Sanatorium Beelitz Heilstatten

Kota bersejarah Beelitz berlokasi di Potsdam selatan, Brandenburg, Jerman. Pada tahun 1247, ketika gereja paroki Saint Mary and Saint Nicholas sudah berada di sana, penduduknya masih sekitar 11.000 orang. Namun berangsur-angsur bertambah karena gereja ini menjadi tempat ziarah sehingga Beelits mulai semakin padat. Di akhir tahun 1800 an, ketika Berlin terjangkit wabah penyakit, penduduk Beelitz semakin banyak bertambah dengan cepat.

Ketika pada akhirnya wabah Tuberculosis (TBC) melanda, seorang arsitek Heino Schmeiden menggambar sebuah rencana untuk membuat sebuah tempat di mana ada ruang perawatan (sanatorium) untuk mengkarantina dan merawat penderita penyakit. Beelitz Heilstatten merupakan nama ruang perawatan dan juga kompleks daerah kota di mana tempat itu didirikan. Bangunan sanatorium itu berdiri dengan beberapa kamar yang dapat menampung sekitar 600 tempat tidur dan balkon yang mengalirkan udara terbuka sehingga pasien bisa menikmati udara bersih yang mana merupakan dasar dari perawatan penderita TBC.

Dalam beberapa tahun kemudian, banyak bangunan kemudian didirikan di tempat ini untuk mendukung pengobatan. Bangunan-bangunan seperti sebuah kota yang baru bagi tempat ini rumah makan, kantor pos, penjual roti, pemotongan daging, rumah tanaman, bahkan sebuah pembangkit tenaga didirikan. Pada awal Perang Dunia I, sanatorium tersebut digunakan sebagai rumah sakit militer untuk tentara-tentara Jerman. Di rumah sakit ini banyak orang dirawat karena pertempuran termasuk Adolf Hitler yang ketika itu masih berusia 27 tahun. Dia terluka dalam Pertempuran Somme oleh sebuah ledakan, melukai pahanya.

Hingga akhir Perang Dunia II pihak Soviet menguasai rumah sakit ini dengan Red Army nya hingga tahun 1995. Setelah itu, beberapa bangunan dari kompleks ini digunakan sebagai pusat riset dan perawatan bagi orang-orang penderita Parkinson dan sebagian bangunan lain lagi dikuasai pribadi setelah direnovasi. Sisanya dibiarkan terbengkalai dan perlahan-lahan rapuh. Hari ini bangunan-bangunan kosong itu merupakan tempat yang ramai pengunjung, pemburu hantu, atau siapapun yang tertarik dengan sejarahnya.

Beberapa fasilitas rumah sakit masih dibiarkan begitu saja dalam bangunannya, pelan-pelan rusak, seperti kursi uji, lampu bedah, ranjang dan perabotan lainnya yang mengingatkan pengunjung pada aktivitas-aktivitas yang pernah terjadi di sana. Tidak ada yang tahu berapa banyak nyawa telah melayang di balik tembok bangunan-bangunan yang ada di sini. Suatu waktu, pembunuhan berantai juga terjadi di sekitar tempat ini. Pembunuh itu menghabisi nyawa korbannya di dalam hutan yang berada di dekat daerah rumah sakit tersebut.

loading...

Diperkirakan ada ribuan nyawa telah melayang di sekitar tempat ini termasuk pembunuhan berantai itu. Pembunuhan lain yang terjadi di tempat ini, terjadi di tahun 1998 ketika seorang fotografer memancing seorang modelnya untuk masuk ke dalam rumah sakit tua ini dan memukulnya hingga tewas tepat di pintu gerbang bekas sanatorium. Pembunuh itu kemudian melakukan aktivitas necrophilia terhadap para korbannya.

Karena sejarahnya yang panjang dan kelam, beberapa cerita hantu pun berkembang dari tempat ini seperti suara-suara yang biasa terdengar dari dalam bangunan-bangunan tua seperti ketika penjaga melakukan pemeriksaan dadakan, pintu-pintu yang terbuka kembali ketika mereka baru saja menutupnya, atau gagang pintu yang dipegang oleh tangan yang tak kasat mata pelan-pelan membuka pintunya namun tak seorangpun ada di sisi satunya.

Salah satu cerita paling menarik terjadi kepada seorang gadis keturunan Jerman bernama Anne, yang mengunjungi tempat ini beberapa tahun yang lalu. Saat itu dia masih berusia belasan tahun, ketika dia dan keempat temannya mendengar kabar dari bangunan rumah sakit tua ini dan akhirnya memutuskan untuk memeriksanya sendiri. Beberapa ruangan mudah dimasuki tapi beberapa sedikit sulit tapi mereka berhasil melewatinya.

Ketika mereka berada di salah satu ruang bedahnya yang sudah tua, Anne mendengar seseorang memintanya untuk mengambil sebuah pisau bedah. Permintaan ini diucapkan dalam bahasa Jerman. Dia menoleh ke teman-temannya untuk menanyakan mengapa mereka membutuhkan pisau bedah tapi tak seorangpun berada di sana teman-temannya telah pergi. Berikutnya dia mendengar mereka berteriak memanggil namanya dan ketika menemukannya, mereka juga menceritakan kejadian-kejadian aneh yang mereka alami.

Mereka semua pergi ke ruang bedah itu dan setelah melihat-lihat beberapa menit di dalam, mereka semua keluar. Bersama-sama mereka mengunjungi ruangan lainnya selama sekitar satu setengah jam, lalu salah satu dari mereka menyadari bahwa Anne tidak bersama mereka lagi. Hal yang paling aneh adalah teman-temannya bersumpah bahwa dia langsung muncul tepat saat mereka memanggil namanya ketika mereka menyadari dia tidak ada di sana Anne sendiri berada di dalam kira-kira satu menit saja.

Anne tidak meninggalkan ruang bedah itu dan tidak pergi ke ruangan lainnya, tapi dia tahu dirinya hanya sendiri di ruang bedah sudah sekitar satu setengah jam tapi baginya terasa hanya beberapa menit saja. Kejadian itu sebelum dirinya dimintai sebuah pisau bedah oleh seseorang yang tidak dapat dilihatnya, sebelum akhirnya dia menyadari bahwa dia tengah sendiri dalam ruangan itu.

KCH

KCH

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

KCH has write 2,670 posts