Saat Mencari Rumah Kost

Aku selalu percaya bahwa roda kehidupan itu pasti berputar, seperti yang sekarang aku alami, bagi yang sudah membaca ceritaku yang sebelumnya pasti sudah tahu siapa itu Edoner? Iya, dia adalah temanku yang sudah aku anggap sebagai abangku sendiri, rumahnya di “kampung air” dan Berto pacarku tinggal bersamanya, disitu juga tempat aku dan teman-temanku ngumpul bersama.

Tapi semuanya tidak bertahan lama, semua kenangan hancur bersamaan dengan di hancurkannya rumah itu. “Kampung Air” sudah di gusur dan sekarang rata dengan tanah, Edoner menjauh dari aku, berto, dan teman-temanku yang lain bahkan sekarang kami dan dia bermusuhan hingga saling menyakiti satu sama lain. Edoner sekarang lebih memilih teman-temannya yang baru, yang memberikannya kehidupan mewah, mobil, makan, uang, bahkan barang haram “sabu”.

Kami tidak menyukainya, itu salah satu alasan kami tidak bersamanya lagi, bagi kami “sabu” itu singkatan dari (Sahabat Bubar), ya memang benar semua itu. Tapi bukan itu inti dari ceritaku. Akibat dari semua itu Berto pacarku tidak tahu mau tinggal di mana, aku dan teman-temanku yang lain masih tinggal bersama orang tua kami masing-masing, sedangkan berto orang tuanya berada di tanjung uban dan dia di Batam.

loading...

Kami bingung mencari tempat tinggal Berto, banyak teman berto yang lain yang menawarkan berto tinggal bersamanya, namun jaraknya jauh denganku, Berto tidak bisa jauh denganku. Akhirnya kami sepakat mengumpulkan uang untuk mencari rumah kost, hitung-hitung rumah kost itu bisa jadi tempat ngumpul kami juga. Saat itu pun tiba, kami mencari rumah kost yang bebas.

Bebas maksudnya bisa untuk tempat ngumpul dan tidak banyak peraturannya, apalagi ada aku yang satu-satunya teman mereka yang perempuan, pastinya itu banyak sekali pertimbangan. Kostan bebas? Ya pastinya ruli (rumah liar) ruli yang dekat dengan rumahku? Ya pastinya ruli modena. Oke malam ini kita langsung ke sana, kebanyakan rundingan akhirnya sekitar jam 9-an kami berangkat mencari rumah kost di ruli modena, yang pergi Aku, Berto, Fahmi, Bang Topik dan pacarnya Kak Anggi.

Kak anggi ini bisa melihat makhluk tak kasat mata, namun dia agak penakut maklum kan perempuan, Bang topik dan Berto pun bisa melihat namun mereka sudah biasa, aku dan fahmi tidak bisa melihat apa-apa *hehe. Langsung saja, kami sudah sampai di ruli modena, namanya juga ruli jalanan masih tanah gelap seperti kampung, ada dua ini ruli atas atau bawah? Kami menanyakan rumah kost di ruli modena bawah, namun sudah tidak ada yang kosong.

Sekarang di ruli modena atas, tapi kata fahmi kalau di atas susah air, “ah sudahlah kalau soal air kita bisa pandai-pandai” kata Berto. Sampailah kami di ruli atas, kami parkir motor, kiri dan kanan pohon pisang di tambah lagi suasananya yang gelap, kami langsung menanyakan ke salah satu rumah yang memiliki rumah kost, “kek, rumah kostnya masih ada tidak?” tanya fahmi. “Sudah tidak ada lagi nak, sudah penuh semua. Tapi yang di sebelah rumah kakek ini ada, dia rumah ada 2 kamar tapi airnya susah, punya orang Flores yang di bawah” jelas kakek itu.

Jadi kami langsung melihat ke rumah yang di tunjuk kakek itu, keadaan rumahnya memang lumayan seram, samping kanan kiri belakang pohon pisang semua, gelap lagi. Aku lihat kak anggi gak lepas dari pelukan bang topik, entah kenapa aku pun tidak tahu. Aku, berto, dan fahmi sudah yakin dengan rumah kost yang di tunjuk kakek itu, saat kami ingin ke bawah ke tempat yang punya kost, kak anggi menolak, katanya dia tidak setuju dengan rumah kost itu, dia selalu membelakangi pohon pisang yang ada di pinggir jalan masuk, mukanya pucat.

Aku tanya kak anggi dia “kenapa?” dia cuma geleng-geleng saja. Ya sudah kami pulang, kami berunding lagi di warnet, kak anggi masih memeluk bang topik, dia selalu menyuruh kami mengisi bangku yang kosong, mukanya masih pucat. Aku penasaran lalu aku tanyakan kepada berto “kak anggi kenapa?”, kata berto “nanti saja aku ceritakan”. Setelah lama berunding dan membujuk kak anggi, akhirnya kami sepakat dengan rumah kost yang tadi, kami balik lagi ke ruli modena, namun agak ramai.

Rafi, andre, dan faisal ingin ikut. Sampailah kami di ruli modena, karena ramai, yang turun untuk menanyakan harga rumah kost itu cuma fahmi dan berto, selebihnya di motor nungguin. Bang topik mau ikut berto namun di larang kak anggi, kanan kiri kami pohon pisang. Temanku rafi iseng memfoto pohon pisang *cekrek. Alangkah terkejutnya rafi, dia orang pertama yang melihat layar handphonenya, di balik pohon pisang ada pocong yang sedang mengintip kami, hanya kelihatan kepalanya saja yang sedang di miringkan di balik pohon pisang.

Di perbesar fotonya, aku pun melihat jelas pocong itu, mukanya hitam hancur seperti terbakar, selebihnya tidak jelas karena gelap. Pohon pisangnya berada di sampingku, aku langsung lari dan merapat ke yang lain. Lalu kak anggi cerita, “lihat tidak perempuan yang ada di depan pintu rumah itu?” kak anggi menunjuk rumah kost yang mau kami pilih, yang lain menjawab “tidak”, tapi rafi menjawab “lihat”.

Lanjut cerita kak anggi, “perempuan itu mati di bunuh pacarnya, setelah di perk*sa lalu dia di bunuh dengan di bacok-bacok badannya, dia bilang jasadnya ada tepat di tanah yang di bangun rumah kost itu, dia minta jasadnya di pindahkan, namun kak anggi bilang tidak bisa, soalnya rumah itu bukan rumah kami jadi tidak mungkin kami bongkar, perempuan itu pun minta untuk di doakan, dan dibacakan yasin” kak anggi pun mengiyakan permintaan perempuan itu.

Rencananya kalau kami jadi ngekost di rumah itu kami langsung mengadakan yasinan. Berto dan fahmi pun datang, mereka bilang tidak jadi ngekost di rumah itu karena harganya tidak sesuai. Gak jadi deh yasinan *hehe. Kami turun ke bawah mencari kostan lain, kami pun mendapatkannya, satu rumah satu kamar ada dapur sama ruang tamunya, 450ribu sudah termasuk listrik air. Oke Deal! Kami pun kembali ke warnet, foto pocong tadi rafi tunjukan kepada orang di warnet, semuanya pada heboh.

Kak anggi sudah mulai tenang. Lalu aku meminta berto bercerita, “ayo ceritakan, tadi kak anggi kenapa?” berto pun bercerita, pacarnya bang topik itu bisa “melihat” dia tadi lihat kuntilanak di pohon pisang, kuntilanaknya ngikutin kak anggi sampai ke warnet, makanya kak anggi suruh kita buat tempatin kursi yang kosong, tadi kuntilanaknya ada di belakang, makanya kak anggi ketakutan dari tadi.

“Oh begitu”, gara-gara kejadian itu kami jadi lanjut cerita horor sampai tengah malam jam 12, aku yang penakut pasti pulang minta antarin sampai depan rumah *hehe. Sekian ceritaku, jika ada kesalahan mohon maaf. Terima kasih.
Fb : EbtaWessley

KCH

Ebta Meliumi Wesleey

Sekedar kembali mengingatkan. “Jangan pernah baca ini sendirian” :)

All post by:

Ebta Meliumi Wesleey has write 2,704 posts

Please vote Saat Mencari Rumah Kost
Saat Mencari Rumah Kost
Rate this post