelap dekat lokasi eksekusi Amrozi, Ageng melihat seekor kijang. Hewan dilindungi itu bertanduk kuning menyerupai emas dengan tanda putih di paha kiri.

Ageng lantas mengangkat senapan. Dia membidik ke arah sasaran. Sekejap kemudin terdengar bunyi letusan, namun kijang itu tidak tersungkur. Di mencoba lagi, hasilnya nihil. “Ditembak berkali-kali nggak mati,” katanya saat bercerita di atas bukit kapur Pulau Nusakambangan. Bukannya lari, kijang sakti itu malah memutar lehernya ke belakang. Sontak Ageng kaget. Dia lantas membenamkan senapannya ke tanah dan mengarahkan lagi ke arah kijang. Hewan itu langsung lari tunggang langgang dan menghilang.

“Katanya kalau nggak mempan, kita tinggal benamin pucuk senjata ke tanah. Eh ternyata benar dia lari,” ujarnya. Bukan pertama kali Ageng menemui kijang emas saat berburu di Nusa Kambangan. Menurut dia, binatang ini kerap berpindah-pindah mengelilingi pulau itu. Kijang itu sering terlihat di areal eksekusi terpidana mati teroris Bom Bali I Amrozi dan Imam Samudera.

Akar Mimang

Kisah angker lain, di Pulau Nusakambangan ada pantangan melangkahi akar Mimang. Jika sampai melangkahi pohon merambat itu, maka bakal sulit mencari jalan pulang alias tersesat. Namun Slamet dan Ageng mempunyai punya jurus jitu mengatasi hal itu. Orang tua mereka selalu berpesan kalau hendak masuk hutan sebaiknya menandai pohon besar menggunakan golok sebagai tanda pengingat jalan. “Tergantung niat sebenarnya, selama baik pasti tidak apa-apa”.

Penunggu Mustika Biru

Ada kisah angker yang lain di Nusakambangan. Bangunan lembaga pemasyarakatan di sana dipercaya ditunggu sosok dari alam gaib Seorang paranormal nyaris meninggal saat mengangkat batu Mustika Biru di Gua Ratu, Nusakambangan. Ceritanya begini. Seorang paranormal kenamaan dari Jakarta dua tahun lalu datang ke sana. Dia lalu bersemedi seharian di dalam gua untuk mengambil mustika. Saat Mustika itu keluar, sang paranormal tidak sadarkan diri dan nyaris meninggal. Beruntung saat itu seorang petugas lembaga pemasyarakatan menemukan dia. Paranormal itu diberikan segelas air dan langsung sadar.

“Dia hampir mati, untung ada petugas lembaga pemasyarakatan menemukan dia,” kata Slamet. Menurut Slamet, cerita berkembang di masyarakat pesisir pantai Cilacap mengatakan paranormal itu ingin mengembalikan penunggu Gunung Gede ada di Sukabumi, Jawa Barat. Berdasarkan hasil tirakat di Gunung Gede, dia dibisiki untuk menjemput sang penghuni di Nusa Kambangan. Karena jika tidak, bakal ada bencana di Gunung Gede. “Katanya bakal ada bencana, karena penunggunya pindah ke Nusa Kambangan” ujar Slamet.

Selain Mustika Biru, Slamet mengungkapkan ada macan kumbang berkeliaran di dalam hutan. “Ciri-cirinya bau anyir” ucapnya. Menurut Slamet, macan tersebut memangsa hewan ternak warga di Nusakambangan. Turunnya macan itu dipercayai lantaran di daerah Cilacap belum turun hujan. “Karena di atas nggak ada air” ujarnya. Namun macan ini belum pernah mengganggu warga. Binatang ini bakal lari jika bertemu warga. “Mungkin karena di sini tidak seperti di Kalimantan. Kalau di sana kan diburu” tutur Slamet.

Kawuk Pemakan Mayat

Bentuknya seperti biawak, berkaki empat, pemakan daging. Penciuman tajam persis komodo. Bedanya dengan dua hewan melata itu, kawuk berdiri, liar menyerang manusia. Warga Solok Timur, Pangandaran, Jawa Barat, pantang menyimpan mayat di rumahnya. Solok secara wilayah masuk Nusa Kambangan, Jawa Tengah. Jika menyusuri melalui kapal nelayan bisa menghabiskan sekitar empat jam dari pesisir Cilacap. Tempatnya terisolasi dari kawasan pulau Alcatraz Indonesia itu. Akses tertutup dan medan sulit sebab jalan masih terbatas.

Heri, nelayan ikan sekaligus pengantar wisatawan lokal atau mancanegara, membuktikan dengan mata kepalanya sendiri. Gerombolan kawuk mengejar mayat temannya yang tewas di dekat perkampungan Solok Timur. Penerangan di Solok belum memadai. Jika malam tiba, genset mulai dioperasikan memasok listrik di desa paling selatan itu. Penasarannya dengan sosok binatang angker pencari bangkai itu, dia harus melindungi teman sesama nelayan.

“Sudah kemalaman, jenazah harus dibawa ke kapal. Soalnya kawuk datang sekitar sepuluh ekor, kita semua buru-buru bawa pergi,” katanya di atas kapal miliknya, di Cilacap, Jawa Tengah. Penduduk Solok sudah terbiasa sejak matahari terbenam memilih berdiam diri rumah. “Kalau malam sudah jarang keluar rumah. Bila keluar minimal harus bawa golok” ujar Heri. Pulau seluas 21 ribu hektare itu memang cukup nyaman menjadi habitat binatang liar: macan kumbang, macan tutul, dan binatang melata. Konon pada 1990-an pernah dilepas setruk ular kobra di Nusakambangan.

Tapi angker bagi manusia. Heri mengatakan kondisi menakutkan memang disebar di pulau penjara kelas kakap itu. Selain cerita mistis, hewan-hewan jadi-jadian pun terekam oleh mata penduduk asli. “Ada juga hewan berkepala anjing, berbadan manusia penuh bulu. Sebutannya aul,” kata Heri. Saat itu temannya sedang menebang pohon di tengah pulau. Menjelang sore sosok aul terlihat sekelebatan mata. Bentuknya aneh, jalannya miring, kepala dan badannya terbalik. “Dia nggak menyerang, jalan cepat langsung menghilang,” ujarnya.

Aul diyakini sebagai seseorang sedang menimba ilmu hitam. Sebelum ilmunya sempurna, orang itu berubah menjadi manusia serigala dan kerap memangsa kambing. Tak ada mengetahui awal ceritanya. Kisah angker tak berujung seperti itu memang dibuat sengaja untuk menghindari pengunjung luar memasuki Nusakambangan.

loading...

Share This: