Sahabat Sejati

Dari sekian banyak cerita hantu yang saya tahu, hanya inilah yang membuatku terharu, sekaligus sedih jika diingat kembali. Kisah ini merupakan gambaran betapa berartinya seorang sahabat sejati. Sahabat adalah seseorang yang mampu mengerti kita, yang siap mendengarkan curhatan kita, yang selalu memotifasi apa tujuan kita. Tempat kita menyimpan sebuah kata-kata yang akan menjadi rangkaian cerita, tempat kita berbagi asa, bahkan suka duka dilalui bersama.

Hari-hari rasanya tak lengkap bila tak melihat canda tawanya, tak pernah tersirat dalam pikiran mereka bahwa suatu saat, waktulah yang akan memisahkan mereka. Mungkin karena kerjaan atau keadaan lain yang harus meninggalkan segalanya. Seperti yang terjadi di kisah ini. Arman adalah sahabatnya Deri, mereka sahabatan dari kecil, walaupun mereka berdua anak seorang petani, tapi cita-cita mereka benar-benar diujung monas. Siang itu mereka baru pulang sekolah.

“Ke warung dulu yuk Ri, kita istirahat dulu, panas nih haus” Arman mengajak Deri.
“Ah lo, kayak ibu-ibu kebanyakan haus. *Hehe” Deri jawab dengan candaan.
“Ah lo, ngomong saja kalau gak punya duit” sambil ketawa Arman meledek.
“Tahu saja lo?” Deri senyum kecil.
“Ya sudah aku yang bayarin” Arman ngajak tegas.
“Iya makasih” Deri akhirnya mau.

Selagi duduk didepan warung kedua sahabat ini ngobrol.

“Ri kalau sudah keluar sekolah rencana kamu mau kuliah kemana?”.
“Gak tahu Man, tamat SMU saja aku sudah untung, aku gak tega lihat ibuku yang tiap hari kerja serabutan disawah orang, rasanya aku ingin segera membantu ibu nyari duit”.
“Makanya rencanaku setelah selesai sekolah, dan aku dapat ijazah, aku akan coba nyari kerja di Jakarta, walaupun hanya mengandalkan ijazah SMU, tapi gak apa-apa yang penting dapat kerja”.
“*Emh, gitu ya Ri, andai saja Ayahmu masih ada” Arman tertunduk seakan turut merasakan kesedihan Deri.
“Sudahlah Man, memang kamu mau kuliah kemana Man?” Deri malah balik tanya seakan gak mau membahas ayahnya yang telah meninggal.

“Maaf ya Ri, bukan maksudku untuk mengingatkan kesedihanmu” Arman gak menjawab malah dia minta maaf.
“Gak apa-apa” Deri menjawab singkat.
“Oh iya pertanyaanku. Belum lu jawab?” Deri mengulang pertanyaannya.
“Kalau ada rezeki aku mau kuliah di ITB” Arman menjawab agak berat takut Deri kesinggung.
“Lu hebat ya Man?”.

“Bukan aku yang hebat, tapi ayahku, aku gak jauh beda sama kamu” Arman mencoba untuk merendah.
“Jelas beda lah Man, lu punya segalanya, tapi aku heran lu masih saja sederhana, bahkan lu mau berteman denganku anak janda tua yang gak punya apa-apa”.
“Kok kamu ngomong kayak gitu, lu sudah kayak saudaraku, lu sahabat aku, lagian Allah gak akan sulit merubah nasib seseorang, siapa tahu lu yang akan sukses ketimbang aku”.
“Makasi ya Man, kamu memang sahabat aku yang tiada duanya, *hehe” Deri mencoba senyum seakan tak perduli dengan matanya yang berkaca menahan kesedihan.

Setelah saatnya tiba akhirnya merekapun lulus sekolah, canda ria saling coret-coret baju menjadi kebiasaan yang susah dihilangkan. Seminggu setelah kelulusan Deri sengaja menemui Arman.

“Permisi, maaf bu apa Armannya ada?” dengan nada sopan bertanya, kebetulan ibu Arman lagi duduk di halaman rumah.
“Oh, iya ada, masuk dulu nak Deri, Armannya lagi mandi” ibu Arman menjawab lembut.
“Iya bu makasih, tunggu disini saja”.

Gak lama menunggu Armanpun keluar.

“Eh Deri, sudah lama?” tanya Arman.
“Gak, baru saja, belum lima menit. *Hehe”.
“Ada apa Ri? Kayaknya penting banget?” Arman tanya sambil duduk.
“Gini Man, rencananya besok pagi aku mau pergi ke Jakarta. Aku cuman mau nitip ibu, tolong jagain dia, kalau-kalau dia sakit, atau ada apa-apa, tolong bantu”.
“Apa Ri kamu mau ke Jakarta. Kamu benar-benar nekat, memang kamu mau kerja apaan?”.
“Gak tau Man, belum pasti, bermodal nekat saja dulu siapa tahu nasib baik ada disana” seraya tertunduk Deri menjawab.

“Kamu benar-benar orang yang teguh pendirian Ri. Ya sudah gak apa-apa, jangan khawatir dengan ibumu, aku menyayangi ibumu sama seperti aku menyayangi ibuku, awas jangan lupa pamitan pada ibumu. Oh iya setelah sampai di Jakarta kabarin aku ya, hati-hati di jalan, semoga berhasil”.
“Makasi ya Man, aku gak akan pernah melupakan sahabat sebaik kamu”.

Merekapun berdiri dan berangkulan, Arman pun menepuk-nepuk punggung sahabatnya seraya berkata.

loading...

“Hati-hati ya disana, selalu kasih kabar kesini”.

Merekapun berjabat tangan.

“Ya sudah aku pergi dulu ya, Man”.
“Iya Ri” Arman masih berdiri melihat sahabatnya pergi, dalam hatinya Arman sedih banget kehilangan sahabat sebaik Deri.

Keesokan harinya, memang benar, pagi-pagi sekali Deri sudah mengemas baju bawaannya ke dalam tas, selagi membereskan bawaannya ibunya Deri menghampiri

“Jadi kamu berangkat nak?” ibunya deri bertanya, yang memang sudah jauh hari dia tahu bahwa anaknya akan ke Jakarta.
“Iya bu” Deri menjawab singkat.
“Hati-hati disana ya nak, jangan lupa shalat, dan jangan lupa kabarin ibu, agar ibu disini tenang, kamu kan anak ibu satu-satunya, ibu gak punya apa-apa lagi selain kamu, ibu mohon kamu kembali untuk ibu, dalam keadaan selamat” ibunya Deri terus menasehati anaknya seakan tak memberi celah untuk deri menjawab.

“Iya bu, Deri tahu, kalaupun disini ada kerjaan Deri juga gak akan pergi bu, Deri hanya ingin agar ibu tak lagi bekerja untuk Deri, sekarang giliran Deri yang berjuang untuk ibu. Deri sayang sama ibu, gak ada lagi yang deri sayang selain ibu, Deri rela kalaupun harus ditukar maut demi kebahagiaan ibu” Deri menjelaskan.

“*Syut kamu jangan ngomong maut, gak baik, apalagi kamu mau pergi jauh”.
“Oh iya bu, kalau ada apa-apa minta tolong Arman saja, kemarin aku sudah nitipin ibu”.
“Nitip? Memang kamu kira ibu barang, *hehe” ibunya Deri senyum.
“Ya sudah bu, Deri berangkat dulu ya”.
“Iya, hati-hati ya nak, kabarin ibu kalau sudah sampai Jakarta”.
“Iya bu, assalamualaikum”.
“Waalaikumsalam” ibunya Deri menatap anaknya hingga lenyap dipersimpangan.

Seminggu pun berlalu, Deri tak kunjung juga ngasih kabar, sama ibunya ataupun sama Arman. Berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun hingga tiga tahun, Deri masih saja gak ada kabar. Tapi walau sahabatnya begitu, Arman selalu menepati janjinya, dia selalu merawat dan memperhatikan ibunya Deri, hampir, dua hari sekali Arman datang, menjenguk ibunya Deri. Seperti pada sore itu, mereka lagi pada ngobrol.

“Gimana bu, sudah ada kabar dari Deri?” Arman bertanya.
“Belum Man, gak tahu ibu harus gimana lagi, ibu gak habis pikir kenapa Deri setega itu”.
“Iya ya bu, kenapa Deri masih gak ngasih kabar, sabar saja ya bu” Arman menenangkan ibunya Deri.

“Oh iya maaf ya bu Arman gak bisa lama-lama disini, ada tugas kuliah yang belum Arman kerjakan, ibu sabar saja, nanti kalau saya ada kabar tentang Deri, saya pasti langsung kabarin ibu”.
“Iya, makasi, Man” ibunya Deri tertunduk lemah.

Seperti biasa sebelum pulang Arman pasti kasih uang buat keperluan ibunya Deri.
“Makasi ya Man, ibu bersyukur Deri punya sahabat sebaik kamu”.
“Iya bu sama-sama. Saya pamit pulang dulu ya bu, assalamualaikum”.
“Waalaikumsalam”.

Arman pun berlalu pergi. Dalam hati Arman masih terus bertanya ada apa sebenarnya yang terjadi dengan sahabatnya itu. Sore pun berlalu dunia redup ditelan malam, gak tahu kenapa pikiran Arman masih selalu teringat Deri. *Kring, tiba-tiba Arman dikagetkan, dengan suara pesan masuk di ponselnya, terperanjat ketika Arman membaca SMS masuk. Jelas kaget karena isi pesan itu. “Man, ini aku Deri. Tolong Man besok ke Jakarta, kalau bisa bawa ibu, aku ingin ketemu. Alamatku, di jalan ***** Jakarta Selatan”. Selanjutnya di sahabat sejati bagian 2.

Friska Vhe

Friska Vhe

All post by:

Friska Vhe has write 9 posts

Please vote Sahabat Sejati
Sahabat Sejati
Rate this post