Ruang Kelas Berhantu

Kisah ini terjadi pada akhir tahun 2011 yang lalu, bulannya apa aku lupa, mungkin sekitar September atau Oktober. Waktu itu aku masih berstatus sebagai anak SMA. Kebetulan aku ambil sekolah akselerasi, yaitu sekolah percepatan yang hanya ditempuh dalam 2 tahun, yang normalnya SMA biasa 3 tahun. Waktu itu adalah hari sabtu, kelasku jam pertama pelajaran olahraga.

Tapi saat itu guru olahragaku sedang ada halangan sehingga tidak bisa mengajar. Jadilah anak-anak di bebaskan mau main apa. Anak-anak segera menuju lapangan basket di komplek belakang. (Sekolahku ada 2 kompleks. Komplek depan adalah ruang tata usaha, aula, koperasi, ruang kesenian musik, kelas bahasa aksel, serta berbagai laboratorium. Sedangkan komplek belakang adalah ruang guru, kelas-kelas reguler, kantin dan lapangan).

Nah waktu itu aku tidak ikut anak-anak yang lain alias lebih milih bolos bersama beberapa temanku, lagian kami pikir kan gurunya juga tidak ada. Jadi disekolahku ada yang namanya mata pelajaran muatan lokal (mulok). Untuk kelasku (aksel) muloknya adalah bahasa Jawa, sedangkan untuk kelas reguler adalah seni lukis batik/membatik. Kegiatan membatik ini memang biasanya dilaksanakan di halaman depan ruang kesenian yang berada di sebelah kelasku.

Aku dan 3 orang temanku duduk di kursi depan kelasku lihat anak-anak kelas 1 pada membatik, soalnya kelas kami kan tidak ada pelajaran itu, jadinya kami tertarik melihat anak-anak itu. Waktu itu, aku perhatikan ada salah seorang anak perempuan yang memakai seragam putih-putih yang biasa dipakai hari senin pada saat upacara bendera, padahal waktu itu hari sabtu, yang seharusnya pakai seragam batik kelas masing-masing.

Jelas penampilannya mencolok sekali dibandingkan anak-anak yang lain. Anak ini duduk membatik sendirian di dekat kolam ikan, agak berjauhan dengan teman-temannya yang lain. Duduknya pun arahnya membelakangiku, jadi aku tidak tau seperti apa wajahnya. Ketiga temanku akhirnya mengajak untuk pergi ke kantin saja karena bosan, tapi aku menyuruh mereka agar duluan saja karena aku belum lapar.

Saat ketiga temanku sudah pergi, anak yang pakai seragam putih-putih itu lewat di depanku. Penampilan dan wajahnya biasa saja, tapi dia terbatuk-batuk dan berjalan agak tergesa menuju toilet di sebelah ruang guru aksel. Waktu dia melewatiku itu, aku lihat di seragamnya yang berwarna putih ada noda merah seperti darah, dia pun terus terbatuk-batuk. “Kenapa dek?” tanyaku padanya. Tapi dia tidak menjawab dan mempercepat langkah kemudian langsung masuk ke toilet.

Aku tidak terlalu memikirkannya, lalu kuputuskan menyusul teman-temanku yang lain ke kantin karena bosan. Beberapa saat kemudian, aku dan teman-temanku sudah balik dari kantin. Kami duduk-duduk lagi di depan kelas sambil menunggu jam pelajaran olahraga habis. Kulihat anak perempuan tadi sudah ada di tempatnya semula sedang membatik. Karena merasa aneh dengan anak itu, aku pun menanyakannya pada teman-temanku.

loading...

“Eh itu anak perempuan yang pake seragam putih siapa sih? Dia kok” Belum selesai aku berkata-kata, anak perempuan yang sedang kubicarakan itu tiba-tiba saja berdiri, dan menghadap ke arahku. Dia menatapku beberapa lama seolah-olah tau dirinya sedang dibicarakan. Aku kaget, soalnya tatapannya dingin dan aneh. Lalu tiba-tiba lagi, dia berlari dan masuk ke dalam ruang kesenian. Nah loh, maksudnya apa coba? Karena penasaran, aku pun mendekati ruang kesenian.

Teman-temanku bertanya aku mau ngapain, tapi aku diam saja. Aku mengintip lewat kaca yang ada di pintu ruang kesenian yang pintunya tertutup. Memang benar ada anak perempuan itu, dia sedang berdiri menatap lukisan yang ada di dinding ruangan itu. “Aneh banget sih ini anak. Bukannya diselesein itu batiknya, malah kayak orang ilang di ruang kesenian sendirian gitu.” Pikirku.

Aku lalu menghampiri Ningrum (bukan nama asli) yang sedang membatik dihalaman juga. Dia ini salah satu teman kost ku. Kupikir pasti dia tahu teman sekelasnya yang aneh itu. Lalu terjadilah percakapan kira-kira seperti ini.

Aku (A) : Ningrum, itu temenmu yang tadi pake seragam putih siapa sih namanya?
Ningrum (N) : Hah? Yang mana? Memang ada?
A : Ada, tadi dia membatik di sana tuh. (Aku menunjuk arah dekat kolam, tapi peralatan batiknya sudah tidak ada. Nah, kaget jadinya. Pokoknya ada disitu deh tadi pokonya. (Masih ngeyel)
N : Perasaan nggak ada deh mbak. Memang yang anaknya kayak gimana?
A : Yang rambutnya di kucir satu, pake gelang warna-warni gitu di tangan kiri. Tadi waktu mau ke toilet ada darah kayaknya di bajunya, sakit ato kenapa kali tuh anak.
N : (melongok) Beneran? (Ambar menarikku menjauh dari anak-anak lain) Mbak inget sama anak kelasku yang meninggal 2 minggu kemaren? Namanya Tia mbak Masa iya sih yang mbak liat dia? Dia memang suka pake gelang warna-warni gitu. Rambutnya suka dikuncir, pake kuncir kuning bukan tadi mbak lihatnya?
A : (giliran aku yang melongok, sambil gemeteran ini badan) iya bener.

Ningrum pun cerita, kalau anak yang namanya Tia itu meninggal 2 mingguan yang lalu, waktu itu hari senin katanya pulang sekolah gusinya ada yang bengkak dan mengeluarkan darah, sebabnya gak tau kenapa. Darah itu keluar terus sampai beberapa lama. Menjelang sore hari badannya demam tinggi, sebelum di bawa berobat, namun sudah meninggal duluan. Dan keadannya masih pakai seragam waktu itu. Inalillahi. Aku memang waktu itu mendengar tentang anak kelas 1 ada yang meninggal temannya si Ningrum ini, tapi aku gak tau orangnya yang mana.

“Ya ampun, terus tadi itu siapa dong? dia masuk loh ke ruang kesenian.” Kataku masih gemetaran. Karena penasaran, Ningrum mengajakku mengeceknya, tapi aku ragu-ragu karena takut. Ya sudah, aku ikut saja di belakangnya. Saat kami membuka pintu ruang kesenian dan mengintip ke dalam. Kosong, tidak ada siapa-siapa. Kami berdua masuk pelan-pelan. “Tadi dia ngelihatin lukisan di situ tuh” tunjukku ke salah satu sudut.

Kata Ningrum, itu memang lukisan si Tia, tugas kesenian seminggu sebelum kematiannya. Gambarnya sih tentang go green gitu lah. “Tokek! Tokek!” Kaget dengan suara tokek itu, aku dan Ningrum berhamburan keluar dari ruangan kesenian. Sampai di depan teman-temanku aku tidak memberitahukan pada mereka tentang apa yang barusan aku alami. Takutnya langsung pada heboh setelah itu, aku menjalani rutinitas di kelas seperti biasa. Entah hanya perasaanku atau apa, seperti ada yang berdiri tepat di belakangku.

Tapi aku tidak menghiraukan, tidak takut juga karena saat itu siang hari dan banyak teman-teman di sekelilingku. Justru yang lumayan parah itu si Ningrum, malamnya sekitar jam 1 dia menggedor-gedor pintu kamarku (kamar kami bersebrangan). Ketika kubuka pintu, wajahnya pucat dan meminta untuk tidur bersamaku. Tapi karena tidak bisa tidur, dia mengajak untuk solat malam berdua. Setelah sholat, pikirannya sudah lumayan tenang.

Dia pun menceritakan kalau saat tidur tadi dia bermimpi Tia datang padanya, wajahnya pucat, bibir mengeluarkan darah, bajunya kusam dan kucel seperti gelandangan. Dia menarik-narik tangan Ningrum sambil berkata, “Ningrum, Ningrum. temenin, aku kesepian, aku pengen sekolah lagi sama teman-teman”. Aku merinding juga mendengarnya. Kami lalu mendoakan Tia, supaya dia tenang di alamnya. Kemudian kami tidur kembali. Esoknya pun hari berjalan normal dan tidak ada gangguan-gangguan apapun.

Share This: