Rumah di Kompleks Jalan Buntu Part 2

Saat itu saya berbagi pengalaman tentang rumah itu. Tiba-tiba mba sumi pun ikut bercerita, tentang dia alami ketika masih menghuni rumah ini. Sewaktu dia masih tiduran di kamarnya yang no 2 (dan kini menjadi kamarku) tiba-tiba seperti ada yang menggoyangkan kelambu kamarnya, seperti ada yang mainkan, katanya.

Dan saya mengerti lalu aku bercerita tentang tiba-tiba televisi hidup sendiri, lampu kamar ke 3 sering putus walaupun sudah di ganti yang baru, dan lampu kamar mandi serta toilet, setiap yang 1 di pasang, yang sebelah mati, bahkan sudah di beri yang baru, tapi terus saja begitu. Dan setiap saya di kamar seringnya ketindihan ketika tidur, di mana seluruh badan tidak bisa bergerak, dan suara teriakan kita tidak di dengar oleh siapapun.

Namun saya pernah tindihan yang lebih parah, dan membuatku trauma. Tapi lain kali saja saya bercerita tindihan itu, karena durasi ceritanya amat panjang, *hehe. Kembali ke topik, teman-temanku mendengarkan semua ceritaku. Bahkan ada yang merinding. Waktu itu, mertuaku masih hidup, dan ia amat sayang padaku. Entah kenapa, ia lebih memanjakanku dari pada menantu satunya.

Mungkin karena aku dan suamiku selalu membantu di pabriknya (tempat aku dan teman-temanku bekerja). Di kompleks rumah baruku terdapat beberapa pabrik kerupuk. Dan dulu yang paling besar omsetnya hanya di pabrik ujung jalan buntu dan pabrik mertuaku. Tapi lambat laun, mertuaku bangkrut karena hal sesuatu. Itu sebabnya saya tidak melanjutkan cerita di ”kelurahan simbarwaringin” sebelumnya. Lain waktu juga akan ku buka ceritanya di lain judul.

Kembali ke tema, rumahku dulu bekas rumah mang tani. Entah seperti apa orangnya saya belum pernah tahu. Lalu dia dan keluarganya pindah ke pulau jawa. Dan rumah ini di jual, dan tidak berlangsung lama penghuni ke 2 pindah lagi, hingga rumah ini di kontrakan pada beberapa keluarga. Hingga terakhir di tempati mba sumi, sebelum mertuaku membeli rumah ini.

Saya sangat heran, kenapa terlalu banyak pengganti penghuni rumah ini? Bahkan saya berpikir, apakah rumah ini seterusnya akan berganti-ganti keluarga? Dan ternyata benar terjadi. Keluargaku tidak menempati rumah ini lagi, walaupun kami sebagai pemilik yang sah sekarang. Saat itu ada burung hantu masuk rumah kami, tapi aku pikir itu hanya burung nyasar.

Tapi tetanggaku sekaligus sahabatku berkata “kata orang sunda mah kalau ada burung hantu masuk rumah, si penghuni rumah akan mendapat huru-hara atau musibah” katanya. Tapi saya tidak percaya, tapi selang 1 bulan terjadi, keluargaku berantakan. Dan sekarang tidak menempati rumah itu lagi. Kabarnya rumah itu sekarang di kontrakan. Sekian dan maaf jika kurang seram atau ada unsur curhat.

Dwy Dwi Dandwi

Dwy dwi dandwi

Jangan baca ini sendirian ya... :D by: penulis amburadul horor dari lampung tengah.

All post by:

Dwy dwi dandwi has write 118 posts