Saat Bermain Petak Umpet

Cerita ini adalah salah satu cerita yang kami alami sewaktu kecil (SD) saat bermain petak umpet. Permainan ini biasa kami lakukan malam hari kalau cahaya bulan sedang terang setelah shalat isya biasanya sampai sekitar jam 10 malam, bahkan kadang kala hingga menjelang tengah malam sampai orang tua kami akan mencari dan menyuruh segera pulang.

Permainan petak umpet dimulai dengan membentuk dua kelompok. Masing-masing kelompok biasanya terdiri dari 5 sampai 8 orang dan ada ketua kelompoknya. Nantinya si ketua kelompok ini yang melakukan suit, yang menang sembunyi duluan dan yang kalah akan mencari. Kelompok yang bersembunyi diberi waktu 50 hitungan dan sembunyinya harus berkelompok, aturannya satu orang ditemukan artinya kalah dan gantian kelompok selanjutnya yang bersembunyi.

Wilayah permainannya bebas sampai manapun tetapi sekali sembunyi disuatu tempat tidak boleh berpindah-pindah, itulah sebabnya permainannya terkadang menjadi lama. Biasanya kelompok pencari akan bergerombol juga mencari. Tidak jarang kami biasanya bersembunyi ditempat yang menurut cerita orang angker maksudnya biar yang mencari takut mendekatinya.

Malam itu aku bersama kelompokku mendapat giliran untuk sembunyi terlebih dahulu, segera saja kami berlari masih mengenakan peci dan mengikat sarung dipinggang agar mudah bergerak. Saat itu kami memutuskan untuk bersembunyi dipinggir desa disebuah bebalek (tempat petani istirahat) yang ada dipematang sawah. Kebetulan banyak tumpukan jerami dipinggir sawah disekitar bebalek tersebut karena sorenya yang punya sawah baru saja selesai panen.

Di pinggir pematang disebelah jalan kami menjumpai orang-orangan sawah yang ditancapkan dipematang karena sudah selesai digunakan. Sesampainya dibebalek kami segera merebahkan diri disekitar tumpukan jerami agar tidak terlihat oleh kelompok yang mencari, sambil mengobrol dengan suara berbisik kami menghabiskan waktu ditempat tersebut.

Ketika sedang asik ngobrol dan dalam waktu belum berapa lama, kami melihat kelompok pencari berjalan mendekati tempat persembunyian. Kami segera diam berusaha sebisa mungkin untuk tidak bersuara tetapi mereka dengan yakinnya mendekati tempat kami bersembunyi dan segera saja menemukan keberadaan aku dan kelompokku.

Setengah jengkel karena kami ditemukan secepat itu aku protes kalau jangan-jangan kelompoknya mengikuti kelompokku saat bersembunyi. Tapi dia mengelak dan mengatakan tidak mengikuti kami saat sembunyi. Akhirnya kami berjalan beriringan menyusuri pematang sawah menuju pinggir jalan raya untuk memulai permainan kembali dari alun-alun desa.

loading...

Tepat ketika kami melewati orang-orangan sawah tiba-tiba teman-temanku dari kelompok pencari berlari kencang sambil berteriak “hantu, hantu” yang tentunya membuat kami kaget dan ikut segera berlari mengikutinya. Baru setelah sampai di alun-alun desa mereka berhenti berlari, kami yang datang kemudian segera menanyakan kenapa mereka teriak “hantu”.

Dengan nafas masih ngos-ngosan mereka bercerita kalau ternyata mereka menemukan kami setelah diberitahu seseorang yang ada dipinggir pematang sawah. Tetapi saat kami kembali ternyata orang tersebut adalah orang-orangan sawah. Mendengar itu akhirnya kami sepakat menghentikan permainan petak umpet dan segera pulang kerumah.

Di lain waktu dalam kondisi yang sama saat kelompokku yang bersembunyi, kami bersembunyi tidak jauh dari alun-alun desa sebelah timur, tepatnya dibelakang sebuah rumah tua yang sudah berdiri dari zaman belanda. Di belakang rumah itu ditumbuhi banyak pohon pisang kepok yang besar-besar sehingga kelihatan cukup tersembunyi walaupun disudut belakang rumah diterangi oleh lampu 5 watt.

Tetapi kami anggap itu adalah tempat yang sulit dilihat orang. Kami bersembunyi cukup lama ditempat itu. Pada saat kelompok pencari akan melewati tempat persembunyian kami. Segera saja kami menutup badan sampai kepala dengan menggunakan sarung yang kami pakai, maksudnya sebagai kamuflase agar tidak terlihat. Kami bersembunyi sampai akhirnya salah satu orang dari kelompok pencari berteriak menunjuk tempat kami bersembunyi sambil tertawa senang.

Kami pun akhirnya keluar dengan membuka sarung penutup badan menandakan bahwa mereka telah menemukan kami. Saat itu salah satu temanku bertanya sebenarnya tadi yang dilihat itu siapa sehingga menemukan kami. Dia pun tertawa puas dengan mengatakan bahwa salah satu dari kami saat itu menutup badan dengan menggunakan sarung putih sehingga dia bisa melihat kami. Aku dan temanku saling bertatapan dan menyudahi petak umpet, lalu segera berlari meninggalkan mereka menuju alun-alun karena saat itu tidak ada satupun diantara kami menggunakan sarung warna putih. Sekian dan terima kasih sudah membaca cerita dengan judul saat bermain petak umpet.

Yandi Lalu

yandi

Facebook – Yandi Lalu »

Instagram – @yandilalu

All post by:

yandi has write 87 posts

Please vote Saat Bermain Petak Umpet
Saat Bermain Petak Umpet
Rate this post