Santai yang di Ganggu Pocong

Hai jumpa lagi sobat KCH dengan saya Fajar Apriyanto dan ini post ke-3 saya KCH. Kali ini saya akan menceritakan tentang pengalaman saya di taman dekat SDN Palu Emas (Dekat Pabrik Karton). Awal mula semua ini saya dan teman saya (Firdaus) ingin membeli terang bulan (martabak manis), pada saat itu kami antri panjang dan memutuskan untuk pergi sejenak untuk menunggu antrian.

loading...

Kami pergi ke taman baru dekat pabrik karton yang bertepatan di tengah-tengah taman SDN Palu Emas. Kami pun sampai kesana, awalnya 10-15 menitan baik-baik saja dengan obrolan yang menghibur di hati, tapi saat kami semua kehabisan kata-kata lawakan semua berubah mencekam. Seketika saya melihat semak belukar di samping SD tersebut, semak tersebut layaknya di goyang-goyangkan dan saya yakin itu bukan hewan karena bagaimana ada hewan bisa menggerakan semak belukar setinggi dan selebat itu secara bersamaan ke kanan dan ke kiri.

Saya pun mengambil pandangan waspada dan berharap tidak terjadi apa-apa disitu, na’as saat kita bersantai sambil tidur-tiduran saya melihat dari arah mushola kain putih yang terbang ke arah SD itu berada. Ku pandangi itu kain dan memperjelasnya dan ternyata membentuk pocong, ia menggunakan pakaian serba putih dan terbungkus layaknya lontong (pocong).

Saya memberanikan diri melirik dan ya! Itu pocong! Benar-benar pocong! Tapi nampak hanya tubuh bagian atasnya saja (karena kakinya di tutupi oleh semak belukar yang tinggi tadi). Dia mengambang menuju SD tersebut secara perlahan dengan membungkuk seperti orang cacat gitu. Saya beranikan diri melihatnya lagi dan dia berada tengah bagian atas semak-semak tersebut! Saya berdiri tegap menghadap Daus dan bilang.

“Us, ke terang bulan yuk, mungkin sudah sepi tuh” kataku sambil gemetar.
“Bentar *dong, baru saja sampai masa balik lagi” tanyanya sambil bermalas-malasan.
“Gak usah banyak omong lu, aku sudah lapar nih” seruku dengan nada gagap ketakutan.
“Aneh kamu ini jar, baru saja sampai minta balik, nanti kalau masih ramai minta balik lagi” jawabnya.

“Cepetan US! Pocong Us! Pocong di mushola!” jengkel karena temanku gak mau balik.
“Mana jar? Mana?” sambil berdiri memasukan kontak ke motor dan tengok kanan kiri.
“Itu di semak-semak, sudah jangan bahas lagi lo bisa cepat gak?” bentaku.

Dia langsung men-starter motor dan menancap gas kencang keluar taman itu, saya melihat ke belakang bahwa itu pocong masih jalan santai menuju SD tanpa memperdulikan keberadaan kami. Sesampainya di terang bulan saya cerita tentang apa yang saya alami tadi, tapi anehnya dia tak lihat apa-apa disana.

Di sana aku mulai tenang dan mengambil pikiran positif, mungkin itu hanya imajinasiku karena kelaparan, tapi di hati saya berkata beda karena itu nampak asli dan nyata bahkan saya masih ingat sampai sekarang bentuknya. Mungkin itu yang bisa aku ceritakan dalam kisah ini. Mohon maaf sebelumnya kalau bahasanya agak berantakan (maklum teringat kejadian itu).