Rumah Angker Ruby

Ruby adalah temanku, sebenarnya itu bukan nama sebenarnya tetapi aku senang saja memanggilnya Ruby. Kami sama-sama kuliah di Fakultas Pertanian tetapi beda angkatan, jurusan bahkan aku tidak pernah bertemu dengannya dikampus karena aku kenal dia saat sudah bekerja, sedangkan dia baru masuk kuliah. Awal mula perkenalannya gak usah aku ceritakan *hehe, ruby adalah seorang perempuan.

Dia anak yang aktif dan lumayan pintar, dikampus hampir semua kegiatan dia ikuti, dari organisasi perhimpunan jurusan, pencinta alam, senat mahasiswa dan lain-lain bahkan dia juga menjadi salah satu co-assisten praktikum dibeberapa labolatorium fakultas pertanian. Aku mendengar cerita ini dari dia, tentang bagaimana angkernya rumah yang dia tinggali waktu kuliah (sekarang dia telah lulus dan bekerja disalah satu bank).

Sebenarnya rumah ini dibeli oleh orang tuanya sudah cukup lama semenjak dia masih SMP. Rumah itu dibeli dengan harga yang relatif murah (mungkin karena angkernya). Rumah itu jarang ditempati, kecuali saat dia dan keluarganya berkunjung ke kota itu untuk berlibur karena dia dan keluarganya tinggal dikota lain. Jadi jelas saja rumah itu menjadi angker karena jarang ditempati sampai akhirnya dia lulus tes masuk perguruan tinggi dikota itu sehingga mau tidak mau dia akhirnya harus tinggal dirumah itu sendirian.

Pada awalnya dia merasa takut tinggal disana, bukan karena dia mengetahui rumahnya itu angker tetapi karena dia takut kalau nantinya ada pencuri atau orang yang berniat jahat yang datang. Dia mau tinggal disana setelah ada salah satu temannya yang satu jurusan dengannya mau menemaninya.

Pada masa awal kuliah dia tidak pernah memperhatikan kejadian aneh dirumah itu, berbeda dengan temannya yang mengatakan sering melihat bayangan perempuan menggunakan pakaian sekolah SMA yang mondar-mandir diteras depan, bayangan hitam dikamar mandi, bahkan suara anak-anak yang bermain didapur. Ruby tidak pernah menganggap serius apa yang dikatakan oleh temannya, tapi hebatnya temannya ini juga tidak mempermasalahkan tidak pedulinya ruby dan tetap tinggal disana walaupun banyak hal aneh terjadi.

Sampai akhirnya setelah satu tahun lebih mendiami rumah itu saat jadwal kuliahnya sudah mulai longgar akhirnya dia untuk pertama kalinya memperhatikan kejanggalan-kejanggalan itu, yang pertama dilihatnya adalah saat bangun dini hari entah karena apa, dia mendengar suara orang mengetuk pintu ruang tamu. Mengira itu adalah temannya yang baru pulang dia segera kedepan untuk membukakan pintu, tetapi sebelumnya dia melihat dari jendela siapa yang mengetuk pintu rumahnya dan dia melihat perempuan mengenakan pakaian anak sekolah SMA berdiri didepan pintu.

Berpikir positif mungkin ada yang membutuhkan pertolongan dia segera membuka pintu rumahnya. Saat pintu terbuka dia sangat terkejut ternyata anak sekolah tersebut sudah menghilang, masih berpikir positif dia mencari disekitar teras dan kepintu gerbang dan ternyata gerbang rumahnya masih terkunci. Segera dia berlari masuk kembali dan mengunci pintu kemudian masuk kekamarnya untuk tidur.

loading...

Di kesempatan lain waktu itu dia baru pulang kuliah saat maghrib, karena lapar dia segera menuju dapur rencananya mau memasak mie instant dulu sebelum kemudian keluar mencari makan. Sebelum mencapai dapur dia sayup-sayup mendengar suara anak-anak mengobrol dari arah dapur tetapi saat sampai didapur dia tidak melihat ada orang disana, dan saat dia menanyakan kepada temannya, temannya mengatakan bahwa itu biasa terjadi dan menyalahkannya karena selama ini tidak memperhatikan atau menghiraukannya.

Semenjak itu banyak hal terjadi yang Ruby lihat, mulai dari anak kecil yang berlarian didapur, si anak sekolah yang duduk dikursi teras, kelebatan bayangan hitam dikaca yang ada dikamar mandi, suara-suara dari atap rumah seperti orang berlari, suara seperti ada yang jatuh diatap teras dan saat diperiksa tidak ada sesuatu, bayangan seperti ada orang yang menonton televisi, suhu ruangan yang tiba-tiba panas tetapi hanya dirasakan oleh orang tertentu atau temannya yang menginap disana.

Bahkan pernah ada temannya yang tidak mempercayai hal mistis mau membuktikan keangkeran rumahnya. Akhirnya temannya memutuskan untuk menginap selama 3 hari disana yang tentunya dia setujui, tetapi baru satu malam menginap temannya itu sudah menyerah. Katanya secara fisik atau visual dia tidak diganggu atau melihat hal-hal aneh, tetapi saat tertidur dia bermimpi sangat mengerikan sampai terbangun beberapa kali tetapi saat dia tertidur lagi mimpi menyeramkan itu selalu kembali datang.

Saking menakutkannya dia tidak berani menceritakan kembali mimpinya. Penampakan terakhir yang dilihat ruby adalah penampakan yang palling nyata saat dia harus menyelesaikan revisi skripsinya yang akan diserahkan keesokan harinya. Waktu itu dia baru pulang sekitar jam 11 malam karena ada acara dikampus. Sesampainya dirumah dia baru ingat kalau revisi skripsinya belum dia selesaikan.

Segera dia menuju salah satu ruangan yang memang tempat khusus untuk bekerja. Waktu itu temannya sedang pulang kampung, saat akan memasuki ruangan itu dia dikejutkan dengan adanya cahaya yang terlihat dijendela dari arah kamar tersebut, tanpa berpikir panjang dia segera membuka pintu. Sejenak dia terkesiap dan berdiri mematung selama beberapa saat karena dilihatnya komputernya menyala dan ada orang berkepala botak sambil duduk dikursi dengan menekuk lututnya tidak mengenakan baju cuma memakai celana pendek memperhatikan komputer tanpa ekspresi seperti sedang menonton sesuatu.

Awalnya dia mengira itu tuyul tetapi badannya tidak seperti anak-anak lebih mirip remaja tanggung. Terlintas pikiran lucu kalau itu adalah “tuyul remaja”. Sadar bahwa yang dilihatnya makhluk halus, dengan berlagak biasa berusaha menekan rasa terkejut dan takutnya dia mendekati “tuyul remaja” itu dan berujar “hei, kamu minggir sana aku mau kerja dulu”. Mendengar perintah itu “tuyul remaja” tersebut segera turun dari kursi dan duduk disamping kursi sambil memeluk lututnya masih tanpa ekspersi apapun.

Ruby yang melihat “tuyul remaja” itu menyingkir dari kursi, segera duduk dan mulai bekerja merevisi skripsinya. Sesekali dia menoleh ke arah “tuyul remaja” itu, tetapi dia masih diam dengan memeluk lututnya. Setelah Ruby hampir selesai bekerja kembali dia menoleh ke arah “tuyul remaja” itu dan ternyata sudah menghilang. Segera ruby menyelesaikan revisinya dan mematikan komputer kemudian masuk kekamar untuk tidur.

Dan itulah penampakan terakhir yang dia lihat sampai kemudian dia wisuda dan pindah dari rumah itu karena mendapat pekerjaan di bank diluar kota, dia tidak pernah diganggu oleh penampakan dirumahnya itu. Temannya yang tinggal disanapun bersikap santai saja selama disana karena sudah terbiasa sampai sama-sama selesai kuliah. Sekarang rumah itu kembali kosong dan entah sampai kapan akan ditempati kembali. Sekian.

Yandi Lalu

yandi

Facebook – Yandi Lalu »

Instagram – @yandilalu

All post by:

yandi has write 87 posts

Please vote Rumah Angker Ruby
Rumah Angker Ruby
Rate this post