Rumah Perum AD (Angkatan Darat) Brawijaya Surabaya

Cerita sebelumnya, “france sahabatku si noni Belanda“. Selama beberapa tahun tinggal di rumah itu banyak kejadian yang aneh-aneh yang kualami di rumah Perum AD (Angkatan Darat) Brawijaya Surabaya. Rumah tersebut memang cukup besar, dari luar rumah sudah terlihat menyeramkan dan terkesan angker, apalagi kalau sudah memasuki malam harinya *huft, horor banget.

Malam itu bulan purnama, saat aku didalam kamar sedang membaca buku, tiba-tiba kebelet kepingin buang air kecil. “Haduh ada-ada saja ini, malam-malam mau p*p*s lagi, jalan untuk kekamar mandi pun harus melewati halaman rumah, ya Tuhan sudah gak tahan banget mau ke kamar mandi”.

(Aku beri gambarkan sedikit, di rumah itu ada halaman untuk menjemur pakaian sekaligus ada ayunan di tamannya). Jam di dinding menunjukkan pukul 00.30 lewat tengah malam, ingin rasanya menahan buang air kecil, rasa kebelet mengalahkan rasa takutku, waktu aku keluar dari dalam kamar, bulu kudukku sudah mulai berdiri semuanya, aku tengok kanan dan kiri, gak ada satu pun penghuni rumah yang kelihatan, secara tak sengaja aku melihat ayunan di taman bergerak dengan sendirinya.

“Mungkin hanya angin dan halusinasiku saja”, pikirku saat itu. Ku amati kembali pandanganku, astaga! Aku melihat di halaman rumah, ada sosok laki-laki memakai jas berwarna hitam, yang sedang asyik bermain ayunan, aku pun terkejut dan langsung berlari menuju kamar mandi, detak jantungku sudah *dag-dig-dug gak karuan, lalu segera aku percepat aktivitasku didalam kamar mandi, dan aku coba melihat kembali sosok lelaki yang memakai jas hitam tadi, ternyata sudah tidak ada di sekitaran taman, aku pun langsung mengambil langkah seribu lalu kembali masuk kedalam kamarku.

Di malam hari yang lain, entah mengapa aku merasa takut sekali untuk tidur di kamarku sendiri, maka aku meminta bibi Un (pembantu rumah) untuk menumpang tidur di kamarnya malam ini. Kebetulan tempat tidur bibi Un tingkat, bibi Un tidur dibawah aku diatasnya. Aku pikir dengan tidur di kamar Bibi Un aman dari gangguan makhluk halus, ternyata malah lebih seram lagi. Oh iya di dalam kamar bibi Un itu ada sebuah lemari yang cukup besar.

Tak lama kemudian aku melihat sesosok penampakan yang turun dari atas lemari, sosok makhluk tersebut besar dan berbulu, sosok itu kuperhatikan turun dari atas lemari secara perlahan-lahan. Jantungku pun mulai berdegup dengan cepat dan mulai tidak beraturan. Ingin rasanya aku menjerit malam itu sekencang-kencangnya, tetapi mulutku seperti rapat terkunci, kulihat kebawah ranjang bibi Un sudah tertidur pulas, kuperhatikan makhluk itu berjalan keluar dari kamar bibi Un lalu menembus pintu. Belum hilang rasa ketakutanku, aku merasakan seperti ada seseorang yang sedang memelukku dari belakang. (Waktu aku tidur dalam posisi menyamping).

“Ya Tuhan apa lagi ini, pikirku? Saat aku membalikkan badan, astaga! Yang memelukku ternyata hantu yang wajahnya seperti jeruk purut”. Aku ketakutan setengah mati malam itu, tubuhku amat sulit untuk aku gerakan dan rasanya jantungku sudah berasa mau lepas. Malam itu terasa panjang banget bagiku, dan tak lama kemudian terdengar adzan subuh berkumandang, aku pun mulai tenang dan dalam hati, aku membaca doa-doa yang aku bisa.

Menurut warga sekitar, rumah Perum AD Surabaya itu dahulunya tempat markas serdadu Belanda juga tempat penyiksaan pribumi di zaman penjajahan Belanda. Kita masuk kembali kedalam ceritaku. Aku sering sekali ke kamar bibi Un untuk sekedar mengobrol atau pun bercanda, pada malam itu aku mendengar seperti ada seseorang yang membuka pintu garasi, saat itu belum ada yang namanya pintu rolling door, tetapi masih pintu kayu, kalau di buka berbunyi *kriek, haha, pasti kedengaran kalau ada orang yang akan masuk rumah.

Bibi Un menyuruh aku untuk melihat siapa yang membuka pintu garasi, saat aku lihat dari atas tempat tidur, gak ada orang yang buka pintu garasi, tetapi sekilas aku melihat ada 2 sosok makhluk gaib bertubuh kecil usianya sekitar 6 tahunan, salah satu dari makhluk gaib kecil itu melihat kearahku dan tertawa, kuperhatikan mulutnya bukan seperti anak kecil pada umumnya, tetapi mulutnya malah memanjang! Walah, pokoknya sangat mengerikan.

Di lain waktu saat musim liburan, salah satu sepupuku baru pulang dari Bandung, namanya mas Ryan, mas Ryan termasuk orang yang nggak percaya akan makhluk gaib. Aku pun mulai menceritakan tentang angkernya rumah Perum AD bekas Belanda ini, setelah mendengar ceritaku mas Ryan malah meremehkan cerita-ceritaku dan ucapan mas Ryan sesumbar seperti ingin menantang.

“Mana ada makhluk ghaib ngarang saja kamu Nurul huh! Kalau pun ada makhluk gaib disini, akan aku jadikan pacarku, *haha”. Malam itu mas Ryan menempati kamarku, saat tengah malamnya mas Ryan lari-larian seperti orang yang melihat sesuatu dan sampai gak sadar kalau mas Ryan menabrak kaca didepannya. Seisi rumah pun heboh, aku, Pakde, Budhe, bibi Un terbangun semua karena kaget mas Ryan teriak-teriak tengah malam.

loading...

Mas Ryan cerita, kalau dia baru saja melihat hantu perempuan yang berjalan menembus tembok, mukanya rata semua, gak ada mata gak ada hidung, juga gak ada mulutnya, hantu perempuan itu bicara dengan mas Ryan. “Siapa tadi yang bicara mau jadi pacarku”. Setelah kejadian itu mas Ryan sering kerasukan dan bertingkah seperti orang yang kurang waras, Pakde dan Budhe segera memanggil orang pintar dari Kediri untuk menyembuhkan sakitnya mas Ryan. Selanjutnya rumah perum AD (Angkatan Darat) Brawijaya Surabaya bagian 2.

Salim

Salim

Kasih sayang terhadap sesama, walau pun kita berbeda agama dan ras. Kita berbeda-berbeda bahasa namun tetap satu tujuan (Bhineka Tunggal Ika).

All post by:

Salim has write 16 posts

loading...