Ragaku Jadi Wadah “Mereka”

Salam kenal, saya Tio mau berbagi cerita mistis. Kisah mistis ini saat saya masih sekolah di sebuah SMA di Jakarta Utara. Tak seperti anak kebanyakan, Saya, dan dua teman saya, sebut saja Dono dan Kasino kerap berdiskusi soal masalah gaib. Bahkan kami bertiga pun berguru untuk mempelajari ilmu supranatural. Sejak saat ini, banyak hal ganjil yang kami alami. Khususnya pada jam sekolah, karena kami kerap merafal mantera, dan membuat teman lainnya kesurupan hingga jam belajaran pun dibubarkan.

loading...

Sejumlah “penunggu” sekolah pun kami kenal, mulai pocong di lantai bawah, hingga sosok kuntilanak yang mengaku bernama lusi sering sengaja menampakan diri dikelas hanya untuk menunjukkan keberadaannya. Bahkan pada saat ujian akhir nasional, bukannya belajar. Kami malah sibuk merafal mantera dan dzikir gimana menerawang kunci jawaban.

Kebetulan pada malam itu, saya yang ditunjuk untuk menjajal ilmu. Saya merawang letak ruangan dan kunci jawaban. Dan keesokan harinya posisi kami bertiga sama dengan apa yang saya terawang semalam. Singkat cerita, karena sering menggunakan mantera ada dampak negatif menimpa kami bertiga. Khususnya saya, beberapa hal aneh mulai terasa. Didalam batin saya, sering ada yang berbisik, entah makhluk apa itu.

Badan pun terasa berat, terkadang kerap bergerak tanpa perintah otak. Yang membuat saya sadar, tiap tengah malam tubuh saya terasa dibanting. Kakak saya pun kaget, melihat saya sholat malam, dengan suara seperti kakek-kakek. Saya memutuskan berobat, dengan diantar Dono di daerah Tanggerang. Saya ditanya nama, oleh seorang paranormal bibir saya terkunci dan saya merogoh dompet mengeluarkan KTP.

Ketika kepala saya dipegang, tanpa terkontrol otak tubuh saya melawan bahkan menyebut nama lain dan mengaku dari gunung ciremai. Berbagai macam pengobatan dan tempat telah saya datangi namun nihil. Kondisi ini sangat mengganggu saya yang akan mengikuti ujian SPMB. Hingga orangtua saya pun tahu. Mereka mencoba mengobati dengan mendatangkan “orang pintar” menurutnya ada dua kemungkinan.

Saya jadi gila atau jadi anak nakal, namun tiap hari saya berdzikir, dan menyesal bermain main dengan ilmu supranatural. Alhamdulilah sampai saat ini saya masih normal, dan sudah mengenal sosok yang “ikut” tubuh saya. “Kami sudah mulai mengenal” dia berupa genderuwo, kadang menyerupai macan.

Ada juga berwujud kakek bershorban. Malah terkadang saya membiarkan salah satunya mengendalikan raga saya, bila sedang berkelahi. Semoga menjadi pelajaran buat kita, jangan mengusik makhluk gaib bila mereka tak mengganggu. Karena pada dasarnya mereka juga minta dihormati dan punya perasaan.

Share This: