Rumah Perum AD (Angkatan Darat) Brawijaya Surabaya Bagian 2

Cerita sebelumnya, rumah perum AD (Angkatan Darat) Brawijaya Surabaya dan france sahabatku si noni Belanda. Di perum AD (Angkatan Darat) Brawijaya Surabaya. Walaupun aku sering ditemui makhluk gaib dirumah itu, tetapi tidak mempengaruhi keluarga dirumah itu, semua baik-baik saja.

Sampai pada suatu hari pakde mengeluh sakit di dadanya, ternyata pakde terkena jantung koroner, setelah di diagnosa jantung pakde pun semakin melemah. Setelah beberapa hari rawat di rumah sakit, akhirnya pada waktu yang telah menjadi takdir, pakde meninggal dunia. Kesedihan kami sekeluarga pun memuncak, kami bagaikan anak ayam yang telah kehilangan induknya untuk selamanya.

Setelah di makamkan semalaman, kami sekeluarga menunggu anak-anak pakde yang tinggal diluar kota untuk pulang kerumah, kami juga menunggu penghormatan terakhir dari kesatuan AD (Angkatan Darat) Brawijaya Surabaya saat itu. Setelah pakde tiada, kembali lagi kejadian-kejadian aneh yang bermunculan dirumah itu. Pada malam harinya setelah pakde di makamkan, aku melihat seakan-akan pakde masih hidup, dan sedang beraktivitas seperti biasa dikamarnya. Akal sehatku seakan sudah tidak berfungsi secara normal saat itu.

Setelah meninggalnya pakde, budhe pun pindah dari kamar yang ditempatinya bersama pakde waktu itu, budhe bilang sama aku, sulit untuk tidur dikamar itu, kalau budhe butuh sesuatu dikamar itu, pasti budhe suruh aku untuk mengambilnya. Pada malam berikutnya ketika aku membuka pintu hendak menyapu dikamar pakde, *deg! Kembali aku melihat pakde sedang duduk dimeja rias sedang mencukur kumis dan jenggotnya.

Aku semakin stress dengan keadaan ini, dengan munculnya penampakan sosok pakde, tak ada satupun didalam rumah yang berani masuk ke kamar pakde, apalagi menggantikan aku untuk membersihkan kamar pakde. Belum genap 7 hari pakde tiada, aku ingat malam itu hujan rintik-rintik semua keluarga memilih untuk diam dikamarnya masing-masing, tepat jam 1 malam aku merasa sukmaku seperti melayang keluar dari ragaku.

Sukmaku melihat sosok makhluk berwajah kuda, berkaki 3 dengan mata berwarna merah menyala hendak masuk kedalam rumah. Ku amati makhluk itu tidak dapat masuk kedalam rumah, karena dalam diamku aku terus menerus membaca ayat-ayat kursi. Pakde di mandikan di halaman belakang rumah di taman itu. Selama 40 hari bau bunga pemandian jenazah masih segar tercium. Dalam penglihatanku di taman banyak sekali anak-anak dari makhluk gaib, yang sedang bermain saat hari mulai gelap.

Di malam berikutnya, waktu semua keluarga didalam rumah semua terlelap tidur, badanku lelah sekali tapi mataku sulit untuk dipejamkan, dalam suasana hening dan sepi, aku mendengar langkah kaki yang diseret dengan berat, suara langkah kaki itu seperti berputar-putar didepan kamarku, entah aku tidak tahu itu penampakan sosok apalagi.

Teror makhluk gaib dirumah itu belum selesai, pada malam berikutnya aku mendengar diatas genteng ada banyak serdadu Belanda yang sedang baris berbaris. *Prok. *Prok. *Prok. Setiap malam aku mendengarnya, aku bertanya sama budhe, anak budhe juga pembantu dirumah, mereka menjawab tidak mendengar suara apa-apa, padahal aku mendengar sangat jelas sekali orang sedang berbaris, dibarengi suara orang yang sedang bercakap dalam bahasa Belanda, terdengar juga suara desingan-desingan peluru yang bising sekali dirumah itu.

loading...

Suara-suara serdadu berbaris diatas genteng menggangguku selama 40 hari, dan selama 40 hari aku selalu dicekam rasa ketakutan. Setiap harinya badanku berkeringat dingin dari telapak tangan hingga telapak kakiku selalu berair, setelah aku cek ke dokter, aku diagnosa lemah jantung karena mengalami rasa ketakutan yang berlebihan.

Di malam terakhir 40 harinya pakde selain mendengar serdadu Belanda berbaris, burung peliharaan pakde cucak rowo berisik sekali tak mau diam, terus terbang kesana kemari didalam sangkarnya, kami pun sekeluarga mengecek burung itu, ternyata si Petruk burung cucak rowo kesayangan pakde kami lihat sudah tidak bernyawa. Semasa hidup pakde, pakde selalu menggunakan mobil Katana, setelah pakde tiada aku melihat mobil Katana itu menyala sendiri dengan suara sound musik didalamnya, sampai 3 kali aku melihat kejadian itu.

Akhirnya penglihatanku juga syaraf otakku tidak bisa menerima sosok penampakan-penampakan makhluk gaib yang beruntun, aku pun dalam pengawasan dokter karena mengalami lemah jantung yang semakin parah. Dalam proses penyembuhan, aku pulang ke kerumah orang tuaku di desa, selama 2 pekan di desa membuat aku sangat tenang dan tentram sekali, badanku pun terasa segar bugar. Dan tak ada lagi bayang-bayang makhluk gaib di rumah Belanda itu. Tamat.

Salim

Salim

Kasih sayang terhadap sesama, walau pun kita berbeda agama dan ras. Kita berbeda-berbeda bahasa namun tetap satu tujuan (Bhineka Tunggal Ika).

All post by:

Salim has write 16 posts