Sahabat Sejati Bagian 2

Sebelumnya sahabat sejati. Arman bahagia ternyata sahabatnya ngasih kabar, itu berarti dia selamat, kemudian dia telepon nomor yang barusan SMS dia, tapi gak aktif, kemudian dia coba untuk SMS kembali, sama gak terkirim, dalam pikirnya kenapa ya? Arman masih bingung, tapi gak apalah, itu pikirnya yang penting aku sudah dapat alamatnya, rasanya dia gak sabar untuk memberitahu pada ibunya Deri. Akhirnya besok pagi-pagi sekali dia berangkat menemui ibunya Deri. Tak lama kemudian sampai ke rumah ibunya Deri, saking bahagianya, Arman lupa mengetuk pintu.

“Bu, bu, bu” gak ada jawaban didalam rumah. Arman mencari ke dalam, ternyata ibunya dikamar. “Bu, ibu kenapa bu?” Arman menggoyang goyang tubuh ibunya Deri, sama sekali gak ada jawaban, Astagfirullohaladzim ibu pingsan. Tanpa pikir panjang, Arman langsung menggendongnya, lalu mencari mobil umum dan diantarnya ke rumah sakit.

“Dok tolong ibu saya dok. Saya mohon” dengan panik Arman meminta dokter segera memeriksa ibunya Deri.
“Oke, kamu tunggu saja diluar”.

Ya Allah kasi kesembuhan buat ibunya Deri, dia harus tahu kalau deri masih hidup, hamba sangat sayang dia ya Allah seperti hamba menyayangi ibuku. Setengah jam kemudian, dokter keluar dari ruang UGD.

“Gimana dok ibu saya, gak apa-apa kan dok” Arman masih panik.
“Iya pa, tenang saja, ibu anda hanya tekanan darah tinggi, mungkin dia kebanyakan pikiran, kalau dibiarkan bisa stroke pa, makanya tenangkan dia supaya lebih rileks, untuk sementara ibu anda rawat inap dulu, bentar lagi sadar kok”.
“Iya pa makasih”.

Duh pikiranku jadi bingung kayak gini ya, mungkin terlebih dulu aku harus menemui Deri di Jakarta, aku gak bisa diam kayak gini, siapa tahu dengan membawa Deri, ibunya lebih tenang. Tanpa basa-basi Arman bersiap, beres-beres pulang dulu ke rumahnya lalu pergi ke Jakarta menuju alamat yang ada di SMS itu. Kemudian dia coba hubungi nomornya lagi, tapi masih sama seperti semalam gak aktif. Lumayan lama diperjalanan akhirnya Arman sampai ketempat yang ada di alamat itu.

loading...

Dia lihat alamat di SMS kemudian dia lihat rumahnya, dia lihat kembali SMS-nya dan dia lihat rumahnya, berkali- kali Arman lakukan, karena dalam pikirnya masih gak percaya nih rumah segede ini, apa benar Deri tinggal disini, tapi memang yakin ini adalah rumah yang ada di alamat ini, serasa yakin, akhirnya Arman mencoba memencet bel tembok pagar yang agak tinggi. Berkali-kali memencet bel, akhirnya datanglah seorang wanita setengah baya, pikir arman mungkin itu pembantunya.

Anehnya wanita itu gak ngomong apa-apa, setelah membukakan pintu pagar lalu dia kembali masuk rumah tanpa mempersilakan Arman masuk. Sejenak Arman bingung, antara masuk atau gak. Dia hanya berdiri depan pintu pagar.

“Bismillah”, katanya ini demi Deri, aku harus masuk. Akhirnya Arman masuk, dengan langkah yang hati-hati, sambil lihat kanan kiri, wah ini rumah atau istana ya, Arman bergumam. Setelah sampai di depan pintu, belum juga mengetuk pintu, malahan pintu perlahan terbuka dengan sendirinya, *kret. Arman kaget, astagfirullohaladzim.

“Halo, permisi” Arman teriak berkali-kali.
“Iya Arman aku di dalam, masuklah”.

Arman sangat mengenali suara itu. Arman langsung masuk sambil memanggil, Deri. Terlihatlah Deri yang sedang duduk dikursi sudut rumah.

“Deri! Kamu apa kabar Ri” Arman merangkul sahabatnya.
“Kenapa lu gak ngabarin aku atau ibumu Ri, alhamdulillah kamu selamat Ri, ibumu sempat mikir yang enggak-enggak tentangmu Ri. Kenapa wajahmu pucat, kamu sakit Ri? Jawab Ri kamu kenapa? Deri lu jangan diam Ri” Arman ngoceh sendiri seakan tak Deri hiraukan, Deri hanya berderai air mata. Dia hanya diam, tatapan kosong hampa tiada arti.

“Ri ibumu sakit Ri sekarang dia di rumah sakit. Dia butuh kamu, sekarang juga kamu harus ikut aku pulang Ri”.
“Gak Man, sekarang aku bukan bagian dari kamu ataupun ibuku. Sekarang kita berbeda”.
“Maksud kamu apa Ri? Aku gak ngerti sama sekali”.
“Man, tolong jagain ibuku ya, hanya kamu yang aku percaya, kamu sahabat sejatiku, bilangin maaf dariku” sambil menangis Deri terus memohon sama Arman.
“Maaf aku telah meninggalkan ibu selama ini, sekarang ibuku lagi sakit. Aku mohon sama kamu rawatlah dia, dia gak punya siapa-siapa selain aku, Man. Anggaplah dia sebagai ibumu juga”.

Dengan wajah bingung penuh tangisan, Arman masih tertegun. “Maksudmu apa Ri? Tolong beri penjelasan, aku semakin gak ngerti. Kamu seakan akan pergi jauh dan tak akan pernah” belum juga Arman selesai bicara, tiba-tiba datang ambulans memasuki halaman rumah. Serentak Arman melihat keluar rumah. Di lihatnya 2 mobil ambulans terparkir di halaman rumah.

“Ri siapa yang?” belum juga selesai ngomong, Deri sudah gak ada di kursi pojok. Deri, Der, Deri. Arman teriak-teriak.
Tiba-tiba datang seorang bapak-bapak, menghampiri.

“Mas, mas. Maaf mas jangan teriak-teriak. Di sini lagi ada musibah, mas. Memang mas siapa dan mau ke siapa?”.
“Saya teman Deri Pa”.
“Oh gitu, itu jasad Deri baru datang mas”.
“Apa? Jasad. Maksudnya pa?”

“Iya jasad kan, Deri sudah meninggal”.
“Apa pa?”
“Gak mungkin pa, barusan dia ada disini dan ngobrol sama saya, Arman membalikan badan menuju ke dalam rumah dicarinya Deri di setiap penjuru rumah sambil teriak-teriak, Deri, Deri, Deri lu dimana Ri?” karena Deri gak ada, akhirnya Arman keluar rumah dan dilihatnya jasad Deri keluar dari ambulans.

Astagfirullohaladzim, innalilahiwainailaihirojiun. Deri, tubuh Arman lemas tak berdaya ketika melihat kenyataan itu. Kedua tangannya menutup wajah tak kuasa dengan apa yang dia lihat.

“Sudahlah mas, relakanlah, mungkin ini memang sudah takdirnya”.
“Kenapa harus seperti ini pa, dia sahabat saya pa, saya gak tahu harus bilang apa sama ibunya, berat sekali rasanya memberi tahu ibunya”.
“Iya mas, terus mau gimana lagi, ini sudah takdirnya seperti ini”.
“Iya pa, kalau boleh tahu bapa siapa ya?” Arman tanya ke si bapak yang dari tadi didekatnya.

“Saya tukang kebun disini. Kemarin malam Deri bersama majikan saya berikut pembantunya tabrakan dan meninggal dunia”.
“Deri bekerja disini, majikan saya sangat menyayanginya, awalnya tukang cuci mobil, lama kelamaan sebagai supir, dia dikontrak selama 3 tahun, dan katanya bulan depan habis kontraknya dan dia mau pulang kampung, dia sering cerita ibunya bahkan dia juga sering cerita sahabatnya yang baik. Kalau gak salah namanya Arman”.

“Iya pa, Arman itu saya pa, makanya saya merasa terpukul banget pa melihat seperti ini”.
“Oh iya mas, Deri saat ke Jakarta kehilangan ponselnya, jadi katanya selama ini dia gak bisa menghubungi keluarganya, Deri juga sudah di kasih fasilitas rumah sama majikan saya, gak tahu kenapa majikan saya sangat menyayanginya, oh iya ini ada surat kemarin malam sebelum Deri meninggal dia menulis. Gak tahu tolong kasihkan kepada ibunya”.
“Iya pa, makasih. Oh iya pa, mau gimanapun Deri masih punya keluarga, sekarang jasad Deri mau saya bawa, ke kampung menemui ibunya”.

“Ya mas, gak apa-apa. Bawa saja, masalah ambulans tenang saja sudah saya boking”.
Ya sudah pa makasih. Saya harus segera berangkat, ibunya harus segera tahu”.
“Iya silakan hati-hati di jalan ya”.
“Iya, makasi. Saya pamit pa”.

Akhirnya mobil ambulans pun melaju kencang membawa jasad Deri, meninggalkan kota Jakarta, menuju kampung halamannya. Setibanya di rumah, wargapun berduka cita datang bergantian melihat ke rumah Deri. Walaupun berat rasanya untuk menceritakan meninggalnya Deri pada ibunya, tapi mau gimana lagi. Mau gak mau Arman harus cerita, Arman pun melangkahkan kaki pergi, menjemput ibunya Deri di rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, terlihat ibunya Deri, sudah sehat, dia lagi duduk, menunggu di jemput Arman.

“Bu, syukurlah ibu sudah sehat” Arman yang baru datang langsung menghampiri ibunya Deri.
“Eh, Arman! Iya Man alhamdulillah agak baikan, kamu dari mana saja, maaf ya ibu jadi ngerepotin kamu, dan makasih juga kalau gak ada kamu mungkin ibu masih terkapar di rumah”.

Arman ga menjawab, dia malah nangis.

“Kok kamu malah nangis, Man? Ada apa?”
“Ini bu ada surat dari Deri” Arman mengeluarkan surat dari sakunya.
“Apa Man? Kamu ketemu Deri, apa kabar anakku Man, apakah dia sehat, dia kerja dimana? Sekarang dia dimana, ikut kesini gak Man?”.
“Iya bu dia ikut, sekarang dia ada di rumah” sambil menangis Arman menjawab pelan.
“Kamu kenapa Arman? Gak biasa kamu kayak gini, biasanya kamu yang menegarkan ibu, kamu gak pernah nangis depan ibu”.
“Apa yg terjadi dengan Deri Man?”

Arman diam aja ga menjawab. Ibunya Deri jadi bingung. Kemudian dibukalah surat yang barusan dia terima, terlihat tulisan Deri agak kurang rapi.

“Assalamualaikum. Bu, apa kabar? Maafkan Deri, selama ini Deri meninggalkan ibu, alhamdulillah bu Deri sudah dapat kerja, tapi deri kerja di kontrak selama 3 tahun, jadi Deri gak bisa pulang selama masa kontrak, Deri juga kehilangan ponsel bu, selagi ke Jakarta, hingga akhirnya Deri gak bisa ngabarin ibu, tapi Deri beruntung, majikan Deri baik banget bu, Deri di kasih rumah bu, uang harian dan uang hasil kontrak kerja Deri, Deri ditabung di bank, itu semua buat ibu. Maaf bu, Deri gaK bisa nulis panjang, sekarang deri di rumah sakit, Deri kecelakaan bu. Kalaupun Deri harus meninggal, tolong maafin Deri bu”.

Serentak ibunya deri menangis dan menutupkan kedua telapak tangan pada wajahnya. Deri maafin ibu, berpikir jelek tentangmu.

“Arman, antar ibu menemui Deri Man?” ibunya deri mengajak Arman. Sambil nangis Arman menjelaskan.
“Bu sebenarnya Deri sudah meninggal”.
“Apa Arman? Kamu gak bohong kan Man?”.
“Gak bu jasad dia ada di rumah bu”.
“Gak, ibu ga percaya. Antar ibu ke rumah Man”.

Setelah mengurus administrasi pembayaran, merekapun pulang menuju rumah. Sesampainya di pekarangan rumah, ibu Deri melihat banyak orang yang mengerumuni jasad anaknya. Ternyata memang benar anaknya telah tiada, meninggalkan dia untuk selamanya, tangisnya pun tak tertahan lagi, dia nangis tersedu-sedu. Arman pun memeluk ibunya Deri.

“Sabar bu banyak istighfar, ini guratan takdir ibu harus merelakannya. Arman janji, Arman akan jadi pengganti Deri sebagai anak ibu, Arman gak akan membiarkan ibu sendirian. Suatu saat arman pergi pun Arman akan bawa ibu walaupun Arman sudah menikah, Arman akan mencari istri yang sayang sama ibu juga”.

Ibu Deri menangis dan memeluk erat Arman.

“Makasi ya Man, kamu memang anak ibu, kamu memang penggantinya Deri, jangan tinggalkan ibu, ibu mohon”.
“Iya bu tenang saja, aku akan pegang janjiku didepan jasad Deri”.

Beberapa tahun kemudian setelah meninggalnya Deri, Arman pun menikah dan dia membawa ibunya Deri bersamanya, mereka saling manyayangi saling mengasihi. Arman benar-benar menepati janjinya sebagai sahabat sejati.

Friska Vhe

Friska Vhe

All post by:

Friska Vhe has write 9 posts

Please vote Sahabat Sejati Bagian 2
Sahabat Sejati Bagian 2
Rate this post