Rumah di Kompleks Jalan Buntu

Hay penggemar KCH. Semoga kalian tidak bosan membaca cerita dari miss dwi, yang imut-imut alias amit-amit, dari lampung. Kali ini bermula di tahun 2011 silam. Di mana keluarga kecilku menempati rumah baru. Berlokasi di sebuah gang, jalan buntu, karena di ujung gang ada sebuah pabrik kerupuk besar milik orang kaya di area itu. Rumah ini termasuk rumah lama, di bilang rumah baru karena baru aku huni, *hehe.

Sebelumnya hanya beberapa rumah di sini termasuk rumah baruku, dulu masih rawa dan alas. Hingga sekarang sudah padat dan di beri nama “Kampung Baru”. Rumahku sudah 1 tahun tidak di huni, karena saat itu saya sedang mengandung 6 bulan. Kata orang tua, tidak boleh pindah rumah saat mengandung tua, nanti umur kandungannya muda lagi.

Begitu katanya, percaya dan tidak percaya ya nurut saja. Karena saya juga belum siap, banyak yang harus di renovasi. Sambil menunggu persalinan dan bayiku sudah besar (berumur 1 setengah tahun). Tiba-tiba mertuaku menyuruh pindahan di hari rabu. Tentu saja kabar itu membuatku tidak suka karena terbilang dadakan. Hari itu hari selasa, aku dan suamiku langsung bersih-bersih rumah baru, mengepel, menyapu, dan lain-lain.

Belum terlalu kering air di lantai, barang-barang berat di angkut ke rumah baru ini. Tentu saja semua warga sekitar pada bengong menonton, karena heran kenapa dadakan, katanya. Keesokan paginya tinggal saya dan anak saya serta barang sisaan di angkut ke rumah. Saya semakin kesal, karena tidak sekaligus membuat syukuran. Kata orang zaman dulu, setiap pindah rumah harus membuat selamatan mengundang tetangga.

Tapi ini berselang 3 hari setelah pindah, baru membuat selamatan. Alhasil di malam pertama hingga ke 3. Anak semata wayangku yang masih berusia 1 setengah tahun saat itu menangis tiada henti setiap malam hingga larut pagi. Hingga tetangga sebelahku keluar rumah dan menghampiri kami, sambil bertanya kenapa 3 hari kok anakku nangis terus. “Tidak apa-apa” jawabku.

Lalu ia menambahkan “bikin selamatan lho” katanya. Itu menambah saya kesal, saya marah kepada suami. “Itu makanya segera bikin selamatan, jadi gak seperti ini setiap malam, apalagi sudah 1 tahun tidak di huni” kataku marah. Ketika orang itu sudah pergi. Dan Suamiku hanya diam saja. Jarak rumah kami dengan warga lain terbilang sangat dekat, bahkan tidak ada jarak lahan satu meter pun. Sehingga jika ada suara di tengah malam akan terasa sangat jelas.

Mungkin suara tangisan anakku mengganggu mereka. Karena saya sudah tidak tahan lelah dan ngantuk. Akhirnya aku berucap “mbah-mbah kita itu sama-sama penghuni sini, penghuni rumah ini, janganlah saling ganggu” kataku ketus. Tiba-tiba *cep, anakku berhenti menangis seketika, dan suasana menjadi tenang damai. Saya terheran apalagi semula anakku tidak mau aku ajak ke kamar untuk tidur, kali ini dia nurut dan terlelap hingga pagi.

Sebelum hilang rasa heranku, aku berkata pada suamiku. “Mungkin kita belum ijin, jadi kita diganggu, tadi saya marah-marah sama demitnya biar gak ngeganggu, dan sekarang fadly (nama anakku) diam” kataku. Suamiku juga terheran lalu menyuruhku tidur. Keesokan harinya di saat membuat selamatan. Pagi-pagi fadly rewel lagi, tapi setelah sore di acara doa dan malam juga, fadly tenang dan sudah mau bermain seperti biasa.

Hingga waktu berlalu seiring dia lancar berjalan. Namun kejadian aneh belum berakhir. Karena saya jarang di rumah ketika siang, jadi tidak terlalu menggubris. Hingga waktu itu membuat saya dan temanku (emi) yang sedang berkunjung ke rumah di buat heran. Di ruang tv di mana saya dan my son bermain. Mainan yang berbentuk anak ayam, saya taruh di atas lemari sudah 3 hari di sana tanpa bergeser.

Tiba-tiba tidak ada angin dan hujan mainan itu jatuh sendiri dan membuat kaget. Temanku bertanya “memang mba naruhnya terlalu ke pinggir kali, jadi jatuh”. Kataku “tidaklah mi, tadi kan emi lihat tidak di pinggir, lagian itu sudah 3 hari di situ dan tidak kenapa-napa” kataku menjelaskan. Lalu dia diam saja dan mencoba tidak menghiraukan, tapi saya lihat wajahnya masih ketakutan.

loading...

Lalu dia mengalihkan tema pembicaraan lain. Keesokan harinya di tempat kerja, kami mengobrol dengan teman-teman yang lain. Dan salah 1 teman kami (bernama sumi). Sebelumnya pernah menempati rumahku. Sehingga ketika kami membahas rumah itu, dia berani bercerita ketika masih menepati rumah itu. Bersambung ke Rumah di Kompleks Jalan Buntu Part 2.

Dwy Dwi Dandwi

Dwy dwi dandwi

Jangan baca ini sendirian ya... :D by: penulis amburadul horor dari lampung tengah.

All post by:

Dwy dwi dandwi has write 118 posts