Salah Sangka

Hai hallo sobat KCH, dengan gina here. Kali ini aku akan bercerita lucu walau akhirnya ngeri ceritaku ini ngeri-ngeri sedap gitu lah. Kejadian ini aku dan Tyo akan ingat selalu dan kalau teringat pasti bisa tertawa terpingkal-pingkal (ku rasa nenek dan ibu itu juga) *hehe. Mulai saja ya. Jadi waktu 2015 aku lagi ada masalah dengan cowok, bukan apa-apa ya tapi karena ada jin (bisa nyamar jadi ganteng) yang dekat sama aku dan suka sama aku.

Jadi bila ada cowok yang samperin atau aku pacaran sama cowok lain, jin itu akan marah dan akan nakut-nakutin cowok-cowok yang dekat sama aku. Jadi mereka semua pada kabur *bur. Akhirnya setelah di bersihkan sama kakek To’i, jin itu pun hilang entah ke mana (mau cari cewek baru kali) *hihi.

Lalu yang akan aku bagi bukan setelah itu jin-nya bakal kemana, bukan ya? Tapi ini dengar ya ceritaku. Setelah di bersihkan sama kakek To’i, kira-kira dua bulan kemudian mama dan papa ngajak aku ke rumah om Rio di Binjai, katanya sih mau main-main tapi setelah aku dengar pembicaraan mereka berdua semalam sekalian aku mau di kenalkan dengan anaknya yang seorang Arsitek. *Wih dan juga ganteng *wow.

Jadi setelah sampai di rumahnya om Rio di binjai, kebun lada tepat jam 8 malam aku, mama dan papa dapat sambutan baik dari mereka dan dapat sambutan hangat dari nasi hangat, sop hangat, teh hangat, ayam panggang hangat dan tentunya pelukan hangat (bercanda). Jadi singkatnya setelah ngobrol banyak tentang kejadianku, niat mereka yang di hiasi tertawa *haha, haha, *hihi, hihi, tiba-tiba om Rio menyuruh anaknya Tyo untuk ngajak aku keluar rumah melihat pemandangan sekitar.

(Alasan! Padahalkan sudah malam, apa yang mau di lihat) dan dia pun mengajak aku. Kami pun keluar, kami ngobrol gila-gilaan sampai gak sadar kalau kami sudah berada jauh dari rumah dan berada di daerah yang semak, banyak pohon dan agak gelap. (Karena binjai apalagi di Kecamatan kebun lada pasti masih banyak banget pepohonan, ilalang dan persawahan. Istilahnya alamnya belum rusak dan penerangan rumah masih jarang).

Jadi gak sengaja asiknya ngobrol, aku pun baru tersadar dan bilang ke Tyo “yo yo, kita ada di mana nih?” ternyata Tyo juga baru tersadar “*hm iya ya, dimana ini. Malah gelap lagi”. Walah, dia yang tinggal di daerah sini saja gak tahu dimana, apalagi aku. Aku rasa karena dia lagi dekat denganku, sampai-sampai linglung *hehe dan tiba-tiba terdengar dari semak yang ada di seberang jalan sebelah kami *srek, srek, srek, kami spontan terkejut.

Kemudian kami dengarin lagi suara itu dan *srek, srek, srek seperti ada sesuatu, dan tiba-tiba Tyo melihat ada putih-putih katanya di antara pohon (kalau gak salah pohon duku) dan pohon pisang. Setelah aku lihat ternyata iya putih-putih. Karena Tyo tau kalau aku seorang indigo jadi di tanyanya apa betul itu pocong, karena aku lihatnya begitu aku jawab saja iya, padahal aku belum tahu pasti.

Tyo mengajak aku untuk lari bersama, tapi aku tolak karena kalau kita lari di saat ketahuan sama pocong, kita bakal bisa di kejarnya (kecuali gak ketahuan) akhirnya aku suruh untuk jalan pelan-pelan supaya dia gak ngejar. Tapi sewaktu kami jalan pelan-pelan, sang pocong malah semakin cepat disitu aku mulai membaca ayat kursi and friends, si Tyo juga ikut baca doa-doa pendek sampai tanpa sadar kala itu ia baca doa mau tidur.

loading...

Ah! (Itu aku yang sadar kalau dia baca doa mau tidur. Macam betul saja) dan makin cepat ke arah kami, (Tyo pun semakin berkeringat dingin) dan pas dekat. Ah kami berdua menjerit bareng, gak biasanya kan makhluk halus kalau di kasih doa gak mempan jadi aku kira pocong ini kuat banget ilmunya. Waduh! ternyata bukan pocong, tapi seorang nenek-nenek yang pakai *telekung. Astagfirullahaladzim ya Allah nek. “Alhamdulillah, bukan pocong” kata si Tyo.

Nenek itu yang melihat kami yang sudah pucat, terheran-heran dan bertanya dengan santainya (aku gabungin semua pertanyaannya ya. Biar cepat) “Adik-adik ini kenapa? Dari mana? Malam-malam kok disini? Kok baca doa segala? Saya bukan pocong”. Ya ampun nek, sadar diri *kale. Lihat tuh Tyo, nafasnya tinggal seperempat. Kami kemudian menjelaskan semuanya dan nenek itu mengerti, ternyata kami sudah salah sangka.

Kemudian kami tanya kenapa malam-malam nenek pakai mukena, di semak-semak lagi. Terus si nenek bilang kalau dia habis pulang dari masjid, kan shalat isya sudah dari tadi ? Terus katanya dia itu di masjid doanya panjang sekaligus sekalian mengaji jadi agak telat pulang. “Oh” jawab kami. Arah yang paling dekat dari masjid ke rumahnya ya arah situ tadi, semak-semak. Walau resikonya gede. Apa mau di kata.

Lagi enak-enaknya ngobrol, aku kemudian refleks bilang sama si nenek (karena waktu itu aku lihat ada putih-putih kayak si nenek juga di semak-semak) “Nek, kalau jalan, temannya tuh jangan di tinggal. Kan kasian?” dengan terkejut nenek itu jawab “Apa dek, teman? Nenek jalan seorang diri, gak bawa teman”. Kemudian dengan refleks lagi aku menjawab dan nunjuk ke arah yang aku maksud “*hm jadi nek, yang disitu siapa?”.

Kata Tyo “itu pocong.” Dengan serempak mereka berdua (Tyo dan nenek) menjawab berteriak “Pocong!” mereka kemudian lari ambil langkah seribu jurus lupa deh sama aku, “*woi. Woi tungguin!” sudah teriak pun, gak ada yang dengar. Karena aku sudah biasa lihat pocong jadi aku stand saja disitu dan ku lihatin lagi tuh pocong dan kayaknya kurasa memang pocong. “Kalau ini sih memang benar-benar pocong”. Dan aku pun bersiap untuk lagi ambil langkah seribu juga.

Tapi pas aku sudah mulai sedikit lari, aku mendengar ada suara orang yang manggil “eh dik. Dik, tunggu”. Dan ku lihat. Weleh-weleh. Emak-emak rupanya pakai mukena. Sama kayak nenek tadi. Oh my god. Dua kali di kibuli sama orang tua. Emak itu pun tanya ke aku dengan pertanyaan kurang lebih sama kayak nenek tadi terus aku jawab pun sama kayak nenek tadi dan rupanya emak itu alias ibu itu adalah anaknya nenek.

Nenek itu sudah pikun lupa kalau bawa anak jadi dia ditinggal sendiri sama nenek. Aku pun tertawa terbahak-bahak. Lagi enak-enaknya ngobrol kemudian ku lihat lagi di semak itu dan ada lagi yang putih-putih dan berdiri di sebelah pohon pisang. Aku bilang saja sama ibu itu “temannya kok di tinggal?”.

Dengan kaget ibu itu jawab “Waduh dik, yang di masjid tadi tinggal ibu dan nenek. Gak ada orang lain lagi” jangan-jangan itu “pocong”. Semoga kalian gak pernah mengalami dengan yang aku alami ya. Bukan karena takutnya. Tapi karena pusing, *hehe. The end.

Fiolin Fradah

Sezgina Fradah

Thank you for reading my stories. Thank you for liking my stories Thank you so much... Terimakasih,Thank you,Arigato gozaimasu, kamsahamnida,Xie-xie,Merci bien,Dankejewel,Matur nuwun,Tarimo kasih,Hatur nuhun,Bujur...

All post by:

Sezgina Fradah has write 89 posts