Saat Aku Hilang

Hay guys, pagi ini aku akan menulis pengalaman dari teman jauhku Hendrik. Langsung saja kecerita, (cerita dari sudut pandang Hendrik). Dulu aku tak percaya akan adanya makhluk bernama hantu, bagiku makhluk horor itu hanya ada dalam dunia perfilman saja, dan tidak ada dikehidupan nyata. Menurut pendapatku, arwah orang yang sudah meninggal itu bertempat di dunia lain, yaitu alam barzah, jadi sangat mustahil jika ada arwah gentayangan untuk mengganggu manusia.

Tapi itu dulu, sebelum aku mengalami kejadian yang sangat menyeramkan sekali seumur hidupku sekitar setengah tahun yang lalu, memang sudah agak lama, namun ingatan akan kejadian itu masih begitu segar didalan otakku, seolah baru semalam saja aku mengalaminya. Jadi begini kisahnya, sekitar enam bulan yang lalu, sekolah kami mengadakan acara hiking dan perkemahan dipinggir hutan yang masih perawan, alias hutan itu belum tersentuh tangan jahil manusia.

Suasana dipinggir sungai itu sangat nyaman dan menenangkan, begitulah kata guru pembimbing kami, Pak Arif. Sehari sebelum acara hiking itu, kami bergotong-royong menyiapkan segala keperluan, termasuk menyiapkan tenda untuk bermalam dan bahan makanan untuk bertahan hidup. Paginya, setelah semua peserta hiking telah berkumpul dipelataran sekolah, dengan menggunakan jasa transportasi bus, kami berangkat dengan hati gembira.

Perjalanan panjang dan melelahkan tak begitu terasa manakala bus yang kami tumpangi melewati persawahan yang hijau *ruyu-ruyu dan beberapa perkampungan yang hiruk-pikuk akan binatang peliharaan dan ocehan anak-anak. Hingga sampailah kami pada sebuah tempat yang lapang nan hijau oleh rumput. Pukul 14:00, jam tangan digitalku menunjukkan bahwa kami telah sampai dilokasi perkemahan ketika matahari telah bergeser kebarat.

Shalat dzuhur telah kami laksanakan di mushola yang kami temui diperjalanan tadi. Benar kata pak Arifin, lokasi perkemahan ini berada ditepi hutan yang lebat, pohonnya besar-besar dan tinggi pula, tetumbuhan rambat dengan suka-hatinya menjalar dibatang-batang yang meraksasa itu. Sedangkan celah antara pohon-pohon itu nampak gelap, aku sempat merinding menatapnya, sungai yang airnya bening dan bersih mengalir tak jauh dari lokasi, jadi aku rasa kebutuhan air akan terpenuhi, bahkan melimpah ruah disini.

Setelah semua peserta turun dari bus, kami segera bergabung dengan kelompok masing-masing yang telah dibentuk sebelum keberangkatan dari pelataran sekolah tadi. Setiap kelompok terdiri dari sepuluh orang, lima putra dan lima putri, dan setiap kelompok itu harus memiliki nama yang diambil dari nama negara. Aku bergabung dengan kelompok Inggris, bersama keempat anak putri lain dan kelima anak putra.

Sebelum mendirikan tenda, kami dijadwalkan untuk makan siang terlebih dahulu dengan bekal yang telah kami siapkan dari rumah. Seusai kami menikmati makan siang dan istirahat sejenak, barulah kami mendirikan tenda. Setiap kelompok mendirikan dua tenda, satu tenda untuk anak cowok dan satunya lagi untuk anak cewek, tentu saja itu perlu, bahaya sekali kan, kalau anak laki-laki berbaur menjadi satu didalam tenda dengan anak perempuan?

“*Ssttt, tahu tidak? Katanya didalam hutan itu angker” bisik Anna, salah satu anggota kelompokku. Kami bersembilan serentak menoleh kearah Anna.
“*Hust! Jaga mulut, Anna!” bentak Roger, si ketua kelompok.

“Aku hanya memberitahu” kata Anna, membela diri.
“Kau tahu dari mana?” tanyaku, sambil mengikat pancang tenda.
“Dari internet” jawab Anna.

“*Halah kau ini, jadi korban hoax!” ketus Salma, salah satu anggota kelompok kami juga.
“Terserah, tapi aku percaya” kilah Anna.
“Tapi, aku tidak!” sahutku cepat.
“Kau baru akan percaya, setelah mengalaminya sendiri, Mia!” kata Anna, sinis.

“Mengalami apa? Memangnya kau sudah? Kau mendoakan aku mengalami sesuatu yang-yang aneh disini?” tanyaku, tidak senang.
“Sudah-sudah! Kalian ini, sekarang bukan waktunya berdebat! Kita selesaikan dulu membuat tendanya, selepas ini kita mandi dan memasak untuk makan malam, nanti malam jadwalnya Jurit Malam” kata Roger, menengahi.

“Dia yang mulai!” Ketusku, sebal.
“Mia?” Roger menatapku dengan dingin.
“Bilang padanya, meminta maaflah padaku” kataku memandang Roger sebentar, kemudian melirik tajam kearah Anna.
“Kenapa jadi serius, sih?” keluh Anna kemudian.

Aku sadar, tak sepatutnya aku terlalu menanggapi perkataan Anna dengan serius, anak itu kurasa memang suka bergosip.Waktu terus berlalu, kami berenang disungai yang bening itu, *bbrrr! Airnya dingin sekali, aku tidak tahan berlama-lama didalam air, setelah menggosok badan aku segera keluar dari air. Kami dilarang menggunakan sabun atau sampo, karena kata kakak kelas yang menjadi panitia acara, bahan-bahan toiletris itu dapat mencemari air sungai.

loading...

Setelah kami semua selesai bermandi ria, sesuai jadwal, setiap kelompok sudah sibuk dengan kegiatan masak-memasak di alam bebas dengan kompor darurat. Kelompok kami memasak mie rebus dan telur, serta menjerang air untuk menyeduh kopi sachet. Bau mie yang sedap menusuk-nusuk hidung, membuatku lupa akan cerita Anna tadi. Bersambung ke saat aku hilang part 2.

Adymas Art

Adymas Art

Seorang yg suka ngedit foto ,tapi sering diganggu setan ,,....... suka nonton anime (Naruto,Boruto,Boboiboy Galaxy),suka baca/tulis cerita jangan lupa di add Fb: Adymas Art Instagram:@adymas_art

All post by:

Adymas Art has write 95 posts