Saat Aku Hilang Part 3

Baca dulu part sebelumnya “saat aku hilang dan saat aku hilang part 2“. Tubuh mereka ada yang gemuk macam karung dan ada pula yang kurus kering seolah tulang-belulang saja. Yang mengerikan, tubuh mereka tak lagi berbentuk tubuh, maksudku, sudah membusuk, organ dalam mereka menjura-jura keluar dari badan dengan bau yang membuatku muntah-muntah.

Kengerian tidak hanya sampai disitu, sosok tubuh yang kulihat pertama kali tadi, kini berbalik badan dan menatapku, aku tergagap ketakutan, mataku terbeliak, mulutku terbuka, badanku terasa beku, keringat dingin membanjir, dan kakiku kelu bergetar dengan hebatnya. Sosok itu, lebih mengerikan dari pada makhluk-makhluk yang keluar dari sungai tadi. Matanya merah menyala, dan mukanya tak lagi berbentuk muka, robek dan koyak pada bagian pipi.

Taringnya mengingatkanku pada vampire dan kuku tajamnya mengingatkanku pada dracula. Rambutnya panjang bergerai melambai-lambai sebatas lutut. “Tangkap dia!” seru sosok mengerikan itu tiba-tiba, sambil menunjuk kearahku. Dengan segera gerombolan makhluk mengerikan itu menuruti titahnya dan berlarian kearahku. Lalu bagaimana denganku? Demi apapun! Aku ketakutan setengah mati, aku berusaha lari, namun kakiku bagai mati.

Aku berteriak minta tolong entah kepada siapa. Kepada siapa? Astagfirullah! Aku kan punya Tuhan. Untung saja aku teringat pesan ustadzku, “bacalah surat al-Baqarah Ayat 255, saat kamu merasa ketakutan”. Dengan suara bergetar dan kelu, aku mencoba melafalkan ayat Kursi dengan keyakinan bahwa Allah melindungi hambanya dari godaan setan yang terkutuk.

“Bismillah” gumamku dengan suara terputus-putus karena ketakutan, kulihat makhluk-makhluk mengerikan itu semakin dekat denganku, dua langkah lagi mereka akan meringkusku. Aku pasrah, lidahku tak mampu melafalkan ayat Kursi yang padahal sudah luar kepala kuhafal itu. Selangkah lagi mereka akan menyentuhku, aku tidak tahu apa yang terjadi padaku saat makhluk-makhluk itu menerkamku, apakah aku akan menjadi zombie seperti mereka? Aku tak tahu.

Mereka semakin dekat, bahkan kurasakan hawa panas tubuh makhluk-makhluk itu menghembus dengan bau yang sangat menjijikkan. Kupejamkan mataku rapat-rapat, aku tak sanggup menatap rupa mereka, dalam terpejamnya mataku, aku seperti mendapat kekuatan, kalau mulutku tak bisa, hatiku pasti bisa. Ya, kuawali dengan menyebut nama Tuhanku. Pelan-pelan kubaca surah al-Baqarah Ayat 255 dalam hati. Berkali-kali kubaca ayat-ayat itu, masih dalam keadaan mataku terpejam.

Dan manakala kubuka mataku, *plas! Aku berdiri sendiri ditepi sungai! Aku jatuh terduduk setelah terlepas dari kengerian, saat aku hendak bangkit tubuhku lemas dan tak berdaya, hingga akhirnya aku tak sadarkan diri. Esoknya, saat aku tersadar, kudapati tubuhku berbaring disebuah tempat tidur dengan selimut berwarna biru laut. Aku tak lagi berada ditepi sungai, sungai dimana aku diterkam kengerian makhluk-makhluk empat dimensi.

“Aku dimana?” gumamku, kebingungan.
“Kamu sudah sadar rupanya. Kamu di rumah sakit, kamu pingsan lama sekali” kata seseorang yang duduk didekatku. Kulirik orang itu yang ternyata Anna.

“Di rumah sakit? Pingsan?” ulangku. Anna mengangguk.
“Tadi malam kau hilang, kami mencarimu kemana-mana. Acara Jurit Malam digagalkan, tadi malam semua anak dipulangkan, orang tuamu baru saja pulang. Nanti aku akan mengabari mereka” jawab Anna sambil tersenyum.

“Aku ingat” gumamku.
“Ingat apa?” tanya Anna, antusias.

Kemudian kuceritakan semua kejadian yang kualami malam itu, mulai dari suara seseorang yang memanggil sampai aku tak sadarkan diri. “Pantas saja! Kami sempat heran, melihat kau mengambil jaket dan mengatakan panitia sudah memanggil, jujur saja saat itu kami tak mendengar suara panggilan” komentar Anna. Seusai aku bercerita, inilah alasanya mengapa mereka menatapku aneh waktu itu?

loading...

“Kamu percaya, kan?” tanyaku, khawatir Anna menganggapku mulai tak waras.
“Aku percaya, aku suka sekali hal mistis” jawab Anna sambil tersenyum.

“Mungkin, sesosok yang memanggil-manggil itu, penunggu disana, dia memanggil anak buahnya dan tanpa sengaja kamu ikut mendengarnya, terus kamu sangka itu adalah suara kakak panitia” lanjut Anna kemudian.
“Tapi kenapa dia menyerangku?” tanyaku heran, seolah Anna adalah pakar makhluk halus.

“*Mmm, mungkin dia terganggu dengan kehadiranmu”.
“Anna, terima kasih, ya. Kamu mau menungguiku” kataku tulus.

“Sama-sama, Hendrik, aku merasa bersalah sekali ketika kamu hilang, setelah kamu ditemukan, aku berjanji untuk menjadi sahabatmu” jawab Anna, lagi-lagi dia tersenyum.

“Ya, aku mau kita jadi sahabat” sahutku, kusambut genggaman tangannya. Mengenai pendapat Anna? Aku tak tahu, benar tidaknya, bagaimana denganmu?

Adymas Art

Adymas Art

Seorang yg suka ngedit foto ,tapi sering diganggu setan ,,....... suka nonton anime (Naruto,Boruto,Boboiboy Galaxy),suka baca/tulis cerita jangan lupa di add Fb: Adymas Art Instagram:@adymas_art

All post by:

Adymas Art has write 96 posts