Saksi Tumbal Pesugihan Saat KKN di Cianjur Part 2

Cerita sebelumnya saksi tumbal pesugihan saat KKN di Cianjur. Miftah menggamit saya, mengajak untuk memeriksa kondisi sekeliling rumah. Saya langsung menyetujui. Kami beranjak dari teras menuju ke samping rumah. Kami menyorotkan senter ke sekeliling untuk memastikan kondisi aman. Di samping rumah, kami melihat satu jendela yang daunnya sedikit terbuka. Seberkas cahaya redup kekuningan berpendar dari celah-celah kayu daun jendela.

Miftah mengetuk daun jendela seraya memanggil Teh Siti dan Mak Unyeh. “Mak Unyeh. Teh Siti. Ieu Miftah, jeung Reza. Teteh teu naon-naon?” senyap. Sunyi. Terlalu sunyi malah. Bahkan suara dengkuran halus khas orang tidur pun tidak terdengar. “Mak Unyeh. Teh Siti. Ieu abdi, Reza. Abdi jeung Miftah. Teteh teu naon-naon?” gantian saya yang memanggil. Masih tidak ada jawaban apa-apa.

Ratusan perasaan menyelinap masuk ke hati saya dan Miftah. Berbagai skenario terburuk hinggap di otak kami. Sesudah mengumpulkan keberanian, kami membuka jendela lebih lebar dan melihat ke dalam kamar. Ruangan yang hanya di terangi lampu minyak tempel menyulitkan kami melihat dengan jelas. Terpaksa kami menggunakan senter yang di bawa. Firasat terburuk kami menjadi kenyataan tapi tetap saja kami tidak siap dengan apa yang kami lihat.

Mak Unyeh berbaring dengan mata terbelalak dan mulut terbuka lebar. Di samping kirinya, si bayi mungil juga berbaring tidak bergerak. Di sebelah bayi, terbujur ibunya, Teh Siti. Kondisi Teh Siti sama persis dengan Mak Unyeh. Saking kagetnya, hampir saja senter yang saya pegang terlepas. Belum hilang kaget melihat kondisi Mak Unyeh sekeluarga, radio di tangan kiri berbunyi. Terdengar suara Indra memanggil. “Za. Miftah”.

Selama Reza bercerita Miftah hanya diam. Wajahnya masih sedikit terlihat pucat akibat shock. Kami juga terdiam. Sulit bagi kami membayangkan apa yang sudah terjadi pada keluarga Mak Unyeh. Kami juga tidak bisa membayangkan perasaan Reza dan Miftah yang pertama kali melihat kondisi mereka. Sekitar pukul setengah tiga subuh, terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Dari ruang tengah, kami melihat Pak Kades turun dari mobil di ikuti oleh 4 orang lainnya.

Rupanya Pak Kades mengajak Mantri Puskesmas, Pak Kyai dan 2 orang hansip. “Assalamualaikum,” salam Pak Kades. “Wa alaikum salam.” Kami menjawab nyaris serempak. Pak Kades, Pak Mantri dan Pak Kyai bergabung dengan kami di ruang tengah, sementara 2 orang hansip memilih duduk di teras. Reza mengulangi lagi ceritanya. Kali ini, Miftah ikut bicara, melengkapi bagian-bagian yang terlewatkan. Rupanya dia sudah lebih tenang.

Sementara itu, Pak Kades dengan saksama menyimak cerita Reza dan Miftah sambil sesekali mencatat. Pak Kyai dan Pak Mantri pun demikian. Mereka sama sekali tidak menyela pembicaraan. Selesai Reza dan Miftah bercerita, Pak Kades mengajak untuk memeriksa kondisi Mak Unyeh sekeluarga. Hanya 7 orang yang berangkat ke rumah Mak Unyeh, termasuk 2 orang hansip.

Kami yang tidak ikut ke rumah Mak Unyeh tidak bisa lagi melanjutkan tidur. Rasa penasaran sekaligus takut sudah menggantikan rasa kantuk. Kami semua berkumpul di ruang tengah, termasuk dua teman yang tadi tidur di kamar bersama saya dan Fitri. Tidak ada satu pun yang mau melewatkan kejadian penting dini hari ini. Namun tidak ada yang sanggup membicarakannya. Kami cuma diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.

Tiga puluh menit berlalu, rasanya seperti sudah ribuan jam kami menunggu. Lama-lama kami mendengar bunyi langkah kaki dan suara orang bicara. Suara semakin jelas dan pintu depan terbuka. Reza yang pertama masuk di ikuti Pak Kades, Pak Kyai, dan Miftah. Tidak lama, terdengar suara mobil di nyalakan dan pergi meninggalkan halaman base camp. Dari wajah-wajah mereka semakin jelas bahwa sesuatu yang sangat luar biasa sudah terjadi.

Melalui radio komunikasi, Pak Kades memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan masjid dan menggali 2 lubang di pemakaman desa. Pak Kyai berulang kali terdengar mengucapkan kalimat istighfar secara lirih. Matanya menerawang ke langit-langit rumah. Selesai memberi instruksi, Pak Kades mengajak Pak Kyai pindah ke teras. Reza berbisik di telinga saya, minta tolong di buatkan kopi untuk Pak Kades dan Pak Kyai. Saya mengajak Hanny menemani ke dapur. Selesai membuat kopi untuk dan mengantarkan ke teras, kami di kumpulkan di ruang tengah. Reza mengupdate kami peristiwa di rumah Mak Unyeh.

Setelah memastikan situasi rumah aman, kami berempat masuk ke dalam rumah. Miftah dan kedua hansip berjaga-jaga di luar. Pak Mantri langsung memeriksa kondisi Mak Unyeh, Teh Siti dan bayi mungil yang belum sempat diberi nama. Ketiganya di pastikan sudah meninggal dunia. Di sekeliling jenazah tidak di temukan genangan darah, obat serangga, atau barang-barang yang bisa menyebabkan kematian. Namun, di lengan kanan Mak Unyeh di temukan 2 titik kecil berwarna merah yang mencurigakan.

Titik kecil yang sama di temukan di betis kiri Teh Siti. Pada si bayi, di temukan pada paha kanannya. Dua titik kecil ini mirip dengan bekas patukan ular. Pak Kyai kemudian meminta kami membaca Al Fatihah demi ketenangan almarhumah. Beliau lalu menutup mata dan mulut Mak Unyeh dan Teh Siti. Pak Kyai meminta jenazah di makamkan secepat mungkin karena ada yang tidak wajar pada kematian ketiganya. Pak Kades agak keberatan. Menurut Pak Kades, lebih baik menunggu suami-suami mereka datang dari kota.

“Mereka tidak akan datang,” tegas Pak Kyai. Kami kaget mendengar ucapan Pak Kyai. “Semoga saya salah. Tapi Insya Allah, firasat saya bilang mereka tidak akan datang,” lanjut Pak Kyai. “Kematian Mak Unyeh, Siti dan anaknya sepertinya di sebabkan oleh sesuatu yang tidak biasa. Bapak bisa lihat, mata dan mulut Mak Unyeh dan Siti terbuka lebar. Mereka seperti melihat sesuatu yang sangat menakutkan sesaat sebelum kematian. Di tambah lagi ada 2 titik kecil yang mencurigakan. Lagi pula kalau harus menunggu suami mereka pulang, kasihan arwah Mak Unyeh, Siti dan anaknya,” tambah Pak Kyai.

Mendengar penjelasan Pak Kyai, Pak Kades pun menyetujui pemakaman di laksanakan secepat mungkin. Pemakaman Teh Siti, bayinya, serta Mak Unyeh di lakukan dini hari itu juga, di pimpin langsung oleh Pak Kyai. Ada sekitar 20 orang yang menghadiri pemakaman, termasuk saya dan 5 anggota tim KKN lainnya. Usai prosesi pemakaman, rombongan pengantar bersiap-siap untuk pulang. Dengan hati-hati kami berjalan di antara nisan. Kami juga harus menghindari genangan lumpur di sana sini akibat hujan lebat semalam.

Tiba-tiba terdengar suara mirip ledakan yang cukup keras dari tengah komplek makam. Semua orang terkejut sekaligus ketakutan, khawatir ada ledakan susulan. Satu-satunya orang yang tetap tenang hanya Pak Kyai. Beliau berdiri tegap. Wajahnya menghadap ke arah 2 makam yang baru saja selesai di tutup. Jemarinya terus bergerak meniti butiran tasbih di tangan kanan.

Mendadak muncul asap tipis (awalnya saya mengira itu adalah kabut yang terkena sinar lampu senter) dari 2 makam yang baru saja kami tinggalkan. Asap itu kemudian bergerak ke arah pintu masuk komplek pemakaman. Aneh, karena saat itu sama sekali tidak ada angin. Asap tersebut bergerak seperti seekor ular yang sedang melata. Mata kami mengikuti terus kemana arah asap bergerak. Sayang, pekatnya malam seolah menelan asap dan kami kehilangan jejak.

Pak Kyai memanggil kami berkumpul kembali. Beliau meminta makam di gali lagi. Selapis demi selapis tanah di gali. Perlahan, kayu padung penutup liang lahat mulai muncul. Setelah semua kayu padung terlihat, Pak Kyai meloncat masuk ke dalam lubang makam dan berdoa. Beliau lalu mengangkat 2 lembar kayu padung di bagian paling atas dan meletakannya di sisi kanan. Pak Kyai kembali menengadahkan tangan, memohon perlindungan Allah SWT.

Usai berdoa, beliau berlutut dan membungkuk, mendekati jenazah Mak Unyeh. Perlahan, kain kafan mulai di buka. “Masya Allah! Astaghfirullahal adzim!” Semua yang hadir berteriak kaget. Dari balik kain kafan muncul batang pisang. Ya, betul batang pisang. Pak Kyai merapikan kembali kain kafan Mak Unyeh, lalu pindah ke makam Teh Siti. Prosesi yang sama di ulangi sekali lagi. Hasilnya pun sama. Alih-alih wajah Teh Siti, kami kembali melihat batang pisang dari balik kain kafan.

Pak Kyai memerintahkan makam kembali di tutup. Sambil memandangi butiran tanah mengisi lubang makam Mak Unyeh dan Teh Siti, saya membacakan Al Fatihah dan Al Ikhlas untuk mereka bertiga. Semoga arwah mendapat ketenangan dalam istirahat abadinya. Para penggali kubur masih menimbun makam dengan tanah ketika samar-samar telinga saya menangkap suara derap langkah kuda. Saya menatap Reza dengan pandangan bertanya, apakah dia juga mendengar yang saya dengar.

loading...

Reza mengangguk kecil. Dia juga mendengar. Seseorang mendadak berteriak seraya menunjuk ke pintu masuk komplek pemakaman. “Eta. Eta naon?!” (itu apa?!). Kami sontak memandang arah yang di tunjuk. Dari tengah keremangan dini hari, muncul bayangan 2 ekor kuda. Di punggung kuda, masing-masing 2 orang. Satu orang penunggang dan satu orang yang duduk di belakang penunggang. Tunggu. Di kuda yang terakhir, penumpangnya terlihat seperti menggendong bayi dalam pelukannya. Kedua kuda tersebut langsung melesat, seolah terbang, dan menghilang dari pandangan kami.

Pak Kyai mengumpulkan kami dan berpesan agar apa yang kami alami dan lihat barusan bisa menjadi pelajaran. Beliau juga berpesan jangan menambah-nambahi kejadian malam ini dengan bumbu-bumbu cerita yang tidak perlu. Namun, jauh lebih baik lagi jika tidak membicarakannya. Kasihan para almarhumah, tidak perlu lagi menambah penderitaan mereka.

Kejadian itu sangat membekas di benak kami, bahkan setelah bertahun-tahun kemudian. Ketika reuni untuk pertama kalinya, sekitar 5 tahun sesudah kelulusan, hal pertama yang kami kenang adalah tragedi keluarga Mak Unyeh. Beredar kabar bahwa Mak Unyeh, Siti dan sang bayi menjadi tumbal pesugihan yang dilakukan oleh suami-suami mereka.

Pesugihan apa namanya, kami tidak tahu, dan tidak tertarik ingin tahu. Hanya saja, sampai acara tahlilan 7, 40 dan 100 hari, baik suami Teh Siti maupun suami Mak Unyeh, tidak pernah datang. Bahkan, mereka tidak pernah lagi muncul di desa tersebut.

KCH

Tyra

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

Tyra has write 2,694 posts