Ramalan Nasib

Sebuah cerita yang aneh tentang seorang wanita yang meramal nasibnya, namun dijanjikan keberuntungan dan kesialan dalam ramalan tersebut. Coba tebak apakah kamu bisa menemukan makna di akhir ceritanya. Seorang wanita muda sangat percaya dengan ramalan nasib dan cenayang. Dia selalu ingin tahu bagaimana takdir menentukan hidupnya, jadi dia mengunjungi seorang wanita tua yang memiliki reputasi sebagai peramal masa depan yang sangat terpercaya.

Cenayang itu kemudian memegang tangannya dan mulai bergetar seperti tengah kerasukan. Dengan suara yang rendah, dia mengatakan “Dalam empat tahun ke depan, kau akan memiliki tiga keberuntungan dan satu kesialan”. Wanita muda itu pulang ke rumah sore itu, sambil menerka-nerka keberuntungan dan kesialan macam apa yang ada di masa depannya. Di hari berikutnya, dia bertemu seorang pemuda gagah dan mereka mulai berkencan.

Pemuda itu jatuh cinta padanya pada pandangan pertama dan memperlakukan wanita itu seperti seorang ratu. Mungkin inilah keberuntungan pertama yang diramalkan cenayang itu. Dalam setahun, pemuda itu kemudian melamarnya dan wanita muda itu menerimanya. Orang tua wanita itu sangat bahagia dan pernikahan mereka dilangsungkan di hadapan keluarga dan teman-teman mereka. Wanita itu merasa hidupnya selalu berjalan sesuai keinginannya kini. Inilah keberuntungan kedua yang diramalkan cenayang itu.

loading...

Wanita itu sangat bahagia dengan pernikahannya. Suaminya adalah seorang yang sangat makmur dan hampir tidak ada sesuatu yang mereka tidak bisa usahakan. Beberapa saat setelah pernikahannya, dia kemudian menyadari bahwa dirinya telah hamil. Pasangan muda ini lalu tak sabar menunggu kelahiran bayi mereka dan sembilan bulan kemudian, mereka diberkati seorang bayi perempuan yang cantik dan sehat. Inilah keberuntungan ketiga dari ramalan cenayang tersebut.

Wanita itu kemudian mulai gelisah. Dia tahu telah mengalami tiga keberuntungan, dan kini dia harus mulai mengkhawatirkan keburukan dari nasib sial yang akan menimpanya. Dia tidak bisa lagi menikmati hidupnya karena gambaran-gambaran bencana yang melintas di pikirannya. Dia mulai mengalami kesulitan tidur dengan segala ketakutan dan kecurigaan yang dialaminya. Suatu malam, dia mengalami sebuah mimpi buruk.

Dalam mimpi itu, dia bisa melihat bayi kecilnya tengah tertidur dengan damainya dalam buaian bayinya. Tiba-tiba, sepasang tangan putih mengangkat bayinya dan membawanya ke jendela kamar. Dia sangat ketakutan memperhatikannya, ketika melihat tangan-tangan itu membuka jendelanya dan membuang bayinya keluar. Wanita itu langsung terbangun dibasahi keringat dinginnya. Jantungnya berdetak sangat kencang. Dia segera lari menuju kamar tidur bayinya dan menemukan buaiannya kosong dan jendela terbuka.

Ketika dia melihat keluar jendela, dia menjerit ketakutan. Bayi kecilnya yang cantik telah terbaring di bawah tanah dalam genangan darah di luar rumahnya. Pasangan muda itu berduka. Kehidupan keluarganya yang bahagia berubah menjadi tragedi. Wanita muda itu yakin bahwa inilah nasib sial yang telah diramalkan cenayang itu. Mengubur dalam-dalam rasa duka terhadap anak mereka, wanita itu dan suaminya memutuskan untuk tetap kuat dan tabah dalam melanjutkan hidup mereka.

Sejatinya, mereka masih memiliki banyak cinta dalam hidup mereka. Suatu malam, wanita itu mengalami sebuah mimpi buruk lagi. Dalam mimpinya, dia melihat suaminya tengah terbaring di ranjangnya, tertidur lelap. Tiba-tiba sepasang tangan putih itu muncul lagi dan menggenggam sebilah pisau dapur. Tangan-tangan itu lalu menikam suaminya berkali-kali. Wanita itu hanya bisa menyaksikan dalam ketakutan dan tak berdaya ketika suaminya dibunuh dengan begitu dinginnya.

Dia terbangun dalam keringat dingin, detak jantungnya sangat kencang. Ketika dia membalikan badannya ke samping dan melihat suaminya, dia langsung berteriak ketakutan. Suaminya sudah terbaring dalam kubangan darahnya dengan sebuah pisau yang tertancap di dadanya. Kini, wanita itu sangat terpukul. Kehidupan bahagianya hancur berkeping-keping. Buah dan belahan hatinya keduanya terbunuh. Dia mulai memikirkan bagaimana cara untuk menghindarkan dirinya dari tragedi ini.

Cenayang itu meramalkan sebuah kesialan, tapi bukan dua. “Bagaimana ini bisa terjadi?”, pikirnya. “Ramalan cenayang itu salah”. Suatu sore, wanita itu pergi mengunjungi cenayang itu kembali. “Ramalan palsu macam apa yang kamu katakan padaku?” teriaknya pada cenayang itu. “Kau meramalkan sebuah kesialan. Ya, itu memang terjadi. Bayiku terbunuh. Tapi kau tidak pernah mengatakan padaku bahwa ada kesialan yang kedua. Suamiku telah dibunuh”.

Cenayang itu menatap wanita itu dengan penuh kesedihan di matanya, dan meraih tangan wanita itu. “Oh, wanita yang malang”, katanya. “Kamu tidak mengerti. Aku meramalkan tiga keberuntungan dan sebuah kesialan. Keberuntunganmu adalah bertemu dengan seorang pemuda yang gagah,  menikah dan memiliki seorang bayi. Kesialanmu adalah kamu akan mimpi berjalan”.

Share This: