Salah Jalan

Selamat malam KCH, berjumpa lagi dengan saya john sudah lama jarang update cerita. Kali ini ada sebuah kisah berjudul “salah jalan”, banyak dari kamu jika sering melewati jalan yang sama kamu pasti akan hapal dengan jalan tersebut, tapi akan berbeda jika kamu berbicara sembarang di jalan tersebut. Penasaran dengan kisahnya? dan sebelum membaca cerita ini, saya ingin mengingatkan kembali pada malam ini, untuk “Jangan pernah baca ini sendirian” dan jangan lupa like FP fanspage Facebook Cerita Hantu dan kirim juga komentar kamu di FP tersebut.

Namaku Dira, akhir-akhir ini aku baru saja mempunyai kenalan baru namanya Rini. Aku berkenalan dengan rini di sebuah tempat, sampai akhirnya kita bertukar nomor handphone dan mulai jalan berdua. Hari itu, pertama kalinya aku mengantarkan rini sampai ke rumahnya. Dengan motorku aku mengantarkan rini menyusuri sebuah jalan yaitu, Cijerah. Dan akhirnya, masuk ke jalan lain yang rini sebut itu parmindo.

Saat itu malam hari sekitar pukul 10 malam lewat. Setelah melewati jalan yang berbelok-belok, akhirnya kamipun sampai. Rini sempat mengucapkan pamit kepadaku dan dia tidak lupa juga bertanya kepadaku “apakah aku hapal jalan pulang” dan aku menjawab “aku hapal”.

Jujur aku termasuk orang yang cepat hapal dengan jalan, meskipun aku baru pertama kali. Hal ini terbukti malam itu aku pun pulang dan sampai ke rumahku. Hari-hari berikutnya, aku pun jalan dengan rini dan mengantarkan rini pulang seperti biasanya, dan sampailah pada hari itu. Aku ingat sekali saat itu hari senin, aku dan rini baru saja pulang dari nonton.

Kami berdua nonton film hantu yang saat itu sedang banyak di bicarakan, rini memang orang penakut. Dia selalu menutup mata dan hasilnya selama perjalanan pulang, aku menakutinya terus. Aku bercerita hantu yang ada di Bandung dan mitos-mitos yang ada. Rini pun sempat marah karena aku menakutinya terus, kira-kira jam 10 malam aku sampai di depan rumah rini. Setelah berpamitan, aku pun segera pulang.

Aku pun melaju santai menuju keluar komplek, tapi ada yang janggal ketika aku berbelok di belokan yang biasa aku lewati. Suasananya nampak berbeda, aku melajukan motorku mencari belokan yang biasa aku lewati sampai setelah cukup jauh. Aku baru sadar, pemandangan komplek ini cukup asing bagiku. Belokan yang seharusnya aku belok tadi itu tidak jauh dari tempat keluarku tadi, tapi kenapa tidak ada ya.

Kali ini yang aku lihat hanyalah jalanan komplek yang sepi, kiri dan kanan nya ada beberapa rumah dan terlihat juga beberapa mobil terparkir di halaman rumah dan ditutup terpal hitam. Sepanjang jalan ini hanyalah jalanan yang lurus, tidak ada belokan kiri dan kanan. Aku terus melajukan motorku sampai ke ujung jalan, tapi sepertinya jalan ini tidak ada habisnya.

Kulihat makin jauh, perumahan nya makin habis. Terlihat beberapa tanah kosong dan portal, aku ingin bertanya kepada orang tapi disana sama sekali tidak ada siapa-siapa. Satpam atau tukang jualan pun tidak ada, jalanan nya sangat sepi sekali bahkan kendaraan yang lewat pun tidak ada. Seperti komplek yang tidak berpenghuni, setelah cukup jauh aku pun berputar balik.

Untuk memutuskan kembali ke rumah rini, jalanan yang tadi aku lewati aku ingat baik-baik dan ketika aku mencari jalan belokan ke arah rumah rini. Belokan itupun tidak ada, ketika aku memutar balik dan semakin jauh aku melaju, belokan itu tidak ada. Padahal aku ingat sekali jalan yang aku lewati sebelum aku pergi dari rumahnya rini.

Jalanan ini makin asing buatku, disana aku mulai sedikit ketakutan. Kali ini aku mau menembus jalan ini, aku melajukan motorku dan ingin tau sampai mana jalan ini membawaku. Dan tiba-tiba saja, malam itu air hujan mulai menetes ke wajahku, semakin lama semakin membesar. Hujan pun turun, tidak begitu besar tapi gerimis yang sangat banyak. Aku melajukan motorku agak kencang kali ini, dan tidak jauh aku menemukan jalan bercabang.

Aku tengok kiri dan kanan, masih tidak ada siapa-siapa. Feelingku mengatakan aku harus memilih jalan yang arah kanan, akhirnya aku pun memutuskan mengambil jalan itu. Semakin melaju, bukan nya semakin ramai malah jalan itu semakin sepi. Hanya lampu-lampu jalan saja yang menerangi remang-remang jalan yang sudah basah terkena hujan saat itu. Lama-lama motorku berguncang, jalanan yang tadi mulus kini masuk ke jalanan yang rusak dan berbatu.

Dan sebelah kiri dan kananku saat itu terlihat sebuah hamparan sawah yang sangat gelap. Jantungku berdegup kencang saat itu, aku tidak sempat berpikir untuk memutar balik apalagi berhenti. Bulu kuduk ku mulai berdiri, sedikit demi sedikit tercium bau kemenyan yang semerbak di jalanan itu. Aku ingin sekali menancap gas motorku untuk cepat keluar dari jalanan ini, tapi jalan yang berbatu dan licin membuat motorku harus melaju pelan saat itu.

Setelah cukup jauh, sawah yang berada di kiri dan kananku berubah menjadi lahan-lahan yang kosong. Dan terlihat seperti kebun pisang, banyak sekali pohon pisang berjejer di kiri dan kananku dan tidak lama, didepanku kiri dan kanan nya menjadi sebuah benteng-benteng yang cukup besar. Berupa tembok berwarna putih yang agak sedikit kusam. Dan disana sama sekali tidak ada penerangan, sangat gelap dan hanya lampu motorku saja yang menjadi penerang jalanku.

Dan, aku semakin ketakutan ketika di depanku. Aku melihat sejajaran kereta kuda tanpa kuda yang berjejer di kiri dan kananku, dan jumlah kereta itu tidak hanya satu tapi berjumlah banyak dan berjajar di sepanjang jalanan ini. Di sertai bau kemenyan yang tidak pernah ada habisnya, membuat bulu kuduk ku berdiri. Di tengah rasa ketakutanku itu, tiba-tiba saja aku mendengar suara langkah kaki, bukan langkah kaki manusia tapi suara langkah kaki kuda.

Dan disertai bunyi lonceng, lalu tidak lama semakin jelas terlihat. Aku tersentak, dari kejauhan datang sebuah kereta kuda melaju berlawanan dari arahku. Aku semakin dekat dengan kereta kuda itu, dan aku bisa melihatnya dengan jelas karena sorotan dari lampu motorku. Sebuah kereta dengan kuda berwarna cokelat besar dan di dalam kereta itu menatap ke arahku seorang kusir yang memakai baju adat kerajaan zaman dulu dan di dalam terlihat seorang wanita memakai kebaya berwarna hijau.

Mengenakan sanggul dan make up yang sangat menyeramkan, mereka menatap ke arahku dengan tatapan kosong dan aku langsung membuang muka. Kereta kuda itupun berlalu, ketika aku melihat dari arah spion motorku ternyata kereta kuda itu sudah tidak ada. Aku langsung menancap gas motorku sekencang yang aku bisa, aku sudah tidak peduli jalanan berbatu dan rusak. Tapi sekencang-kencangnya motorku melaju, aku merasa motorku tidak bertenaga.

Terasa sangat berat dan tidak bisa melaju dengan cepat. Sampai akhirnya, tiba-tiba aku menghentikan motorku. Bulu kuduk ku berdiri dari ujung kaki sampai ujung rambut, dan ketika aku tidak bisa lagi melajukan motorku. Karena ketika lampu motorku menyorot ke arah depan jalanan, di tengah jalan itu tidak jauh dariku sekarang berdiri seorang wanita.

loading...

Wanita itu berdiri membelakangiku, rambutnya sangat panjang dan lurus sampai ke lutut. Memakai gaun putih, dan gaun nya itu sangat panjang sampai menutupi kakinya. Dan kepalanya terlihat melenggak lenggok, aku pun melaju dengan motorku perlahan. Melewati sosok wanita itu tanpa mencoba untuk melihatnya lagi, pelan-pelan aku melewati sosok wanita yang berdiri di sisi jalan itu. Sampai ketika aku akan melewati sosok wanita itu, tiba-tiba saja wanita itu menengok ke arahku.

Dan dia berkata “kenapa? takut yah? *hihihi”…

Tanpa pikir panjang aku langsung menancap gas motorku, aku tidak tau kenapa mendadak jalanan ini kini menjadi semakin ramai. Aku lihat kiri dan kanan nya adalah pabrik, dan sampai akhirnya aku menemukan sebuah jalan yang memang ramai banyak kendaraan dan lalu lalang orang-orang. Tanpa melihat lagi ke belakang, aku langsung mencari jalan pulang menuju ke Bandung.

Ketika aku melihat salah satu plat toko, ternyata aku sudah sampai di cimahi selatan. Kebingunganku tak ingin aku jawab, aku melaju sampai bandung dan sekitar jam 11:30 malam aku sampai di bandung. Sampai di rumahku, aku menelpon rini dan langsung cerita. Namun rini tidak percaya aku bisa sampai kesana, karena setiap mengantarkan nya aku tidak pernah salah jalan. Aku pun tidak percaya tapi lanjut rini bilang kalo memang tidak aneh bahwa ada cerita mistis di kompleknya itu.

Kalo sudah larut malam, memang kompleknya bisa dibilang angker. Begitu katanya, atau mungkin aku juga yang sompral (bicara sembarang) karena sudah menakuti rini di daerah komplek itu. Dan yang jelas ini pengalaman yang tidak pernah akan aku lupakan.

*Sumber : ardan nightmare side.

Share This: