Rumah Pojokan

Hai teman kenalkan namaku Kris Mahaputra, disini aku ingin berbagi sebuah cerita tentang rumah pojokan yang bisa di bilang sampai saat ini aku pun masih sangat rancu dan merasa tidak percaya pada kejadian aneh ini. Ok teman langsung saja masuk ke ceritanya. Tepatnya pada saat liburan kelulusan 3 SMA, libur yang bisa di katakan sangat menjenuhkan karena kebetulan saat itu aku sudah diterima di salah satu perguruan tinggi negeri dikota ku.

Jadi aku tinggal bersantai diri saja tanpa harus ikut tes lagi. Seraya aku menghabiskan liburan sebelum semester awal perkuliahaan dimulai September nanti, aku pergi traveling ke daerah terpencil tempat ayah bekerja dulu, daerah ini ku katakan daerah terpencil karena rumah disini masih beratap daun, jalannya masih tanah persis desa pedalaman.

Singkat cerita, aku pun langsung menuju rumah tinggal ayah yang berada disana. Rumah yang di jaga oleh Pak Budi seorang warga yang sekaligus adalah rekan kerja ayah, Pak Budi menyapa “Nak tumben singgah kesini?” aku menjawab singkat “Iya Pak” lalu Pak Budi menyiapkan semua perlengkapan selama aku menginap disini. Hari ini aku memang sampai agak sore menjelang magrib sebab itu sampai disana aku belum sempat pergi kemana-mana dan mendatangi tempat menakjubkan yang jarang terjamah oleh para traveller dunia.

Keesokan harinya tepat pukul 06.00 pagi ayam berkokok yang membuat mataku terbuka, aku bergegas menuju kamar mandi dan membersihkan diri, setelah itu ternyata Pak Budi sudah menyiapkan sebungkus nasi yang baunya sangat menggoda, aku santap dengan lahapnya. Jam menunjukan pukul 10.00 aku bergegas untuk menghabiskan waktu traveling ku dengan membawa ransel andalan ku.

Ku jajahin habis tempat wisata luar biasa disana dengan biaya yang sangat murah bahkan tidak membayar sepeser pun layaknya seorang backpacker sejati. Tepat setelah aku pulang di perjalanan menuju ke rumah ayah, aku bertemu seorang anak kecil umurnya kira-kira 7 tahunan dia mengatakan pada ku “Bang, abang salah jalan” aku tertawa mendengar perkataan anak itu karena aku yakin dengan kompas ku ini.

Saat aku ingin bertanya, anak itu hilang sekejap tapi biarlah paling anak iseng pikir ku. Setelah berjalan cukup jauh arah kompas ku semakin tak menentu dan berputar-putar, iya nampak aneh. Mata ku sontak melihat jam tangan dan aku terkejut juga shock, diam tak bisa berucap, aku benar-benar lupa akan nasihat ayah dulu, kata ayah “Kris kalau main nanti pulangnya jangan lewat magrib ya” dalam hati aku berkata “aku telah melanggarnya”.

Pukul 18.30 berapa menit setelah magrib, aku terus berjalan entah kemana suasana desa yang tampak berbeda dari desa tempat ayah itu, suasana ini sungguh membuat bulu kuduk ku merinding dan mata ku tidak berani menoleh kiri-kanan yang ku tau hanya berjalan terus mengikuti jalan setapak ini, tapi langkah ku terhenti di sebuah rumah yang disekitarnya di tumbuhi pohon coklat dan beringin.

Aku beranikan melangkah masuk kedalam rumah itu tapi aku benar-benar heran karena saat kaki ku berpijak di lantai terakhir rumah itu ada yang berbisik melarangku masuk ke dalam, ah tapi peduli apa aku tetap masuk tak menghiraukannya. Jantung berdebar, hawa panas menyelusup keseluruh tubuh, bulu kuduk semakin menjadi-jadi ketika aku masuk semakin dalam rumah tersebut.

loading...

Ketika ku mencari korek api di ransel dan sebuah lilin dan saat aku akan menghidupkan lilin tersebut terdengar suara yang cukup menyeramkan lalu sontak aku melempar lilin itu entah kemana. Aku berdiam di dekat sebuah kursi tua dalam kondisi ketakutan, Bersambung.

Share This: